by

Kaukah, Ayahku?

Identitas Buku

Judul       :  Ayah

Penerbit  :  Bentang Pustaka

Tebal       :  412

Tahun terbit  : 2015

 

 

Kulalui sungai yang berliku

Jalan panjang sejauh pandang

Debur ombak yang menerjang

Kukejar bayangan sayap elang

Disitulah kutemukan jejak jejak untuk pulang

Ayahku, kini aku datang

Ayahku lihatlah aku sudah pulang

_Andrea Hirata_

Seorang anak tak bisa memilih lelaki macam apa yang akan jadi ayahnya.  Yang bisa dipahami, jika ada seorang lelaki yang rela mengorbankan hidup untuknya, lelaki itulah yang nanti akan ia panggil ‘Ayah’.

Bahkan terkadang, hubungan ayah anak terjadi tanpa pertalian darah.  Warna rambut, bentuk pipi, ketinggian hidung, luas telinga pun tak masuk kriteria sebagai ayah.  Hal itu yang dialami Amiru.  Ia tak pernah menyangka sebelumnya, ayahnya tak hanya satu.

Kisah haru anak ayah pada novel ini dideskripsikan secara dramatis.  Bumbu cinta di cerita ini hadir tak sekadar pemanis.  Ini juga yang menjadi alasan terjadinya banyak konflik dalam cerita lalu mendorong konflik hingga memuncak.

Tokoh utama dalam kisah ayah diperankan Sabari Bin Insyafi.  Digambarkan sebagai lelaki lugu, dengan tampang yang membuat wanita-wanita dengan gampang menjauhinya.  Namun ia lelaki bijak, setia, pantang menyerah, penuh kasih, lembut hatinya, serta sabar sesuai namanya.  Saking sabarnya, ia tak pernah menakar seberapa berat beban hidupnya sebab cinta tak berbalas.  Ia tak pernah sekalipun merumuskan secara matematis pengorbanan dirinya untuk Marlena, satu-satunya wanita yang hidup di kepala dan dadanya.

Waktu dikejar

Waktu menunggu

Waktu berlari

Waktu bersembunyi

Biarkan aku mencintai

Dan biarkan waktu menguji

 

Uniknya cara kerja Tuhan atas doa dan ikhtiar Sabar.  Suatu hari Marlena yang gencar menolak Sabari mengalami masalah.  Ia mengandung seorang bayi di luar nikah.  Ayahnya muntab dan bingung mencari cara menyelamatkan nama baik keluarga.

Dalam keadaan genting itulah, Sabari dengan gagah menawarkan diri menjadi suami Marlena sekaligus ayah bagi anak yang dikandung wanita itu.  Keputusan tersebut berimplikasi dua hal.  Bodoh bagi orang lain, penghargaan bagi Sabari.

Menjadi Ayah

Novel ini dikemas dengan alur campuran yang tergolong pelik.  Pembaca seolah mengikuti dua situasi berbeda pada waktu yang sama.  Novel dibuka tanpa bertele-tele dengan penderitaan Sabari lantaran ditinggalkan cintanya.  Yaitu Marlena dan anak tirinya, Amiru.

Di bab berikutnya, pembaca tak dibawa jauh ke setting lain.  Yaitu adegan kehidupan Amiru dengan Amirza-suami terakhir ibunya.  Seolah tanpa benang merah, pembaca dibawa flash back ke masa mudah Sabari saat pertama kali jatuh hati pada Marlena dan tak sekalipun berpaling pada wanita lain sejak saat itu.

Bab empat bertalian dengan bab dua.  Gambaran kedekatan Amiru dan Amirza dilekatkan dengan menyisipkan budaya Melayu yaitu radio dan kopi kegemaran Amirza.  Lantaran radio pula membawa Amiru belajar elektronika sampai ke Jawa.  Latar sosial terasa sangat kental.

Pada bab-bab berikutnya secara susul menyusul menjalin cerita utuh.  Bergerak maju dari kisah cinta Sabari, perjuangannya yang tiada henti untuk Marlena.  Penolakan Marlena yang sama kerasnya.  Sifat Marlena yang diwariskan ayahnya Markoni menyuguhkan satu kisah lain tentang hubungan ayah anak.

Digambarkan, ayah Marlena yaitu Markoni adalah lelaki yang keras kepala.  Muda hura-hura, dewasa merana, tua kena karma.  Apa yang dialami anaknya, ia anggap sebagai balasan Tuhan.  Hal senada pernah dilakukannya terhadap ayahnya dulu.  Bikin malu.

Secara konsisten, novel ini merujuk pada satu tema tentang ayah.  Sabari sebagai tokoh sentral.  Sosok ayah yang melindungi, menyayangi Amiru tanpa syarat.  Yang mendidik dan menurunkan sifat bijak dan hati selembut puisi.  Lalu gambaran Markoni, ayah yang mendidik anaknya dengan keras karena pengaruh masa lalunya.

Puisi yang diajarkan Sabari pada Zorro

Wahai awan

Kalau berseidh

Jangan menangis

Janganlah turunkan hujan

Karena aku mau pulang

Untukmu awan

Kan kuterbangkan layang-layang

 

Rindu Hingga Nyaris Gila

Setelah dipertemukan dengan Marlena melalui pernikahan yang bagi Marlena tak diinginkan, hidup Sabari sumringah.  Namun itu tak bertahan lama.

Marlena adalah sosok mandiri, pemberani, tak ragu, dan ingin merdeka.  Maka untuk lelaki yang secuilpun tak dicintainya, tak tahan Marlena tinggal bersama.  Sekalipun Sabari menganggapnya bak Purnama Kedua Belas yang benderang.  Perceraian tak dapat ditolak Sabari.  Marlena pergi membawa anaknya, Amiru/Zorro.

Kerinduan Sabari tak terperi.  Karenanya, ia hidup namun mati.  Ia mati namun masih bernafas.  Hanya, ia nyaris gila.  Berbagai upaya dilakukannya.  Dari yang nyata sampai berhalusinasi.  Dikisahkan, Sabari sampai menulis surat yang dilekatkan pada seekor penyu.  Penyu tersebut terdampar di lautan Australia dan ditemukan penduduk setempat.  Orang yang menemukan, merasa terpanggil oleh kisah haru seorang ayah yang memanggil anaknya untuk kembali.  Orang tersebut turut mencari.  Namun tak menemukan dan akhirnya mengirim surat balasan ke Kepulauan Belitong.

Surat tersebut sampai ke tangan Sabari.  Pada saat itu, Amiru yang dibawa ibunya berkelana hampir ke seluruh bagian Sumatera telah kembali setelah dijemput dua kawan baik Sabari.  Ukun dan Tamat tak rela melihat sahabat baiknya gila lantaran jiwanya tergerus rindu.  Dengan bekal secukupnya dan informasi dari teman baik Marlena, dimulailah perjalanan dramatic ke segala penjuru.

 

Koda

Tokoh utama secara gamblang mengharapkan Marlena dan Zorro, anaknya.  Secara tegas pula, Marlena hanya menginginkan kebebasan.  Namun terkadang, takdir bekerja secara rumit, jauh dari jangkauan manusia.

Zorro yang jiwanya telah lekat dengan Sabari meski bukan ayah biologisnya akhirnya kembali.  Sabari meski digambarkan sebagai sosok lugu, tampang memilukan, rupanya memiliki kelebihan-kelebihannya sendiri.  Kesetiaan, jiwa yang pantang menyerah, dan istikomah inilah yang jarang dimiliki manusia pada umumnya.  Dalam segala keterbatasannya, tanpa diketahui Sabari, ia menginspirasi kawannya sejak SMA.  Izmi.  Tokoh tambahan ini digambarkan sekilas saja dalam cerita.  Saya pikir sebagai perimbangan karakter utama.

Novel dengan konflik bertubi-tubi hingga memuncak, penuh kepiluan dan menyentuh jiwa pembaca ini dikonstruksi dengan gaya bertutur.  Gaya bahasa metafora dan perbandingan juga digunakan secara apik.  Kadang pembaca dibawa ke situasi yang memaksa air mata keluar.  Di sisi lain, mau tak mau pembaca terbahak oleh kekonyolan-kekonyolan tokoh dan gaya bahasa yang dimainkan.  Ini ciri khas Andrea Hirata dalam menulis novel.

Pada akhirnya, keseluruhan cerita memberi banyak koda.  Ucapan latah Akan indah pada waktunya sama sekali bukan main-main.  Tuhan akan membalas usaha hambanya yang terus-menerus, konsisten, setia, dan tak putus.

Pada siapapun yang kita anggap ayah, menghormatinya adalah kewajiban.  Seperti apapun ayah kita, membaktikan diri padanya adalah keharusan.  Mungkin ayah kita ditakdirkan sebagai sosok tak sempurna, namun apapun keadaanya, seorang anak wajib patuh pada kebenaran yang diajarkan, mendengar nasihat, serta menyayanginya di kala membutuhkan.

 

 

 

 

 

Comment