by

Cerita Pendek Bertema Budaya Tradisional

-Cerpen-16 Views

Ide cerita pendek bisa berasal dari mana saja.  Kehidupan sehari-hari, peristiwa penting, atau cerita pendek bertema budaya tradisional.  Semua tema tersebut dapat diolah menjadi kisah indah dan disajikan dalam tulisan sepanjang lima hingga sepuluh halaman.

baca juga: Menggali Ide Cerita dari Kehidupan Sehari-hari

Kali ini saya kedatangan tamu, seorang penulis remaja bernama Cilya Hassya yang cerita pendeknya bertema budaya.  Dia terinspirasi dengan keunikan yang terjadi di tanah Dieng yaitu terjadinya fenomena rambut gimbal.  Umumnya anak berambut gimbal harus diruwat dan terpenuhi permintaannya agar rambutnya kembali normal.  Lalu bagaimana jika permintaannya tertunda?

Ciri-ciri Cerita Pendek Bertema Budaya Tradisional

Ada beberapa hal yang menandai cerita pendek bertema budaya.  Diantaranya:

  1. Konflik yang diusung seputar budaya tradisional yang kental, unik, dan langka.  Bahkan boleh jadi budaya tradisional yang kontroversial.  Ada beberapa contoh budaya yang oleh sebagian masyarakat ingin dipertahankan sebagai warisan adat, ada pula yang telah berpikiran modern dan menganggap budaya warisan hanya buang-buang waktu dan tidak logis;
  2. Latar tempat, biasanya di suatu daerah.  Misalnya fenomena terjadinya rambut gimbal.  Ini hanya terjadi di Dieng.  Maka tidak lazim jika latar tempat yang digunakan di daerah pantai;
  3. Latar waktu.  Bisa disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi;
  4. Menyelipkan dialog berbahasa daerah jika diperlukan untuk menguatkan.  Ini tidak wajib, tapi tentu menarik;
  5. Nama tokoh disesuaikan dengan latar tempat

Contoh Cerita Pendek Bertema Budaya Tradisional

Binar Kecil dari Tanah Dieng

Cilya Hassya Areta

 

Dahiku berkerut mendapati amplop lusuh tergeletak di depan pintu.  Warnanya putih kecoklatan.  Dadaku berdegup saat memungutnya.  Namaku tertulis dengan huruf kecil-kecil.  Kubolak-balik, kuterawang ke arah matahari yang hampir senja.  Namun, sebanyak apapun mengamati, nama pengirim tak terdeteksi. Kupikir ini pesan rahasia.

Surat itu nyaris kusobek ketika suara klakson menjerit di depan rumah.  Kepala Lika menyembul dari jendela mobil.

“Kita berangkaaat!”  pekiknya lebih lengking ketimbang klakson tadi.

Kakiku melangkah menyongsongnya.  Buru-buru jemariku memasukkan amplop tadi ke saku jaket.  Mobil melaju kencang menuju Dieng.  Untuk agenda awal Agustus yang sudah mengular, sementara tugas bulan lalu belum kelar, maka surat dengan amplop lusuh hanyalah kelakar.  Tugas dari klub jurnalistik sekolah untuk meliput Dieng Culture Festival (DCF) ke-10 tahun ini menyedot perhatianku.

Sepanjang perjalanan, mulut Lika tak henti-hentinya mengomentari satu dekade DCF.

“Uwaaahh, Gugun Blues Shelter, Iis Payung Teduh!  Bagaimana bisa melewatkannya,” pekiknya menggetarkan seisi mobil.  Aku tak menanggapi.  Masih terbayang tugas fisika yang belum rampung.

“Bersih-bersih area Candi Arjuna, pembukaan DCF ke-10, aksi menghangatkan diri bareng purwaceng, dilanjutkan menikmati lembutnya carica.  Kita akan disuguhi selawat yang merdu, pengajian bersama Mas Sabrang Noe Letto.”  Ia menjeda.  Matanya berbinar demi nama itu.  Jelas bukan lantaran pengajiannya.  “Terus, ada pagelaran musik, sendra tari, dan menutup rangkaian kisah 2 Agustus, jazz atas awan akan mengiringi malam syahdu.”

Telingaku terjaga untuk suara cempreng Lika.  Tapi kantuk sudah tak dapat kutahan.  Aku harus melewatkan dua hari lagi untuk sampai pada acara puncak ruwatan rambut gimbal.  Sekarang saja badanku serasa remuk redam.  Di hari kedua, kami masih harus melaju diantara padat acara.  Seni tradisional dan aneka festival.  Festival caping, domba, dan kopi.  Malam sebelum menerbangkan lampion akan digelar ketoprak.

“Aku lebih tertarik dengan ruwatan rambut gimbal,” komentarku pendek.

“Apa sih, serunya.  Cuma potong rambut,” sergah Lika.

“Eits, tunggu!” Sopir sekolah yang mengantar kami angkat bicara.  “Jangan meremehkan prosesi pemotongan rambut gimbal.  Ini lain dari yang lain.  Acara sakral yang membebaskan mereka dari sesuker atau kesialan.  Jangan sampai sikap menyepelekanmu membuat gimbal pindah ke rambut indahmu itu.”  Aku tak bisa menahan tawa.  Lika tampak bersungut-sungut memegang rambut kebanggaannya yang pernah jadi iklan sampo lokal.  Sayang, keluarga tidak mendukungnya jadi model.  Tak putus asa, ia menekuni dunia fotografi dan menjalankan peran penting di klub jurnalistik sekolah.

Ketika mobil yang membawa kami menginjak tanah surga ini, bibirku bergetar, tanganku kaku, tubuhku beku.  Semua seolah merosot ke nol derajat.  Hingga semangatku.  Dieng, dingin, alergi.  Begitu urutannya.  Sebagaimana yang kurasakan bulan lalu saat meliput tokoh kreatif, seorang petani kentang yang mendunia.  Pak Damar namanya.  Anaknya bernama Binar.

Kesuksesan Pak Damar diyakini berkah dari anaknya yang gimbal.  “Kalau bukan karena Binar, mungkin penjualan kami tak sehebat ini,” ujarnya.  “Jadi, Binar sangat kami manjakan.  Apapun keinginannya nanti saat ruwatan, akan kami turuti.”  Saat pemotongan rambut gimbal, sang anak gimbal harus meminta sesuatu kepada orang tuanya.  Jika dikabulkan, rambutnya akan tumbuh normal.

Aku sempat berkenalan dengan Binar. Anak perempuan berwajah menggemaskan itu menopang rambut yang menggimbal di kepalanya yang cerdas.  Namun dia suka merajuk.  Senang sekali bermain di kebun tak peduli terik menyengat, harus naik turun area kebun, bahkan saat hujan mengguyur bumi Dieng.  Ia yang masih duduk di kelas 4 SD terus mengekor saat aku mewawancarai bapaknya.  Pada Lika, ia minta difoto bersamaku.  Yang mengherankan, saat kami pulang, kulihat matanya berkaca-kaca.  Tak lama berselang, ia histeris dan bertingkah aneh.   Tak tahu dengan cara apa harus membendung tangisnya.

“Berikan saja kenang-kenangan, nanti ia diam,” saran Pak Damar.

Aku mengorek tas punggung dan menemukan buku harian serta sebuah pulpen.  Sejak benda-benda itu kuberikan, tangisnya reda.  Kami berpisah.  Aku tersenyum sendiri mengingatnya dan menyampaikan pada Lika aku ingin menemuinya lagi.

“Bagaimana kalau kejadian lalu terulang lagi?” Lika menimbang.

“Gampang, tinggal kasih mainan,” jawabku.  “Eh, mungkin ia ikut ruwatan tahun ini,” kataku.

“Iya juga.”  Lika tersenyum.  “Kalau aku jadi Binar, aku akan minta mobil.  Bapaknya kan kaya raya karena keberkahan dari Binar juga.”

Sambil melirik spion tengah, Pak Sopir bicara, “Pak Damar memang tekun kok.  Ia pandai berinovasi.  Manajemen bagus.  Tak heran, bisnisnya mendunia.  Tentu saja, ada campur tangan Tuhan di sana.  Dan kelahiran Binar yang telah dinantinya bertahun-tahun, tentu menyulut semangatnya dalam berusaha.  Itu juga yang berkontribusi terhadap kemajuan usaha pertaniannya.”

Kepalaku dan Lika sontak manggut-manggut.

“Aku jadi penasaran, apa keinginannya.”

“Mau bertaruh?” tantang Lika.

Aku menggeleng.  Dalam benakku bertanya-tanya, dari mana keinginan itu berasal.  Kalau dari bocah itu sendiri, rasanya mainan saja sudah cukup membahagiakan.  Tapi ada kalanya mereka meminta kambing, kuda, motor, gawai, atau barang-barang lainnya.  Alih-alih menemukan jawaban, aku terlelap.  Baru terbangun ketika mobil mencapai rumah singgah.  Hawa dingin serta-merta menyergapku.  Menusuk relung tubuh.

Minuman purwaceng yang disediakan tuan rumah ibarat belaian seorang ibu.  Tubuhku berhasil beradaptasi.  Sementara Pak sopir berbincang dengan orang-orang, aku membungkus diri dengan selimut.  Obat anti histamin yang kubawa, sudah kutelan.  Kepalaku langsung terasa berat.  Mataku seperti kena lem.  Seluruh tubuhku serasa tak bertulang.

Aku benci menjadi lemah.  Mestinya malam ini bersama Lika menyusun rencana esok hari.  Atau setidaknya membuat daftar pertanyaan untuk narasumber.  Namun tubuhku tak mampu menyangkal hawa dingin.  Aku harus bergelut dengan alergi.  Bukan hanya saat suhu rendah seperti sekarang.  Ketika dihantam berbagai tugas, kepalaku disibukkan banyak sekali pikiran, panik mendera diikuti ruam nyaris di sekujur tubuh.  Tak ada yang menyadari keterpurukanku.  Bahkan Lika.

“Kamu boleh tidur sekarang.  Tapi tidak pada malam pelepasan lampion.”  Suara Lika masih kencang.

Ya, tentu saja.  Harapanku untuk lepas dari alergi, tetap tenang menghadapi tekanan, melebihi tingginya lampion.  Yang kupikirkan sebenarnya, semua harus berjalan sempurna.  Sehingga hal kecil saja yang mengusik sudah membuatku panik.  Aku lari ke obat dan mesti menanggung efek yang berat.

Keesokan harinya, aku terbangun dengan perasaan berbeda.  Kabut tipis masih menyelimuti Dieng bahkan ketika jarum jam mendarat di angka tujuh.  Tapi para petani dalam balutan pakaian tebal dan sepatu boots sudah memeriahkan perkebunan.  Di punggung mereka tergendong tangki penyemprot hama.

Aku dan Lika mengabadikan momen itu.  Sepagi ini mereka telah berakrab-akrab dengan kentang, kol, lobak yang memenuhi bukit.  Bentuk terasering tampak seperti hamparan buku yang harus kubaca sebagai sumber ilmu.

Kali ini aku dan Lika membacanya sebagai keindahan.  Orang-orang melihatnya sebagai sumber ekonomi.  Beberapa menyaksikan sebagai alamat bencana.

Sewaktu mewawancarai Pak Damar, beliau berkata, “Kami bersama pemerintah berupaya mengembangkan pertanian ramah lingkungan biar semuanya lestari.”

Ia menambahkan lagi.  “Ledakan gas beracun kadang menghantui.  Belum lagi gerakan tanah yang sewaktu-waktu bisa menggeser rumah kami.  Area kebun tanpa pohon besar sebagai penahan air tanah ini menyebabkan rawan longsor.”  Lelaki berpipi merah itu mengatakan hidup memang penuh dinamika.  Ia tak bisa menolak tinggal di Dieng.  Garis hidupnya sudah pasti.  Sama pastinya dengan rambut gimbal yang melekat di kepala anaknya.

Ah Binar.  Kuharap semua lebih baik usai ruwatan nanti.  Sehingga bisa membawa keberkahan buat keluarga bukan lantaran rambut gimbal yang konon titisan Kolodete.  Tapi karena kebaikan dan kepandaiannya.  Aku tertarik dengan kepiawaiannya menjelaskan tentang kebun kentang.  Bukan hanya detail, diksi yang digunakan memberi kesan tersendiri.  Kadang ia memberi ilustrasi dan coretan-coretan di kertas.

Aku ingin segera menemui anak itu.  Tapi festival kopi di hamparan rumput Lapangan Pandawa ini tak bisa kulewatkan.  Aku mewawancarai seorang barista dan Lika merekamnya dari titik tertentu.  Sudut pandangnya menarik dan memberi efek sinematografi yang keren.  Setelah itu, dua gelas kopi tersaji di depan kami.  Robusta Dieng yang aromanya menggembirakan.

“Jadi jurnalis seru ya, Ra? Kenalan sama barista, dapat kopi pula.”  Ia meringis memamerkan baris-baris giginya.  Aku mengangguk sembari mencatat hal-hal penting sebagai bahan tulisan.  Sejak tadi Lika asyik sekali mengobrol.  Tidakkah dia mengerti aku sedang tak ingin diganggu?

“Kak, boleh coba jenis kopi lain nggak?  Aku mau esspresso arabika.”  Lika mendekati barista itu lagi.  “Apa aku diizinkan meracik sendiri?”  Dengan senang hati barista itu mengajari Lika.

Buang-buang waktu saja.  Sebenarnya Lika biasa membuat bermacam kopi di kedai milik keluarga kami di Pasar Pekalongan.  Lika selalu saja begitu, memanfaatkan kesempatan bertemu orang baru.  Sementara tugasku masih berderet.  Terutama menemui Binar.  Kepalaku berkecamuk.  Efek obat alergi saja masih bikin pening kepala.  Belum lagi suara Lika yang membuat runyam keadaan.  Tak urung, aku stress.

Aku memberi kode pada Lika supaya berhenti bicara.  Kupikir dia akan paham.

“Meskipun dingin, ini dataran yang indah ya! Kesempatan emas bisa meliput acara Dieng Culture Festival.  Ah, kita tidak boleh menyia-nyiakannya,” celotehnya.  “Ayo berfoto bareng, Kak!” ajaknya pada barista itu.  Perkiraanku meleset.  Ia tak kunjung menyudahi obrolannya.

Aku menyeruput kopi lagi lalu melangkah menjauh.  Lika terkejut, tak menyangka aku akan meninggalkannya.  Waktuku habis sia-sia jika terus meladeni Lika.  Pekerjaan yang menggunung mesti dicicil biar kepalaku perlahan dingin.

“Dara, kamu baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

“Aku harus menulis.”

“Jadilah jurnalis yang baik.  Mencoba bikin kopi apa salahnya, sih.  Itu juga memperkaya pengetahuan dan memperdalam isi berita.  Setidaknya kamu tambah kenalan.  Cobalah hal-hal baru.  Apa sih, yang kamu pikirkan?”

Langkah kakiku makin deras ke mobil tanpa menanggapi satupun ucapan Lika.

“Ra!” teriak Lika setengah berlari.

Sampai di mobil, ia tak henti menggetarkan gendang telingaku dengan nasihat-nasihatnya.  Sopir juga mendukungnya dengan mengucapkan hal yang membuatku berpikir panjang.  “Orang hebat juga butuh sahabat.  Mandiri tetap tak bisa hidup sendiri.”

Tak sedikitpun keliru.  Ayah berkata aku berbakat menulis.  Ibu pembimbing klub jurnalistik menyampaikan, berita yang kutulis di platform berita sekolah tajam dan enak dibaca.  Banyak email masuk, bukan hanya mengajak berkenalan, tapi memuji, juga minta diajari.  Tapi, apa kerennya tanpa foto dari Lika, tanpa bimbingan dari bu pembimbing.  Apa artinya semua itu tanpa narasumber seperti Pak Damar.  Dan yang lebih penting, tulisan akan mati tanpa pembaca. Malam itu, lampion-lampion melangitkan anganku.  Membebaskannya ke cakrawala.

***

Kejadian semalam menyulut energi dan mengantarku pada arak-arakan menuju kompleks Candi Arjuna.  Suara bising mengisi rongga langit Dieng.  Ruwatan rambut gimbal dilaksanakan 4 Agustus 2019.  Puncak ritual DCF ini dihadiri Bupati beserta jajarannya.  Acara dimulai dengan penjamasan atau penyucian di sumber mata air Sendang Sedayu.

Usai berjalan ke Dharmasala untuk merapikan pakaian, rombongan mulai menuju salah satu candi di kompleks Candi Arjuna.  Blitz kamera Lika tak henti-hentinya menyala.  Mataku sibuk mencari Binar diantara bocah-bocah berambut gimbal yang berjejer di panggung utama.  Dalam seragam kebaya dan beskap lurik, mereka tampak serupa.

Dadaku bergetar ketika prosesi itu dimulai.  Tangan Pak Bupati memegang gunting dan rambut gimbal itu mulai dipangkas.  Segenggam rambut yang menyatu diletakkan pada nampan yang dialasi kain putih.  Saat itu, seolah mereka terbebaskan dari kutukan.  Membuang gimbal di rambut mereka berarti membuang kesialan.  Sungguh dibutuhkan prosesi panjang dan tebusan mahal untuk membuat perubahan.

Aku mencatat permintaan anak-anak itu dan menggali karakter mereka dengan mewawancarai orang tua masing-masing.  Tapi aku tak mendapat jawaban pasti ketika bertanya pada Pak Damar.  Ada kabut di wajahnya.  Ketika menemui Binar secara langsung aku tak sabar mengetahui pengalamannya.

“Bagaimana rasanya?” tanyaku pada anak berhidung mancung itu.

“Senang,” katanya.

“Kalau boleh tahu, Binar minta apa sama bapak?”

Kedua bahu Binar terangkat sebagai ganti jawaban.  Aku mengusap rambutnya.  “Apapun permintaanmu, kini kamu makin ayu.”  Pipinya bersemu merah. Tangan-tangan gendutnya ia mengeluarkan buku harian yang pernah kuberikan.

“Aku sering  menulis di buku ini.  Terimakasih ya, Kak.”  Binar menunjukkan isi buku yang penuh coretan.  Aku terperangah melihatnya.  Uniknya, tak satupun tulisan di buku itu menggunakan huruf besar.

Akhirnya, kami berpisah dalam suasana hiruk pikuk arena ruwatan.  Lika yang tadi masih asyik dengan kameranya bergegas menyusul.  Haru, bahagia, dan puas memenuhi dada.  Sepulang dari Dieng Culture Festival, jiwaku rasanya lebih kaya dari sebelumnya.

Tak buang tempo, sesampainya di rumah aku segera membuka laptop.  Memindah beberapa file dari ponsel.  Lalu menulis laporan.  Suasana panas di Pekalongan membuatku ingin melepas jaket.  Saat mengibaskannya, amplop surat lusuh yang kutaruh di saku terjatuh.  Demi amplop itu, aku mengabaikan laporan yang semula jadi prioritas.

Perlahan kubuka.  Isi surat tak ada separuh halaman kertas.  Aku mengamati dan rasanya mengenal kertas ini.  Meski tentu saja, banyak model dan motif kertas yang sama.  Tapi aku tidak lupa pada gambar burung dara yang kugoreskan pada setiap lembar di buku harian.  Dan buku harian itulah yang pernah kuberikan pada Binar!

suka lihat mbak dara bermain di kebun kentangku dulu.  aku ingin seperti mbak dara yang wawancara sama bapak.

oiya, bapak berkali-kali tanya aku minta apa saat ruwatan.  aku selalu menjawab tak perlu.  aku ingin buku harian dan sudah dikasih sama mbak dara dan aku mau jadi reporter seperti mbak dara.  tapi kalau rambutku masih gimbal, apa bisa?

 

dieng, 30 juli 2019

 

Aku tertegun.  Bukan hanya kagum pada keberanian anak itu.  Tapi malu, saat seorang anak dengan tulus menyatakan kekagumannya.  Padahal, apalah aku?  Penulis berita yang terus mengeluh saat lelah, berharap semua memahamiku tanpa aku menceritakannya.  Reporter utama majalah digital sekolah yang panik saat keadaan pelik.  Seorang siswa SMA yang kerap marah jika sesuatu tak berjalan sesuai rencana.  Huruf demi huruf kutelusuri lagi.  Ini benar tulisan Binar.

“Bisa,” gumamku menjawab pertanyaan bocah itu dalam surat.  “Kamu bisa jadi apapun.”

Mainan, kambing, motor, gawai seperti yang biasa anak-anak gimbal minta tentu punya nilai.  Tapi anak yang menggenggam cita-cita tentu lebih berharga.  Permintaan itu tak hanya membuang sial, bukan saja menorehkan perubahan, tapi mendorongnya sukses di masa depan.  Ini sebuah loncatan di tengah mitos tak berkesudahan.

Pesan rahasia Binar memberi gambaran lebih jelas tentang wajah Pak Damar yang terus berselimut kabut sepanjang acara.  Ia pasti khawatir rambut gimbal Binar akan tumbuh lagi hingga keinginannya terpenuhi.  Dan menjadi reporter butuh waktu lama.  Aku tak menyalahkan Pak Damar.  Pesan leluhurnya tentu ia pegang.  Namun, mestinya mereka bersyukur.  Kelak, Binar kecil akan jadi manusia besar.  Kusampaikan pada Lika, kini aku berani bertaruh, Indonesia akan bangga memiliki putri kecil yang berbinar dari tanah Dieng.

Penutup

Ada banyak budaya tradisional di Indonesia.  Dari yang sudah populer hingga yang baru terkuak.  Kita bisa mengulik lebih dalam, mengeksplorasi banyak budaya melalui riset.  Dan tentu saja, menulis cerpen bertema budaya selain bertujuan untuk mengabadikan momen, juga untuk melestarikan budaya adat.

 

 

Comment