by

Arti Penting Paragraf Pertama Cerita Pendek

Cerita pendek merupakan prosa bebas yang mendeskripsikan satu peristiwa dalam kehidupan.  Biasanya terdiri atas lima hingga sepuluh halaman.  Memiliki ciri, dapat dibaca sekali duduk.  Nah sebenarnya, perkara membaca sekali duduk atau lebih, tergantung bagaimana cerita pendek tersebut disusun.

Cerita pendek akan terasa panjang dan membosankan jika cara mengemasnya kurang menarik.  Terlebih jika dari awal membaca kita disuguhi kalimat-kalimat membosankan, bertele-tele, bahkan membingungkan.  Titik awal yang sering kita pahami sebagai paragraf pembuka adalah pintu yang menentukan pembaca akan masuk atau langsung pergi.

Paragraf pembuka merupakan bagian yang kali pertama kita baca dalam sebuah cerita.  Sebagai pengantar menuju akhir cerita, bagian ini mengambil peran besar dari keseluruhan cerita.  Itu mengapa para penulis besar sangat memperhatikan, diksi, teknik membuka cerita, serta efek apa yang dapat ditimbulkan dengan menerapkan teknik tersebut.

Beberapa penulis mengawali ceritanya dengan aksi tokoh sehingga cerita terasa hidup.  Orang langsung berimajinasi serta merasa turut larut dalam cerita.  Beberapa yang lain mendramatisasi suatu tempat untuk menimbulkan efek emosional dengan alasan, tempat dalam cerita dominan di samping plot.  Ada pula penulis yang lebih menonjolkan plot, sementara tempat menjadi perhatian kedua.

Semua metode bisa diterapkan disesuaikan dengan gaya menulis seseorang.  Pada intinya, karena cerita pendek hanya mengungkapkan satu konflik atau satu peristiwa penting, maka paragraf pembuka yang baik, hukumnya wajib.

Arti Paragraf Pertama

Paragraf pertama dalam cerita pendek ibarat terminal.  Dari sini, sopir, dalam hal ini penulis bertolak.  Pembaca akan dibawa ke tempat tujuan.  Penulis akan menunjukkan arah yang benar.  Memperlihatkan kenampakan-kenampakan sebagai setting, peristiwa-peristiwa sebagai plot, juga mempertontonkan para tokoh dalam peristiwa itu.

Jika di titik ini penulis gagap dalam melakukan promosi, penumpang mana akan peduli?  Jangankan sampai tujuan yang diharapkan dan menangkup makna perjalanan, naikpun tidak. Mengingat pentingnya paragraf pertama, saya akan sedikit menceritakan pemahaman saya tentang arti paragraf pertama.

Saya rasa, beberapa pemahaman berikut membantu menanamkan dalam diri seorang cerpensi, bahwa paragraf pertama adalah hal krusial.

  1. Paragraf pertama adalah duta. Duta ini merupakan bagian yang mewakili keseluruhan cerita.  Paragraf pertama menjadi wajah yang pertama kali dilihat.  Paragraf pertama juga dikatakan mampu melindungi bagian lain cerita dari kesia-siaan karena dilewatkan begitu saja oleh pembaca.  Sebagai duta/utusan, paragraf pertama harus dibuat semenarik mungkin sehingga dapat memengaruhi pembaca tanpa merasa dipaksa, membujuk pembaca tanpa merasa dirayu apalagi dikibuli;
  2. Paragraf pertama adalah abstrak cerita pendek. Saya senang menyebutnya sebagai cerita versi pendek.  Dari sini diharapkan pembaca menemukan informasi tentang tujuan cerita ditulis, tanpa membeberkan penyelesaiannya.  Itu kenapa, paragraf pertama sebaiknya dibuat tanpa bertele-tele agar pembaca merasa tak buang-buang waktu, cepat menemukan sesuatu yang penting dan menarik, serta tak boros kata;
  3. Paragraf pertama adalah gerbang cerita. Begitu dibuka, seroang tamu akan memutuskan apakah ia akan menjelajahi rumah, taman, juga suatu tempat lainnya atau memilih balik kanan bubar jalan.  Semua tergantung penyambutan di pintu depan.

Mengingat sebegitu krusialnya arti paragraf pertama, penulis besar tak pernah main-main dalam membuat bagian ini.  Penulis akan memikirkan secara masak, bahkan berhari-hari.  Sudut pandang yang unik dalam paragraf pertama memberi nilai lebih.  Selain itu, memberi tekanan berupa emosi, karakterisasi, kejutan, sesuatu yang bersifat misteri akan memancing rasa penasaran pembaca.

Membuat paragraf Pertama

  1. Jangan tergesa-gesa;
  2. Pilih diksi yang menarik dan memberi efek yang menggugah emosi pembaca;
  3. To the poin, tidak bertele-tele;
  4. Tak perlu panjang tapi mengena. Memang tak aturan khusus mengenai jumlah kalimat.  Namun, secukupnya saja untuk membantu pembaca memahami isi paragraf;
  5. Buat semenarik mungkin, renungi, edit, renungi lalu edit lagi jika perlu hingga benar-benar siap mengantar pembaca ke titik akhir.

Penutup

Setelah mendalami makna paragraf pertama di atas, saya mencoba terus mengulang demi menjejakkan pengertian bahwa paragraf pertama wajah dari cerita.  Meski tentu saja, bagian lain tak kalah penting.  Karena semua bagian dalam cerita mengambil porsinya masing-masing.

Comment