Cerpen Anak Tema Meraih Impian

Edisi Ramadhan kali ini saya membuat cerpen anak tema meraih impian.  Kenapa?  Saya tertarik menuliskan kisah tokoh yang memiliki konflik tapi sulit mengatasinya.  Setidaknya ada pesan mendalam bagi anak-anak seluruh Indonesia.  Terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Anak laki-laki itu bernama Bayu.  Saya jadikan tokoh utama cerpen.  Ia kebingungan dan sedih saat tak menemukan kedua orang tuanya ketika ia bangun pagi hari.   Dengan menyisipkan kearifan lokal, saya buat cerita ini sederhana namun semoga pesan tersampaikan.

Cerpen Anak bertema Meraih Impian

 

Memungut Impian

Yayuk Widaningsih

 

Waktu itu kupikir bapak ibu benar-benar pergi.  Dadaku berdebar kencang.  Kucari-cari mereka dalam kantuk dan sedikit pusing.  Tak satupun.  Tak satu ruangpun.  Kamar, kamar mandi, dapur, ruang tengah, ruang depan.  Tak ada mereka.  Gerimis datang, ketika aku mulai menangis sesenggukan.

“Bapaaaaak!”

Kubuka korden depan.  Gelap di luar menghadang.  Seperti ada bayangan berkelebat.  Hatiku ciut.  Korden kututup lagi.  Aku berdiri kaku di depan jendela.  Kemana bapak ibu.  Tega-teganya meninggalkanku sendirian.  Gubug reyot.  Jauh dari tetangga pula.  Bagaimana aku hidup.

“Ibuuuuu!”

Kini kubuka pintu.  Agak sulit.  Pintu kayu berderit alot.  Setelah kupaksa, akhirnya terbuka.  Udara dingin, tempias air menyerbu ke dalam.    Dalam gigil kedinginan aku berjalan.  Tak henti-hentinya memanggil-manggil bapak ibu.  Tak ada yang menyahut.  Badanku basah, lututku lemas.  Hatiku getir.  Apakah aku akan sebatang kara.  Siapa yang akan menjagaku?

Aku jadi ingat saat ibu memasak di dapur sambil bolak-balik membangunkanku.  Aku paling malas bangun pagi.  Rasanya mataku lengket.  Wajar saja karena aku sering begadang, keluar bersama teman-teman atau nonton film di televisi.  Kasihan juga ibu.  Ibu sering marah gara-gara aku, padahal sebenarnya sangat menyayangiku.  Ibu selalu menyediakan makan siang kesukaanku sepulang sekolah.  Sop bayam dan jagung muda.

Selama ini ibu paling sering menyemangatiku.  Meski nilaiku jelek, meski kadang aku bolos sekolah, meski sering aku malas.  Makanya ibu sering bangun malam, berdoa sambil menangis.  Lalu datang mengelus kepalaku.  Aku menyesal.

Aku juga ingat ayah.  Ayah yang pendiam tapi gigih bekerja meski dihalau terik mentari.  Meski diguyur hujan.  Bapak kerja kerjas untuk menyekolahkanku.  Meski, bayaran dari juragan tanah dimana ayah bekerja sering terlambat.

Tapi di mana mereka semua?  Kalau Bapak Ibu pergi, aku ingin minta maaf dulu.  Saat itu petir menyambar.  Di jalan tak ada seorangpun.  Aku kembali karena ngeri.  Di rumah, aku duduk diam.  Tak tahu apa yang harus kuperbuat.  Baru saat mentari mulai nampak, kudengar dua orang berbincang.  Itu suara ibu dan bapak.  Dari mana mereka?  Aku berlari memeluk keduanya sambil menangis tak karuan.

“Jangan tinggalkan aku, aku janji tak nakal lagi.  Bayu janji, belajar lebih giat.  Nggak akan ada lagi nilai nol.  Pokoknya Bapak Ibu jangan pergi!”  tangisku pecah lagi.

Bapak Ibu saling pandang keheranan.  Keranjang di tangan mereka letakkan.  Tangan bapak meraih bahu bayu.

“Bayu kenapa?”

“Bapak jangan pergi,” ulangku.

“Duduk dulu, Nak!” perintah ibu.  “Ibu nggak kemana-mana.  Cuma ke kebun di ujung sana.  Semalam hujan.  Pasti banyak duku berjatuhan.  Jadi kami nekad pergi untuk memungut duku yang jatuh.  Lumayan dapat 3 keranjang.  Kita jual ke juragan Barjo nanti.  Uangnya buat biaya sekolah kamu, buat makan kita.  Kita memungut impian kita.”

Aku ternganga mendengar penjelasan Bapak.  Jadi itu alasannya.  Mereka tak berniat meninggalkanku.  Tapi mencari duku yang jatuh dari pohonnya.  Aku pernah dengar tetangga juga melakukannya.  Di musim duku dari Desember hingga Maret, biasanya duku di desaku mulai berbuah.  Ada yang sudah matang duluan.  Ada yang masaknya lambat.  Panen berlangsung hingga hampir dua bulan.

Saat panen, banyak orang berduyun-duyun memungut duku yang tak sengaja jatuh.  Duku-duku yang bagus dipisah, sedang duku pungutan akan diberi harga yang berbeda.  Ada juga duku yang jatuh malam hari karena kelelawar atau hujan deras.  Duku-duku itu punya harga sendiri.  Makanya banyak orang yang nekat bangun dini hari untuk memungutnya.  Seperti yang Bapak Ibuku lakukan.

Tapi, karena aku sudah membuat Bapak Ibu kesal, jadi kupikir mereka marah.  Nilaiku nol.  Ujian semester banyak yang mengulang.  Tiap hari main tanpa henti.  Sementara bapak ibu, malam, gerimis rela mencari uang demi sekolahku.

Aku menangis lagi.  Tapi tangisku benar-benar beda.  “Pak Bu, maafkan Bayu.  Sungguh, kini Bayu janji bakal nurut Bapak Ibu.  Rajin belajar dan membantu ibu sebisaku.”

Ibu tersenyum.  “Bukti ya, bukan janji.   Bikin teh dulu sana.  Tiga ya, Bapak sama Ibu juga kedinginan.  Nanti kita antar duku ini sama-sama.  Semoga diterima semua.”

Bapak berjalan ke kamar mandi.  “Sayangnya, harga duku musim panen ini tak terlalu tinggi.  Duku desa kita kalah saing sama duku dari Sumatera.  Terutama Palembang,” ucap Bapak menanggapi.

“Iya, karena obat semprotnya juga macam-macam.  Kadang racun.  Pedagang sekarang asal dapat duit. Buahnya memang bagus, tapi nggak aman buat kesehatan.  Coba kita punya tanah, menanam pohon sendiri,” ibu berkata sambil meluruskan kakinya di kursi panjang.

Aku menuju dapur.  Menyalakan kompor.  Memasukkan daun teh kering ke teko.  Aroma teh membuat perasaan Bayu begitu hangat meski badannya basah dan sedikit demam.  Tapi Bayu bertekad tetap berangkat sekolah.  Setelah membereskan kamar, ia merapikan buku-buku yang selama ini tergeletak asal.  Ia menuliskan sesuatu pada sesobek kertas.

Semangat Menuntut Ilmu Demi Ayah Ibu

Lalu menempelkan kertas itu pada dinding kayu kamarnya.  Ia tersenyum bahagia.  Lalu mendadak ingat ada pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan.  Matanya melirik jam dinding.  Waktunya sudah agak mepet.  Ia mencoba membuka buku matematika.

“Ah, angka-angka ini dari mana datangnya!” sambil meremas-remas rambutnya.

“Kenapa, Yu?”

“Ternyata tidak mudah berubah, Bu.  Impian itu terasa sulit bagiku.”

“Tetap semangat, ya.  Ibu yakin kamu bisa.  Kamu hanya kurang sungguh-sungguh.  Bertanyalah pada guru atau temanmu yang pintar.”

Bayu menutup bukunya.  Ia benar-benar tak sanggup mengerjakan.  Tak mengerti menggunakan rumus yang mana.  Ia berjanji akan bertanya temannya sesampainya di sekolah.

Ibu mengiringi kepergian Bayu ke sekolah dengan doa.  Semoga Allah mudahkan usahanya.

baca juga : cara membuat cerpen anak

Penutup

Cerpen ini masih bisa dikembangkan lebih jauh dan lebih menarik lagi sebenarnya.  Masih bisa ditambah konflik ketika Bayu mencari Bapak Ibunya.  Atau konflik ketika Bayu pulang ke rumah.  Atau proses Bayu meraih impian.  Sebuah tantangan bukan menulis cerpen dengan mengembangkan ide yang sudah ada sehingga cerita jadi semakin kaya dan lebih baik lagi.  Silakan teman-teman coba.

Semoga penyesalan Bayu tidak sia-sia.

 

Comment