by

Cerpen Anak Tema Menjadi Diri Sendiri

Cerpen anak dengan tema menjadi diri sendiri sangat menarik untuk digali.  Ada banyak konflik yang bisa menjadi ide.  Bagaimana seorang anak tumbuh dan berkembang sesuai kepribadian, sebagaimana passion yang disukai anak.  Karena seringkali, orang tua memaksakan kehendak atau menitipkan idealisme mereka kepada anak.  Orang tua memandang baik untuk anak, namun belum tentu anak merasa nyaman.

Membuat cerpen dengan tema ini menjadi tantangan tersendiri.  Selain itu, bisa menjadi edukasi kepada anak bahwa menjadi diri sendiri itu penting.  Dengan menjalani hidup sebagaimana kata hati, potensi yang dimiliki anak semakin berkembang.

Menjadi diri sendiri penting. Sebagaimana kata seorang ahli.

Orang tua akan melakukan apapun demi anak-anak mereka, kecuali membiarkan mereka menjadi diri sendiri- Banksy

Contoh Cerpen Anak Tema Menjadi Diri Sendiri

Saya tuliskan contoh cerpen anak dengan tema menjadi diri sendiri.  Tujuannya sebagai sarana mendidik tanpa menggurui.  Anak-anak yang membaca cerita ini tidak merasa sedang dinasihati.  Karena biasanya anak-anak, terutama remaja mudah berontak, sulit menerima masukan.  Cara indah menyampaikan pesan, salah satunya adalah melalui cerita pendek.

Saya mengambil kisah tentang rumah boneka.  Anak perempuan tidak harus bermain boneka.  Siapa bilang boneka itu wajib?  Ada banyak cara mereka mengaktualisasikan diri.  Anda bisa nikmati contoh cerpen berikut.

 

Rumah Boneka

Mika tak pernah absen memanjat pohon salam.  Dari sana ia mengamati ayahnya yang sedang membuat rumah-rumah boneka untuk dijual.  Sesekali, ada tamu yang datang membelinya.

“Aku mau yang ini, Bu,” rengek Tita, bocah berambut panjang yang membopong boneka. 

Terpaksa Ibu Tita meloloskan permintaannya.  Kini boneka beruang Tita punya rumah baru.  Ia senang bukan main. 

Seorang lagi datang bersama anak perempuan berpita merah jambu.  Ia membawa dua boneka cinderela.  Tangan mungilnya sibuk memilih-milih rumah yang pas.  Ia ingin rumah boneka yang bentuknya seperti istana.  Mika masih mengamati sambil menikmati buah salam yang manis.  Ia sampai naik lagi satu dahan untuk mendapatkan buah terbaik.

“Ini bagus, Bu,” ucap bocah itu.  Ibunya membayar dengan harga yang pantas. 

Sebelum pergi, bocah itu bertanya.  “Pak, apakah Mika anak Bapak?”

Lelaki pembuat rumah boneka itu terkejut.  “Oh!  Kamu kenal Mika?”

“Saat aku main boneka bersama teman, Mika ada di padang rumput.  Ia menyeret kambing-kambing berbulu putih.  Kami mengikutinya karena kambing itu mirip boneka temanku.  Ia berbelok ke sini.”  Anak itu berkata jujur.

“Ah, iya.  Benar.  Mika suka menggembalakan kambing Kakek.”

“Apa ia suka main boneka?”

Dari atas pohon, Mika ingin menjawab bahwa ia lebih senang naik pohon salam.  Bersembunyi dari orang-orang.  Atau menggembala kambing-kambing lucu itu.   Ayah Mika mengangguk saja.

“Senangnya jadi Mika karena ayahnya pembuat rumah boneka.  Tinggal pilih saja semaunya.”

“Tentu.”

Setelah mereka pergi, Ayah merenung.  Seingatnya, Mika tak punya boneka.  Ayah sedih sampai melupakan hal sepenting itu.  Sangat konyol anak perempuan si pembuat rumah boneka bahkan tak punya boneka. 

Hari ini Ayah membeli boneka cantik berambut pirang.  Baju boneka itu bergambar strawberry.  Satunya lagi, boneka kucing berbulu coklat.  Ayah bertekad membuatkan rumah boneka-boneka itu.

Ayah ingin segera menyerahkan hadiah manis itu untuk Mika.  Ia mencari putrinya di rumah.  Tak ada.  Kamarnya juga kosong melompong.  Ayah bertanya pada Kakek barangkali Mika menggembala kambing lagi.  Kakek tak tampak.  Tapi kambing-kambing itu sedang bermalas-malasan di kandang.

“Mikaaa!”  Suara ayah menggelegar.

Mika yang sedang bersandar di dahan salam yang besar terkejut.  “Ya, Ayah!” sahutnya.

Ayah tahu sumber suara itu.  Kepala ia dongakkan ke atas.  Rupanya benar.  Mika memang ada di sana.  “Turun, Nak.  Kamu naik terlalu tinggi.  Tak sepantasnya anak perempuan naik-naik pohon begitu.”

Sambil bersungut-sungut, Mika turun. 

“Lihat, aku memetik buah salam.”

“Ya, Mika.  Mari, Ayah perlihatkan sesuatu.”   

Di sudut ruang tengah, berdiri rumah kayu dan dua boneka yang baru Ayah beli.  Sejenak Mika tertegun.  Ia mendekati rumah-rumahan itu. 

“Pesanan siapa, Yah?”

“Ini untukmu, Nak.”  Ayah menjawab dengan bangga.

Mika masih terdiam.  Ia mengusap rumah itu, memegang boneka imut itu.  “Sebenarnya Ayah tak perlu repot.  Tapi terimakasih.”  Ia menatap Ayahnya dengan sungguh-sungguh.  Tatapannya beralih ke jam dinding dari kayu.  Lantas berpamitan untuk menggembalakan kambing. 

Tiga ekor kambing berbulu putih bersih digiring ke padang rumput.  Mika yang berkaus coklat dan bercelana training berlarian di belakangnya sambil menyanyi riang.  Ayah melihat adegan itu dengan senang sekaligus sedih.  Rumah bonekanya ditinggalkan.

“Rupanya itu yang membuat bahagia.  Tak apa, Mika harus jadi dirinya sendiri,” ucap Ayah.

 

baca juga : cara membuat cerpen anak

 

Penutup

Cerita pendek adalah sarana menyampaikan pesan yang menarik.  Tema menjadi diri sendiri, salah satunya adalah cara orang tua menasihati tanpa menggurui.  Ada banyak sisi dari tema ini yang dapat dijadikan ide menulis cerpen.  Selamat mencoba.

Comment