100 Peribahasa & Artinya, Santun Penuh Makna

Peribahasa adalah cara santun berbahasa.  Berikut 100 Peribahasa & artinya, santun penuh makna.  Digunakan untuk menggambarkan suatu hal, kejadian, atau kondisi seseorang secara tidak langsung.  Hal ini berkaitan dengan mindset masyarakat Indonesia pada umumnya yang sering dipenuhi pakewuh atau perasaan tak enak hati jika harus mengatakan terang-terangan.

Gambarannya sebagai berikut:

Tuan A melakukan perbuatan baik.  Faktanya, ia punya tujuan tertentu demi keuntungannya sendiri.    Ketimbang langsung mengatakan bahwa apa yang Tuan A berniat buruk, beberapa orang memilih kalimat, “Ada udang di balik batu.”

‘Ada udang di balik batu’ merupakan peribahasa.  Kalimatnya ringkas dan tidak mementingkan rima.  Sebelum saya tuliskan 100 Peribahasa, lebih baik kita memahami terlebih dahulu, pengertian dan jenisnya.

Apa itu peribahasa?

Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasa mengiaskan maksud tertentu.  Merupakan bentuk karya sastra yang pendek.  Bukan prosa karena tanpa narasi.  Bukan pula puisi karena tidak mengutamakan rima.

Sebagai kalimat yang bermakna kias, peribahasa digunakan untuk berbagai kepentingan.  Diantaranya, menasihati, menyampaikan ajaran hidup, mengkritik, menyindir, dan lain-lain.

Tiga Jenis Peribahasa

1 Pepatah
  Biasanya berisi ajaran hidup, merupakan metode menasihati secara halus, menggunakan bahasa kiasan.  Contoh pepatah yang sangat terkenal adalah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepiah.  Artinya, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
2 Tamsil
  Tamsil digunakan untuk mengkritik, menasihati, atau menyindir.  Biasanya menggunakan pengandaian.  Contoh tamsil yang familiar adalah, habis manis sepah dibuang.
3 Idiom
  Idiom hanya terdiri dari beberapa kata saja.  Digunakan untuk mengungkapkan sesuatu keadaanl

Contoh:  Kambing hitam, keras kepala, naik daun, dan lain sebagainya.

 

100 Peribahasa dan Artinya

Unik dan langka, kita boleh mencoba menggunakan dalam percakapan sehari-hari.  Pasti seru!  100 Peribahasa berikut, santun dan penuh makna.

  1. Ada gula ada semut. Jika ada sesuatu yang menguntungkan dan mendatangkan rizki pasti didatangi banyak orang;
  2. Ada rupa ada harga. Tinggi rendahnya harga tergantung kualitas barang;
  3. Ada laga sekandang. Pertarungan dengan kerabat sendiri;
peribahasa
peribahasa
  1. Adat sirih, hendak makan sepah. Ada yang baik malah mengharapkan yang buruk;
  2. Adat gunung, tempatan kabut. Orang pandai tempat bertanya, orang kaya tempat meminjam;
  3. Angan-angan mengikat tubuh. Terlalu berlebihan dalam berhayal sehingga sulit dimengerti;
  4. Bagai bulan disaput awan. Wajahnya muram atau bersedih hati.
  5. Bagai itik pulang petang. Jalannya sangat lambat;
  6. Bagaikan rama-rama masuk api. Lenyap tak berbekas;
  7. Bagai pelita kehabisan minyak. Tak berseri-seri lagi;
peribahasa
peribahasa
  1. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa dan tutur kata mencerminkan budi pekerti;
  2. Bajak selalu di tanah yang lembut. Penderitaan hanya menimpa orang yang lemah;
  3. Biang menanti tembuk. Perkara yang hampir diputuskan;
  4. Buah jatuh ke pangkalnya. Sifat orang tua menurun pada anaknya;
  5. Buka kulit ambil isi. Perundingan yang terjadi secara terbuka tanpa menutup-nutupi;
  6. Bunga kembang berbalik kuncup. Seseorang yang tidak Amanah, tak dapat dipercaya;
  7. Bunga layu, kumbang berlalu. Ditinggalkan setelah habis guna;
  8. Cacing hendak menjadi ular. Orang lemah ingin menjadi kuat;
  9. Celaka dua belas. Sial bertubi-tubi.
  10. Cepat kaki ringan tangan. Gemar menolong;
  11. Cencang dua segerai. Sekali jalan, dua pekerjaan selesai;
  12. Cerdik-cerdik elang, oleh murai terkecoh juga. Kekuatan fisik akan terkecoh akal cerdik;
  13. Cupak sepanjang betung, adat sepanjang jalan. Diharapkan memuliakan adat;
  14. Dalam berselam, dangkal berjingkat. Orang yang mudah beradaptasi;
  15. Dalam rumah membuat rumah. Cari keuntungan sendiri meski bekerja untuk orang lain;
  16. Daging gajah sama dilapah, daging tuma sama dicecah. Berlaku adil pada siapapun;
  17. Datang tampak muka, pergi tampak punggung. Orang yang pandai menjaga adab dan sopan santun bertamu;
  18. Dahulu timah sekarang besi. Orang kaya yang mengalami kebangkrutan;
  19. Dekat tak tercapai, jatuh tak antara. Sesuatu yang dekat tapi tak tercapai karena tak mampu;
  20. Diam-diam ubi berisi. Orang pendiam tapi banyak ilmunya;
  21. Duduk berkisar, tegak berpaling. Tidak menepati janji;
  22. Di hulu keruh, di muaranya keruh. Awal yang buruk, berakibat akhir yang buruk pula;
  23. Emas berpeti, kerbau berkandang. Simpanlah kekayaan pada tempat yang tepat;
  24. Esa hilang, dua terbilang. Berusaha terus hingga tercapai cita-cita;
  25. Gamak-gamak seperti menyambal. Bekerja setengah-setengah.
  26. Geruh tak mencium bau. Musibah datang tanpa kabar.
  27. Gulai sedap nasi mentah, gulai mentah nasi sedap. Tak pernah merasa puas karena selalu ada kekurangan;
  28. Habis geli karena gelitik, habis bisa oleh biasa. Penderitaan akan dianggap tiada bila telah terbiasa.
  29. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua. Perbuatan baik akan selalu dikenang meskipun yang melakukan telah meninggal;
  30. Hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya. Hilang tak berbekas.
  31. Hendak Panjang terlalu patah. Kesombongan hanya akan mencelakakan;
  32. Ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Orang yang berilmu semakin rendah hati;
  33. Jelatang di hulu air. Sesuatu yang terlampau menyulitkan.
  34. Jiwa bergantung di ujung rambut. Tak jelas nasibnya;
  35. Jadi kain basahan. Orang jadi hina karena jatuh miskin;
  36. Jauh panggang dari api. Mustahil;
  37. Jerat serupa dengan Jerami. Waspada dalam melangkah;
  38. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Pertikaian hanya akan merugikan kedua belah pihak;
  39. Kalau pandai mencencang akar, mati lalu ke puncaknya. Jika mampu mengalahkan pimpinannya, anak buahnya bukan tandingan;
  40. Ke mana angin deras, ke situ condongnya. Mudah terombang-ambing karena lemah pendirian;

    crby: pixabay
    mengikuti arah angin

    “ke mana angin deras, ke situ condongnya”

  41. Kuat burung karena sayap. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing;
  42. Karam berdua basah seorang. Berbuat salah Bersama, yang dihukum hanya seorang;
  43. Ke hulu kena bubu, ke hilir kena tengkalak. Bahaya bisa datang kapan saja;
  44. Katak ditimpa kemarau. Ramai membicarakan sesuatu;
  45. Keras bagai batu, tinggi bagai bukit. Gambaran orang yang susah diatur;
  46. Koyak tanpa bunyi. Keburukan yang tidak diketahui.
  47. Kuning oleh kunyit, hitam oleh arang. Gambaran orang yang mudah dihasut;
  48. Kena sepak belakang. Terjebak kebohongan;
  49. Lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut. Pandai karena belajar secara konsisten;
  50. Lesung mencari alu. Wanita mengejar laki-laki;
  51. Lebih manusia karena akal, lebih burung karena sayap. Hendaknya menghargai kelebihan yang dimiliki;
  52. Lalu ujung lalu kelindan. Jika tujuan utama tercapai, maksud lain terbawa juga;
  53. Membasuh muka dengan air liur. Ingin memperbaiki kesalahan namun menunjukkan aib sendiri;
  54. Menjilat air ludah. Tak punya rasa malu;
menjilat air ludah
peribahasa
  1. Memancing di air yang keruh. Mencari keuntungan dari konflik orang lain;
  2. Mengairi sawah orang. Menguntungkan orang lain;
  3. Mencabik baju di dada. Membebeberkan aib sendiri kepada orang lain;
  4. Menggantang asap, mengukir langit. Mustahil;
  5. Membalik-balik mayat di kubur. Membicarakan hal-hal buruk yang dilakukan oleh orang yang sudah meninggal;
  6. Mengendap di balik lalang sehelai. Menyembunyikan rahasia umum;
  7. Nafas tak sampai ke hidung. Terlalu sibuk hingga tak sempat beristirahat;
  8. Pisang tak berbuah dua kali. Kesempatan selalu datang sekali;
  9. Padi masak, jagung merupih. Mendapat keuntungan berkali-kali;
  10. Pahit-pahitnya obat, manis-manisnya racun. Nasihat itu pahit seperti obat tetapi manis  manfaatnya;
  11. Raja adil disembah, raja lalim disanggah. Raja yang adil disayang, raja yang kejam dibenci;
  12. Rancak di jalan. Orang yang tampak gagah, tapi sebenarnya pengangguran;
  13. Retak menanti belah. Masalah kecil menjadi besar;
  14. Rupa ketan, ditanak berderai. Tampak pandai, padahal bodoh;
  15. Rusak bangsa oleh laku. Meski berpangkat tinggi, jika berperilaku buruk, takkan dihargai;
  16. Seperti abu di atas tanggul. Kedudukannya tak tetap;
  17. Seperti air di dalam kolam. Orang yang berkepribadian tenang;
  18. Seperti disalak anjing bertuah. Sesuatu yang mendesak, tak dapat lagi ditunda;
  19. Searah bertukar jalan. Tujuannya sama, berbeda jalan meraihnya;
  20. Sudah dianjung, dihempaskan. Setelah dipuji, dijatuhkan atau dihina;
  21. Suaranya membelah bumi. Suaranya lantang sekali.
  22. Seperti cacing kepanasan. Orang yang terlihat gelisah;
  23. Seperti elang menyongsong angin. Pantang hadapi bahaya;
  24. Sebut aku pasti datang, sebut dia penantian. Hendaknya memanfaatkan yang sudah ada;
  25. Tabir sudah menggantung, tikar sudah digelar. Segala sesuatu sudah dipersiapkan;
  26. Tanam cempedak, tumbuh nangka. Mendapat rezeki berlimpah;
  27. Tak usah itik diajar berenang. Percuma mengajari yang sudah pandai;
itik
peribahasa
  1. Tiada air sungai mengalir ke hulu. Perbuatan orang tua tak akan terbalas oleh anaknya;
  2. Ubun-ubun masih bergerak sudah angkuh. Orang yang muda belum berpengalaman, tapi sudah sombong;
  3. Ular menyusur akar. Merendahkan diri sendiri tapi tidak menurunkan martabanya;
  4. Usul menunjukkan asal. Kita tahu asal usul seseorang dari kebiasaannya;
  5. Yang sesukat, takkan jadi segantang. Sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan, takkan berubah;
  6. Yang elok rupa, yang elok bahasa. Kemuliaan seorang wanita terlihat dari kecantikan perilakunya;
  7. Yang dimakan rasa, yang dilihat rupa. Kalau sudah ada bukti, orang baru percaya;
  8. Zaman beralih, musim berganti. Segala sesuatu harus disesuaikan zaman;
  9. Zikir-zikir saja, jatuhkan rezeki dari langit. Sindiran orang yang berzikir saja tanpa mau berusaha;

Penutup

Asyik bukan, menggunakan peribahasa ketika bercakap-cakap?  100 peribahasa di atas patut dicoba.  Mengatakan sesuatu tidak secara langsung, tapi menggunakan perumpamaan-perumpamaan.  Sebenarnya masih banyak lagi peribahasa lainnya.  Beberapa memiliki makna yang sama namun disampaikan dengan pengandaian yang berbeda.  Peribahasa memberi pengalaman tersendiri dalam berbahasa.

 

Comment