Cara Asyik Menulis Cerpen Anak

Menulis cerpen anak memberi banyak manfaat, diantaranya mengedukasi atau memberi nasihat melalui cerita.  Tidak terasa pesan itu masuk.  Pada cerpen berjudul Halaman 51 berikut, secara tak langsung anak termotivasi untuk menerima kenyataan sekaligus memupuk keberanian meskipun hidup tanpa ayah.  Nilai-nilai yang orang tua tanamkan akan membekas dalam jiwa anak.

Cara Asyik Menulis Cerpen Anak

Simak cara asyik menulis cerpen anak

  1. Masuki dunia anak, perhatikan perilaku dan renungkan mengapa anak-anak melakukan hal tersebut;
  2. Carilah ide dengan mengambil sisi kehidupan anak yang menarik;
  3. Cerpen mengandung nasihat atau pesan yang jelas;
  4. Buatlah alur yang sederhana, jangan terlalu rumit;
  5. Gunakan bahasa yang sederhana, sehingga pembaca, dalam hal ini anak, tidak perlu berpikir dua kali untuk memahami tiap kalimat;
  6. Ingat, posisikan diri sebagai anak dengan pola pikir anak
  7. Tulislah dengan gaya yang ringan, renyah, tapi tetap lezat dinikmati;
  8. Jika cerpen mengandung unsur kesedihan, ambil sisi humanis yang mudah dipahami anak;

Berikut contohnya, yuk simak!

Halaman 51

Yayuk W

 

Baru sampai halaman lima, nafas Geo sudah sesak.  Tangannya dingin gemetaran.  Memegang Sora yang duduk di sebelahnya.

“Kangen Papa!”  tangisnya Geo pecah.

Kalau sudah begitu, Sora memilih menutup buku.  Ia juga merasakan hal yang Geo rasakan.  Bulir bening dari matanya sempat mengalir tapi buru-buru dihapus dengan kausnya.

“Udah deh nangisnya.”  Jemari Sora mengelus pungung adiknya.

“Apa kita simpan saja buku itu di lemari, di bawah kasur, atau di bawah tanah?”  usul Geo sambil terisak-isak.

“Cengeng!” sergah Sora.

“Biarin.  Geo kan masih SD.”

“Eh, siapa bilang anak SD boleh lemah.  Ingat pesan Papa.  Prajurit sejati itu gagah perkasa seperti garuda.”  Sora menasihati adiknya.  “Aku mau baca buku itu apapun yang terjadi.  Bagaimana kalau ada pesan penting atau tugas rahasia untuk kita?  Kita nggak akan tahu sampai selesai membaca buku ini.”  Sora menimang-nimang buku harian bersampul coklat tua itu.  Membuka dengan cepat lalu mendekapnya ke dada.

Geo bersungut-sungut.  Lalu memohon.  “Tapi bacanya besok lagi ya, Kak?”  Antara sedih, rindu Papa, serta mengantuk, suara Geo jadi serak dan lemah.

“Kamu tidur aja dulu.  Mama pasti terjebak kemacetan.”

Begitu kepalanya menempel bantal, Geo langsung lelap.  Semetara Sora baru saja membaringkan tubuhnya, ketika pintu diketuk pelan.  Sora bergegas membuka pintu.  Wajah Mama yang kuyu muncul di depan pintu.  Tatapannya lemah.

“Capek ya, Ma?”

Mama mengangguk sambil berjalan.  Melepas sepatu.  Meletakkan kaca mata di rak.  Menggantungkan kontak motor pada paku kayu dekat kamar lalu duduk di dapur.  Tangannya meraih mug putih bergambar burung Garuda bersayap sepuluh, bertuliskan ‘Kartika Eka Paksi’.  Sora mengamati logo TNI Angkatan Darat itu dengan seksama.  Masih terekam kata-kata Papa dalam memorinya.  Bahwa burung garuda melambangkan kekuatan dan kesanggupan mencapai cita-cita tinggi.   Dada Sora bergemuruh.  Ada percikan semangat saat mengingat perjuangan Papa.

“Adik udah tidur?” tanya Mama.

“Ya, Ma.  Tadi kami baca buku harian Papa.  Baru sampai halaman lima.” ucap Sora.

Mama tersenyum.  “Mama bersyukur punya kamu, Sora.  Jaga adik baik-baik saat Mama kerja, ya?  Kalau kelelahan, sesak nafasnya kambuh.”

“Ya, Ma.”

Rutinitas semacam ini berlangsung setiap hari.  Sebagai bidan, jadwal kerja Mama ditentukan klinik tempatnya bekerja.  Kadang berangkat pagi, kadang berangkat malam.  Kedua anaknya sudah terbiasa mandiri.

Apalagi Papa yang tentara selalu mengajari anak-anaknya disiplin tinggi.  Karena sadar tak selalu bisa menemani.  Kadang Papa dapat tugas ke wilayah lain.  Terakhir, Papa tergabung dalam Satuan Tugas Kizi TNI Kontingen Garuda ke Kongo.  Tugasnya menyelesaikan pembangunan TOB Batalyon Malawi di Kilia, Kongo.  Jadi apapun tentang Papa selalu bikin Sora bangga.  Ia mendukung misi Papa sepenuh jiwa raga.

Esoknya, Sora membaca buku harian Papa bersama Geo yang baru kelas 6 SD.  Di hari kedua ini, mereka mulai dari halaman 6.

Pagi yang cerah. 

Tugas papa berat.  Tapi harus tetap semangat.  Pasukan Garuda itu hebat.  Kalau sedang penat, kami berolah raga.  Kadang bermain sepak bola dengan warga sekitar.  atau main tinju sama anggota lain.  Papa juga lari-lari.  Seperti yang kamu tahu, ini olah raga wajib TNI haha.

Sora, Geo, anak-anak seusiamu menyapa kita dengan ramah.  Mereka melambaikan tangan menyambut kendaraan tempur lapis baja berwarna putih yang kami kendarai.  Papa jadi mengingat kalian.

Tulisan Papa di halaman berikutnya bahkan mampu mengubah sikap Sora.

Sora, rambutmu sudah gondrong belum?  Segera minta anterin Mama ke salon!  Kamu harus jaga penampilan.  Jangan kaya anak nggak tahu aturan.  Makin terlihat keren kalau rapi.   Sora, Geo, jaga makanan kalian.  Seorang prajurit harus sehat.  Bagaimana kalian menjaga negara kalau menjaga diri saja tak mampu?  Jangan jajan sembarang.  Banyak makan sayur ya?

Esok, akan kuceritakan lebih banyak lagi.  Papa merindukan kalian.  Jaga Mama, saat Papa tak ada di samping kalian.  Tahu kenapa Papa kasih nama Sora dan Geo?  Sora berarti langit.  Geo berarti bumi.  Jadilah anak yang menjaga kehormatan orang tua setinggi langit.  Atas jasanya telah mendidik kalian jiwa raga.  Namun begitu, orang tua sebagai manusia biasa, tak luput dari kesalahan dan aib.  Kuburlah dalam-dalam di bumi, kesalahan itu, artinya tutuplah aib-aib orang tuamu, Nak.

Usai membaca halaman 11 hingga 17, Sora bangkit.

“Mau kemana, Kak?” tanya Geo penasaran.

Sora mengedipkan sebelah matanya.  Tangannya meraih ponsel.  Mencari nama Mama lalu melakukan panggilan.  “Halo, Ma?  Mama udah makan, udah sholat, udah minum jusnya?”

“Eh, udah, Sayang.”

“Ya udah, pulangnya jangan terlalu malam.  Nanti masuk angin.  Apa Mama mau Sora jemput?”

Geo melongo dari belakang Sora.  Mama juga tertegun dengan tawaran Sora.

“Em, nggak, Sora.  Mama pulang sendiri seperti biasa saja.  Nanti Mama mampir beli donat dulu.  Jaga adikmu, ya?”

“Tunggu, Mah.  Jangan beli donat.  Belikan saja kami buah-buahan.  Atau daging.”

Alis Mama bertaut.  Tadi pagi Geo dan Sora ngotot ingin makan donat.  Malamnya ingin buah-buahan.  Mama agak merasa bersalah.  Ia pikir, gara-gara terlalu lama, mereka jadi tak berminat lagi.  Sesuai pesanan Sora, Mama mampir ke toko buah.  Ia pulang dengan membawa kelengkeng, apel, dan pisang.  Cukup banyak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 ketika Mama memacu motornya ke rumah.  Jalan komplek mulai senyap.  Perasaan khawatir mulai menyelimuti pikiran Mama.

“Ya Allah, jaga anak-anakku.”

Mama masuk rumah dan mendapati Geo dan Sora yang sedang sibuk membaca buku harian Papa.  Sudah tiga lembar.  Papa mengingatkan Sora dan Geo untuk terus berdoa bukan cemas berlebihan.  Meski kondisi di Afrika sulit diprediksi.  Papa mengatakan, di tanah Kongo, kadang suasana sangat mencekam.  Kontingen Garuda tetap melakukan hal terbaik di bawah komando dari komandan satuan tugas.  Haru biru kerap dirasakan ketika Papa berhasil menjalankan misi.  Papa menulis akan kembali dengan tenang.

Lembar demi lembar tak terasa, malam ini mereka sampai di halaman 51.

Hari ini Papa mengirim logistik untuk pembangunan Jembatan Halulu.  Jembatan ini akan menghubungkan orang-orang, Nak.  Seperti surat ini.  Yang akan menghubungkan Papa dengan kalian.  Papa sungguh merindukan kalian.  Tapi demi misi perdamaian ini, Papa bertahan. 

Geo menangis lagi.  Nafasnya sesak.  “Papa yang tenang di surga.”

Itu lembar terakhir yang ditulis Papa.  Hari itu, kabar mengejutkan datang dari komandan bahwa papa meninggal di Kongo.  Geo sempat masuk rumah sakit karena sedih, nafasnya sesak.  Sora banyak menjaga adiknya karena Mama tampak sangat terpukul.

Teman papa, Om Satriyo datang membawa buku harian papa waktu di Kongo.

“Kalian anak-anak hebat.  Pemberani seperti Papa kalian.”

Mata Sora mulai basah.  Geo sesenggukan.  Ia dipeluk Mama.  Mereka semua merindukan kehadiran Papa.  Sejak ditugaskan di Kongo, hanya beberapa kali melakukan video call.  Menjelang selesai tugas dalam setahun, papa pergi untuk selama-lamanya karena insiden bersenjata di sana.  Papa tertembak oleh sekelompok pemberontak dan tak tertolong lagi.

“Bagi seorang prajurit, gugur dalam tugas adalah kebanggaan.  Semoga papamu syahid.”  Ucapan Om Satriyo membuat Sora bangga, tapi sedih pada waktu bersamaan.

Om Satriyo menepuk-nepuk punggung Sora.  “Menjelang wafatnya, Papa sering sekali menulis di buku harian.  Baca lagi, ada banyak pesan Papa untuk kalian.  Anggap saja itu misi penting yang harus kalian selesaikan.  Jangan sedih lagi.”

Sejak itu, Sora dan Geo rajin membaca buku harian Papa.  Menurut Om Satriyo, jembatan yang saat itu dikerjakan berhasil dibangun.  Papa pasti senang mendengarnya.  Suatu hari Sora akan mengajak Geo mengunjunginya.

baca juga : cerpen anak tematik

Penutup

Cukup menyedihkan, tapi pesan yang terkandung di dalamnya akan memberi nasihat pada anak bahwa banyak hal terjadi tidak sesuai rencana, tidak sesuai keinginan.  Bahwa kematian itu takdir yang harus dihadapi, bukan sedih berlebihan.

Bagaimana, Anda tersentuh?  Saya ingin Anda menuliskannya juga.  Banyak sekali hal menarik dalam dunia anak yang dapat dijadikan ide membuat cerita pendek.

Comment