5 Alasan Ilmu Sosiologi Dianggap Sulit

Jurnal Bebas588 Views

Sosiologi adalah ilmu yang dinamis.  Itu kenapa banyak orang merasa kesulitan mempelajari sosiologi.  Setidaknya ada 5 alasan ilmu sosiologi dianggap sulit.  Hal utama karena obyek kajiannya adalah kehidupan sosial manusia yang terus bergerak.

Dalam kehidupan sosial, terjadi fenomena akibat individu-individu yang saling berhubungan.  Fenomena sosial bukan perkara tunggal.  Ada begitu banyak dimensi yang terjadi.  Maka, Sosiologi sebagai ilmu juga tak bisa berdiri sendiri.

Apa itu Sosiologi?

Sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji tingkah laku manusia dalam kelompok atau masyarakat.  Dari pola masyarakat yang terbentuk dalam arti luas, perkembangan, serta hubungan antara manusia dalam segala aspeknya.  Pada intinya, dalam sosiologi ada dua unsur yaitu manusia dan masyarakat.

Yang kita bicarakan adalah manusia dalam kaitannya dengan manusia lain, atau perilaku manusia dalam suatu kelompok.  Sosiologi tidak membahas aspek jasmani maupun psikis manusia.  Ini yang membedakan sosiologi dengan psikologi.  Meski tentu saja, aspek psikologi manusia mendukung pola pikir dan memengaruhi tingkah lakunya dalam bermasyarakat.

Aristoteles
Man is by nature a political animal (Aristoteles)

Masyarakat itu sendiri terbentuk sebagai pemenuhan kebutuhan jiwa manusia.  Aristoteles mengatakan, “Man is by nature a political animal”.  Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri untuk berkumpul.  Mereka adalah makhluk lemah yang merasa memiliki kekuatan dan merasakan keamanan jika berada dalam satu kelompok.  Ada pula dorongan seksual untuk mengembangkan keturunan.  Masyarakat ini tumbuh dan berkembang.

baca juga: https://id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles

5 Alasan Ilmu Sosiologi dianggap Sulit

Masyarakat yang terbentuk dalam satu wilayah memiliki kesamaan keturunan, kebudayaan, serta nasib.  Mereka menjalani kehidupan dengan cara mereka.  Begitu pula dengan kelompok masyarakat di wilayah lain di seluruh belahan dunia.  Terjadi interaksi antar kelompok dan antar negara di dunia.

Interaksi antar manusia itu terus berjalan dan berkembang dari waktu ke waktu.  Perkembangan Semakin lama kehidupan, masyarakat kian berkembang pesat.  Itu kenapa, sosiologi dikatakan ilmu yang dinamis.  Meski teori yang digunakan sama, fenomena yang terjadi selalu berubah.  Maka seorang sosiolog tak bisa berhenti pada satu titik.  Berikut 5 alasan ilmu sosiologi dianggap sulit.

1.

Abstrak

Obyek kajian sosiologi adalah masyarakat.  Sebagaimana kita tahu, di dalam masyarakat terjadi hubungan manusia satu dengan lainnya, kelompok satu dengan lainnya.  Singkatnya, terjadi interaksi antar berbagai kelompok dari yang terkecil hingga terbesar.  Ada lintas territorial, lintas kepentingan, dan berbagai hal lainnya.  Maka terbentuklah jaring-jaring sosial yang tidak sederhana.  Dimana jaring-jaring ini bukanlah berupa kabel-kabel kasat mata, melainkan sesuatu yang terbentuk dalam pola perilaku keseharian.  Sifatnya abstrak. Hal tersebut menjadi salah satu alasan sulitnya mempelajari ilmu sosiologi.

2.

Dinamis

Masyarakat tidak pernah ajeg.  Selalu berubah dari waktu ke waktu.  Kelahiran, kematian dan segala penyebabnya turut ambil bagian.  Berbagai fenomena alam dan sosial juga memengaruhi kehidupan masyarakat.  Selain itu, tingkat ekonomi dan pendidikan turut menggerakkan roda kehidupan.  Bukan hanya perubahan sosial yang terlihat, tetapi juga yang tak terlihat.

3.

Penuh Kemungkinan

Sosiologi bukan ilmu pasti seperti halnya ilmu saint.  Dalam matematika misalnya, kita dapat menganalisis gerakan mobil yang melaju di suatu jalan lurus, mengukur jarak yang ditempuh dengan rumus tertentu pada waktu tertentu.  Bahkan jika terjadi percepatan atau perlambatan.  Dalam sosiologi, yang dibahas adalah mengapa mobil tersebut lewat jalan tertentu.  Bisa jadi alasannya untuk menghindari macet.  Analisis berkembang pada poin, bagaimana kemacetan cenderung tinggi pada hari minggu misalnya dibanding hari lain.
Jarang sekali kita menemukan kata “ada” atau “pasti” dalam sosiologi.  Impossible is Nothing.

“Impossible is Nothing”

4.

Bias Subyektivitas

Manusia adalah makhluk unik.  Banyak hal yang menyokong kepribadian dan membentuk karakter.  Ada faktor pribadi dan lingkungan.  Unsur ini memberi warna dalam perilaku manusia dalam masyarakat.  Hal ini berlaku juga pada sosiolog.  Sulit menjaga obyektivitas dalam megkaji suatu fenomena sosial karena berada dalam subyek kajian.
Misalnya, Anda wanita sosiolog yang yang bercerai akibat dikhianati mantan suami Anda.  Kini, Anda mengkaji perilaku seksual kaum pria pada kelompok elit pemerintahan.  Ketika mengamati, menafsirkan, serta menganalisis, bisa saja Anda memasukkan opini pribadi sehingga terjadi bias subyektivitas.
Kata seorang kawan, ‘Tak ada lelaki baik di mata seorang wanita yang mengalami trauma dalam suatu hubungan’.

“Tak ada lelaki baik di amta seorang wanita yang mengalami trauma dalam suatu hubungan”

5.

Variasi yang Sangat Kompleks

Sekilas, masyarakat modern adalah masyarakat yang selalu berpikir praktis, minimalis, dan cenderung fungsional.  Mereka tak suka bertele-tele, juga tak percaya pada hal mistis.  Namun sebenarnya, baik struktur maupun dimensi masyarakat modern ini sangat kompleks.
Kehidupan tidak berhenti pada urusan mencari makan, memiliki papan, serta memenuhi sandang secukupnya.
Urusan makan saja, sudah memiliki style baru.  Pakaian tak sekadar menutup badan, ada gaya yang harus dipenuhi sebagai pencitraan.  Rumah, tak bisa hanya berdiri begitu saja.  Apa yang mereka miliki menunjukkan kepribadian serta nilai diri mereka.  Pola pikir yang justru semakin sulit dipahami karena apa yang terlihat, tak selalu apa yang terjadi dalam masyarakat.
Dalam kehidupan lain, seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain menunjukkan gejala yang rumit.  Perilaku manusia dipengaruhi banyak kepentingan.  Tak berhenti pada visi yang bernilai fungsional, tapi ada visi lain yang harus dikaji lebih jauh.


Penutup

Itu tadi 5 alasan ilmu sosiologi dianggap sulit.  Kabar baiknya, karena kajian sosiologi sangat kompleks dan memiliki banyak variable, maka sulit atau tidaknya ilmu tersebut juga dipengaruhi banyak faktor.  Jadi, jangan buru-buru menghakimi.

Ada syarat yang harus dimiliki sosiolog, mereka harus dapat bersikap netral, tidak memihak, dan tidak tergesa-gesa mencari bukti, serta memvalidasi kebenaran dengan mengembangkan sikap curiga terhadap informasi yang buktinya belum jelas.

Sebagaimana ilmu-ilmu sains lainnya, sosiologi juga memiliki metode ilmiah serta perspektif sendiri.  Sosiologi berfokus pada hubungan sosial serta pola-polanya dalam masyarakat.  Dalam mengkaji berbagai fenomena sosial tersebut, sosiologi memiliki hubungan erat dengan ilmu-ilmu lainnya seperti politik, ekonomi, sastra, pendidikan, dan lain sebagainya.  Hal ini memungkinkan sosiologi dipahami secara holistik atau menyeluruh.

 

 

Comment