by

5 Fase Perkembangan Antropologi

Antropologi tidak serta merta berdiri sebagai ilmu pengetahuan.  5 Fase Perkembangan Antropologi memberi gambaran keseluruhan ilmu tentang manusia ini dari masa ke masa.  Bermula dari catatan perjalanan para penjelajah yang subyektif dan sederhana, hingga penelitian yang bersifat ilmiah.

Dengan mempelajari fase-fase ini, kita dapat memahami keadaan bangsa-bangsa di dunia.  Banyak perbedaan mengenai ciri fisik, adat-istiadat, budaya atau cara hidup.  Perbedaan pola pikir serta persebaran masyarakat ini sangat berguna bagi pemerintah maupun kalangan akademisi.

Pengertian dan Fungsi Antropologi

Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat memaparkan dalam bukunya, “Pengantar Antropologi I” (1996) bahwa secara akademis, antropologi adalah sebuah ilmu tentang manusia secara keseluruhan dengan memusatkan kajian pada aspek fisik, masyarakat dan kebudayaan.  Dalam hal terapan, antropologi sebagai ilmu yang mempelajari keragaman masyarakat dunia guna membangun masyarakat pada suku tertentu.

Dari pengertian itu kita tahu, betapa penting antropologi.  Pemahaman tentang keberadaan dan kondisi suatu masyarakat dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah dalam rangka membangun masyarakat itu sendiri.

Dalam hubungannya dengan ilmu lain, antropologi berkontribusi menyampaikan hasil kajiannya untuk perkembangan ilmu-ilmu lain seperti dalam hal kesehatan, ekonomi, sosiologi, bahkan sastra.  Begitu juga sebaliknya, para antropolog membutuhkan teori-teori dari ilmu lain untuk memperdalam dan meluaskan kajiannya.  Saling keterkaitan ini akan menguatkan perkembangan ilmu yang dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia.  Boleh dikatakan, antar disiplin ilmu terjadi simbiosis mutualisme.

5 Fase Perkembangan Antropologi

Dimulai dari perjalanan para penjelajah Eropa pada abad 15 – 16, pemahaman tentang persebaran dan perbedaan manusia dari bangsa-bangsa lain meluas menjadi ilmu pengetahuan.  Berikut saya rangkum, 5 fase perkembangan Antropologi.

 

  1. Fase Pertama

 

Cikal bakal lahirnya Antropologi berasal dari deskripsi etnografi yang dibawa para penjelajah, terutama bangsa Eropa.  Fase ini berlangsung cukup lama, sekitar 4 abad.  Dari abad 15 hingga menjelang abad 18.

 

Ekspedisi ini diikuti oleh musafir, pendeta, tokoh dan staf pemerintahan, serta para misionaris.  Tujuannya, perkembangan ekonomi yaitu mencari rempah-rempah sebagai bahan baku industry

serta menyebarkan misi-misi keagamaan.

 

Sekembalinya dari wilayah-wilayah seperti Afrika, Asia, dan Amerika itu, para penjelajah membawa banyak catatan.  Isinya bermacam-macam tentang wilayah yang pernah mereka kunjungi.  Paling dominan adalah tentang keunikan suatu bangsa, atau adat-istiadat yang mereka anggap nyleneh.

 

Catatan-catatan itu memang etnografi sederhana dan subyektif.   Dari cara hidup, cara berkebudayaan bangsa-bangsa yang mereka saksikan, beranggapan, bangsa sendiri lebih tinggi derajatnya. Sebaliknya, bangsa lain bahwa dianggap sebagai manusia liar.  Hal ini cukup memengaruhi pemerintah dan kaum akademisi untuk mengkaji lebih dalam serta menjadikannya motivasi untuk dapat meneliti kembali.  Di samping itu, melihat kekayaan wilayah lain, muncullah tujuan kolonialisme.

(Baca juga:  https://diksiklasik.com/penjelajah-dunia-yang-melahirkan-antropologi/

  1. Fase Kedua

 

Fase kedua dimulai pada pertengahan abad ke 19.  Didasari keinginan kuat untuk menyusun etnografi, maka mereka merasa perlu mengumpulkan bahan-bahan tersebut di luar Eropa.  Hal ini kemudian di kaji di kalangan akademisi dengan pendekatan teori evolusi masyarakat.

 

Mereka menyadari, bahwa kumpulan tulisan saja tidak cukup ilmiah untuk menjelaskan keadaan bangsa-bangsa di dunia.  Dibutuhkan sebuah metode empiris dan teruji untuk menjadikan antropologi sebagai  ilmu pengetahuan.  Maka, fase kedua ini para akademisi meminjam teori Charles Darwin tentang evolusi.

 

Dikatakan oleh Charles Darwin bahwa semua mahluk hidup mengalami perubahan dari bentuk paling primitif hingga paling kompleks.  Perubahan itu tidak terjadi begitu saja.  Ada mutasi genetik, seleksi alam, hingga mekanisme isolasi.

 

Teori mengenai evolusi secara biologi ini dianalogikan ke dalam evolusi sosial.  Dimana evolusi biologi yang terjadi pada manusia dijadikan dasar analisis terjadinya evolusi sosial budaya.  Serta mendeskripsikan bagaimana terjadinya keragaman masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

 

Tokoh berpengaruh pada fase dua ini antara lain:

  • H. Morgan, seorang ahli hukum Amerika yang pada tahun 1877 menerbitkan buku berjudul “Ancient Society”.  Isinya tentang adat-istiadat suku-suku di dunia.
  • W. Schmidt yang meneliti asal mula penyebara suku-suku bangsa di dunia beserta kebudayaannya.

 

  1. Fase Ketiga

 

Fase ini terjadi pada awal abad ke 20.  Pada masa ini telah terjadi perkembangan pesat yang ditandai:

  • Disamping fungsi kolonialisme yang dijadikan motivasi mempelajari antropologi, bangsa Eropa khususnya Inggris, telah mengembangkan ilmu pengetahuan ini untuk meneliti bagaimana terjadinya perubahan masyarakat primitive menjadi masyarakat modern.
  • Bangsa Amerika telah mengembangkan Antropologi untuk memahami suku Indian yang saat itu dianggap memiliki konflik integrasi sosial;
  • Tujuan mempelajari suku-suku bangsa ini bertujuan pula untuk dapat membangun masyarakat tersebut.

Adapun tokoh berpengaruh pada fase ketiga antara lain:

  • Malinowski, antropolog berkebangsaan Inggris yang meneliti adat istiadat masyarakat kepulauan Trobriand;
  • Fortes yang meneliti adat-istiadat masyarakat suku-suku di Afrika Barat;

 

  1. Fase Keempat

 

Perjalanan Antropologi sebagai ilmu pengetahuan dirasa kian tajam dengan semakin telitinya penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis hipotesis.  Oleh karenanya, pada masa ini yaitu setelah tahun 1930-an, antropologi dapat menjalankan fungsinya sebagai alat untuk memahami keberadaan masyarakat yang sederhana.  Hasilnya, terjadi perubahan sosial yang ditandai munculnya kebudayaan baru dari masyarakat primitif.

 

Selain perubahan sosial yang signifikan pada masyarakat yang dianggap terbelakang tersebut, onyek penelitian diperluas ke ranah masyarakat kompleks atau modern.  Bertolak diari sini, diselenggarakan symposium internasional yang dihadiri lebih dari 50 antropolog dari berbagai negara (Eropa, Amerika, serta Uni Sofiet.  Tujuan pertemuan ini untuk mengkaji ulang etnografi yang ada serta membuat rumusan ruang lingkup antropologi.

 

Ruang lingkup yang jelas memudahkan pemahaman, sehingga fungsi akademis dan fungsi praktis antropologi dapat tercapai.  Yaitu pemahaman yang mendalam mengenai bentuk fisik, serta budaya masyarakat sehingga sumber tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk membangun masyarakat tersebut.

 

Tokoh penting pada perkembangan antropologi pada fase keempat ini antara lain:

  • Boas, antropolog Amerika Serikat yang semula adalah pakar Geografi Jerman. (1858 – 1942)
  • L Kroeber, R. Benedict, Margaret Mead, dan R. Linton.

 

  1. Fase Kelima

 

Pemahaman antropologi yang semakin luas ini memunculkan beberapa aliran.  Pada fase kelima yang terjadi setelah tahun 1970-an ini karakteristik antropologi terjadi di berbagai negara tempat dikembangkannya antropologi tak terkecuali Indonesia.

 

Di Inggris, antropologi masih difungsikan sebagai upaya kemakmuran kolonialisme sekaligus membangun daerah jajahan.  Namun, setelah negara-negara tersebut merdeka, penelitian masih dilanjutkan untuk memahami bangsa lainnya.

Eropa utara memusatkan perhatian pada suku Eskimo untuk diteliti.  Eropa tengah masih mengekor penelitan sebelumnya, memahami bangsa-bangsa di luar Eropa secara umum.  Di Amerika Serikat, perkembanan antropologi ditengarai dari terbitnya jurnal-jurnal dan majalah antropologi.  Tak ketinggalan Rusia, yang juga mengembangkan antropologi sebagaimana bangsa-bangsa lain sebelumnya.

 

Indonesia memiliki karakteristik sendiri, dimana antropologi dikembangkan untuk mempelajari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara.

 

Penutup

 

Semula, antropologi dipahami hanya dari kisah perjalanan papa penjelajah bangsa Eropa.  Dalam perjalannnya, rupanya mengetahui kehidupan manusia di muka bumi ini memiliki manfaat yang banyak.  Sehingga, dikembangkanlah pemikiran-pemikiran tentang antropologi yang akhirnya menjadi metode ilmiah untuk mengkaji antropologi lebih dalam lagi.

 

Perkembangan antropologi terjadi dari masa ke masa yang dirangkum dalam 5 fase perkembangan antropologi.  Apapun tujuan awalnya, antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang sangat berguna untuk memahami kehidupan manusia secara keseluruhan.  Pembangunan manusia seutuhnya dapat dilakukan melalui antropologi.

 

Menyesuaikan nilai dan fungsinya dalam mempelajari manusia, maka antropologi sangat mungkin akan terus berkembang karena kehidupan ini belum berhenti, dan manusia terus berganti.

Comment