Cara Mudah Membuat Cerpen Anak

Cerpen159 Views

Ada cara mudah membuat cerpen anak.  Hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah bahwa sasaran cerita adalah anak-anak.  Maka sebelum menuliskan gagasan-gagasan kita, lebih baik pahami dahulu dunia anak.

Anak-anak cenderung berpikir sederhana.  Mereka dapat mencerna kalimat pendek.  Jadi, alih-alih memakai bahasa sastra yang ambigu dan bikin pusing, gunakan bahasa lugas yang dapat langsung dimengerti.  Kemampuan berbahasa anak-anak berbeda dengan orang dewasa.  Ketimbang tampak bagus tapi tak bisa dipahami, mending menulis cerita sederhana namun pesan tersampaikan.

Tentang Cerpen Anak

Anak-anak dibagi menjadi beberapa kategori usia.  Seperti balita, balita hingga kelas tiga SD, kelas empat SD hingga SMP.  Tidak ada batasan standar dalam membuat cerpen anak.  Soalnya, ada anak SMP yang masih suka membaca cerpen anak TK.  Ada pula anak SD yang sudah bisa memahami cerpen anak SMP.

Namun demikian tetap diperhatikan bahwa tingkat kerumitan konflik memengaruhi pembaca.  Anak TK belum bisa diajak berselancar pada cerpen dengan konflik yang rapat.  Harus sederhana.  Misalnya cerpen tentang anak yang susah gosok gigi sehingga giginya bolong-bolong.

Ide menulis cerpen bisa saja sama, namun eksekusi untuk menyasar pembaca balita dan anak-anak yang lebih besar dapat dibuat berbeda.  Misalnya ide tentang keragaman.  Untuk anak TK hingga kelas tiga atau empat SD bisa diceritakan tentang dua anak yang berbeda suku,.  Tokoh-tokoh yang berbeda suku, agama, dan bahasa, tetap bisa bermain bersama.

Untuk tingkatan siswa kelas 5 hingga SMP dengan usia yang terpaut jauh dari anak TK misalnya, ide tentang keragaman perlu digali lagi lebih dalam.  Konfliknya tidak semata soal bisa atau tidak bermain bersama.  Sudah ada pertentangan nilai diantara mereka.  Eksplorasi tema agar cerita lebih mendalam, perlu dilakukan.

Lalu, siapa saja yang boleh menulis cerpen tentang anak-anak?  Tentu saja tak terbatas siapa.  Lelaki, perempuan, anak-anak maupun dewasa.

Contoh Cerpen Anak

Berikut saya tuliskan satu cerpen anak sebagai contoh saja.  Konfliknya tentang perasaan tidak percaya diri seorang anak.  Anak tersebut suka menari.  Namun badannya yang gendut membuat orang-orang membulinya.  Apakah rasa insecure juga terjadi pada anak?  Sangat mungkin ya, Kawan.

Anak-anak juga sering terpapar pandangan masyarakat bahwa cantik itu langsing.  Pemahaman nilai seperti itu sangat rancu dan sempit.  Anak-anak perlu diedukasi bahwa kecantikan yang benar itu keseimbangan lahir batin.  Tentu perlu tahapan untuk mengajarkan anak tentang nilai cantik.  Namun menjadi tugas kita untuk meyakinkan, bahwa cantik milik kita semua.  Cantik dari dalam dan dari luar.  Dan setiap manusia, siapapun itu, berhak meraih mimpinya dan bahagia menjadi dirinya sendiri terlepas dari pandangan masyarakat umum yang menilai dirinya hanya secara fisik saja.

Cerpen anak berikut contohnya.  Yuk, simak!

Mimpi Oca

 

Obese lonely girl in yellow clothes standing outdoors in autumn.

Menari selalu membuat Oca bahagia.  Tapi kali ini sebaliknya.  Sepulang pentas di pendopo, ia menahan air mata.  Ketika sampai di kamar,  ia mengunci pintu, melempar selendang lalu menangis sepuasnya.

Ibu ingin menghibur anaknya.  “Nggak usah sedih, Ca.  Abaikan saja suara orang-orang.”

Suara Ibu tak membuat tangis Oca mendadak berhenti.  Ibu memeluknya.

“Oca nggak mau nari lagi!”

Padahal selama ini ia berlatih setiap hari, masuk sanggar, mengikuti lomba-lomba, juga tampil di pentas-pentas.  Ibu mengira telah terjadi sesuatu.

“Bukannya Oca ingin menari keliling dunia?”

Oca menggeleng.

“Yahh, apa boleh buat,” kata Ibu tetap santai.  “Ganti aja mimpi Oca!” usul Ibu.

Oca bingung.  “Kok bisa?”

“Kamu paling suka kue dan aneka minuman kopi.  Kenapa nggak sekalian belajar cara bikinnya.  Kamu bisa jadi koki.”

Bocah itu nampak berpikir meski wajahnya masih merengut.

“Nah, mulai besok Ibu ajari caranya.  Oca juga harus tahu tempat belanja bahan-bahannya.  Kita buat agenda yuk!”

Hari-hari berikutnya Ibu dan Oca berjalan ke pasar.  Belanja bahan-bahan kue dan aneka minuman.  Sepulang dari pasar, mereka akan membuat dapur berantakan.  Tapi saat itulah, Oca merasakan membuat kue sama seperti menari, butuh tekun dan teliti.

Latihan tak berjalan mulus.

“Sepertinya sia-sia,” keluh Oca saat gagal.

“Menyerah begitu saja?  Mana semangat anak manis Ibu?”

“Nanti uang Ibu habis buat beli bahan-bahan ini.”

“Nggak juga.  Tabungan Ibu masih, kok.”

Oca punya ide.  “Pakai tabungan Oca saja, Bu.”

“Oke, Ibu bantu pemasarannya ya.  Kita buat akun di media sosial buat jualan.”

Oca berlari ke kamar.  Alih-alih memecahkan celengan, Oca melihat selendang di antara buku-buku.  Tangan Oca meraih dan mengalungkannya di leher.  Tak terasa, tiga bulan tak menari.  Ia rindu menggerakkan tubuh, tangan, kaki, dan kepala dengan gerakan indah diiringi irama musik. Buru-buru ia ingat tujuannya ke kamar.

Ia menyerahkan uang itu pada Ibu.  Namun Ibu meminta Oca saja yang mengelolanya.  Oca belajar jadi pengusaha cilik.  Meski lelah, ia tampak begitu riang dan bersemangat memasarkan ke teman-teman.

Suatu pagi di depan toko bahan-bahan kue langganan, ia membaca selebaran kompetisi tari kreasi tunggal.  Matanya berbinar melihat pengumuman itu.  Dadanya bergemuruh hebat.  Keinginannya untuk tampil begitu kuat.  Ia menyobek kertas itu dan menyimpan dalam saku.  Lalu bergegas pulang.

“Bu, apa… Apa Oca boleh menari lagi?” tanya Oca gagap.  Kepalanya tertunduk.

“Kalau memang Oca mau, kenapa tidak!”

“Tapi,” balas Oca ragu.  “Oca Gendut.  Nanti dibuli lagi.  Sedih.”

“Tak perlu merasa sedih.  Gendut bukan kesalahan.”

Kepalanya manggut-manggut pelan tapi belum yakin.  “Tapi, malu ke Sanggar.”

“Kalau Oca belum siap, privat di rumah juga boleh.  Ibu lihat, semangat dan energi Oca meningkat.  Beda dengan beberapa bulan sebelumnya.”

Oca tak percaya.  Ia bertanya mengapa hal ini bisa terjadi.

Ibu menunjukkan apa yang telah Oca lakukan tiga bulan terakhir.  Berjalan, belanja, memasak, dan berenang.

“Gerak fisik membuat daya tahan tubuh Oca makin kuat.  Jadi hati Oca makin bahagia.  Oca lebih bersemangat.  Itu sudah lebih dari cukup.  Sebagai bonus, bobot tubuh Oca turun, loh!”

Bocah itu hampir tak menyadari bahwa kaos yang tadinya kekecilan sekarang sudah muat lagi.  Ia bersorak girang.  Kini ia mulai berlatih lagi.  Dan tetap jadi pengusaha cilik.

baca juga: cerpen tema budaya

Penutup

Mudah bukan, membuat cerpen anak?  Kuncinya adalah cermati dunia anak dan tuliskan secara sederhana.  Edukasi melalui cerita pendek akan semakin asyik.  Anak-anak dapat memahami sebuah nilai kehidupan tanpa merasa digurui.  Boleh dicoba ide lain.  Mari berbagi!

 

Comment