by

Cerpen dengan Sudut Pandang Orang Kedua

Cerpen dengan sudut pandang orang kedua tak banyak ditemukan.  Ada tantangan tersendiri saat membuatnya.  Pada teknik ini, tokoh menempatkan dirinya sebagai orang lain dengan sebutan kau, kamu, engkau, atau dalam bentuk jamak, kalian.

Dibandingkan dengan sudut pandang orang pertama (aku) atau orang ketiga (dia), sudut pandang orang kedua memiliki keterbatasan.  Penulis tidak bebas mengungkapkan diri karena seolah sedang berdialog dengan dirinya sebagai ‘kau’.

Asal paham bagaimana menyiasati dan berkreasi dengan ceritanya, cerita pendek dengan sudut pandang orang kedua tetap mampu menarik perhatian pembaca.  

Apa itu Sudut Pandang?

Sudut pandang merupakan bagian dari unsur penting dalam cerita.  Penulis harus menentukannya sejak awal membuat cerita.  Pemilihan sudut pandang yang tepat mendorong pemahaman terhadap cerita dan memberi efek psikologis tertentu terhadap pembaca.

Sebagai gambaran, saya beri contoh sebuah kejadian.  Belum lama terjadi kebakaran rumah seorang warga.  Penghuni rumah ada lima orang.  Pasangan suami istri, dua orang anak, dan seorang nenek yang sudah renta.  Pada saat terjadi kebakaran, suami sedang bekerja.  Istri di rumah dengan nenek dan anaknya yang berumur 5 tahun.  Anak yang pertama sedang bersekolah.

Jika kejadian tersebut akan dijadikan sebuah cerita pendek, penulis harus memilih sudut pandang yang tepat.  Secara nyata, orang-orang yang terlibat dalam tragedi tersebut ada beberapa.  Suami yang tidak ditempat, istri yang menyaksikan langsung, nenek yang sudah renta, bocah kecil berusia 5 tahun yang mungkin tidak bisa memberi penilaian secara tepat, ada pula tetangga sebagai saksi mata.  Sudut pandang bisa dipilih dari sisi mana tokoh menceritakannya.  Penulis sebagai pencerita dapat memilih tokoh paling kompeten.  Dalam hal ini adalah istri.  Ia bisa merasakan secara langsung dan menceritakan detail kejadian.

Ciri-ciri Sudut Pandang Orang Kedua

Cobalah baca sebuah karya dengan sudut pandang orang kedua.  Mengidentifikasi karakteristiknya memberi kita banyak pengalaman untuk lebih memahami berbagai gaya sudut pandang.

Setelah membaca, sangat mungkin Anda menemukan dalam cerita tersebut, hal-hal sebagai berikut:

  1. Menggunakan kata ganti orang kedua. Kamu, kau, atau kalian;
  2. Penulis menempatkan pembaca sebagai tokoh utama dan penulis berdialog dengan tokoh tersebut terus menerus hingga akhir cerita;
  3. Secara konsisten, penulis menghindari penulisan kata ganti ‘aku’

Contoh Cerpen dengan Sudut Pandang ‘Kau’

Ada beberapa karya yang menggunakan sudut pandang orang kedua.  Dadaisme karya Dewi Sartika, Cala Ibu karya Nukila Amal, Kabar Buruk dari Langit karya Muhiddin M. Dahlan.  Ada juga novel karya Triskaidekaman, Buku Panduan Matematika Terapan.  Novel-novel itu tentu saja tersa baru dan unik.

Bukan tidak mungkin penggunaan ‘kamu’ sebagai tokoh ini justru menari.  Cerita tersebut terasa beda.  Untuk itu saya tertantang membuatnya.  Berikut saya berikan contoh cerita pendek yang mengambil sudut pandang orang kedua.

 

Kerang Putih

 

Terakhir berkabar, suaramu masih ingar mengisi Pasar Ikan.   Sesekali bingar di tepi trotoar.  Sejak kemarin, suaramu tak lagi terdengar.  Kamu mulai mengurung diri di kamar.  Malam ini Lena melakukan video call dari Surabaya, mencari tahu alasanmu menempi di ruang sempit.

“Nggak papa.”

Ucapanmu bernada kalah.  ‘Nggak papa’ berarti, kamu tidak apa-apa di manapun berada atau ada sesuatu yang tidak ingin kau sampaikan.

Tapi Lena menyelidik.  “Apa benar karena kematian Wening?”

Kamu tersenyum tipis.  Menatap Lena lekat-lekat.  Dalam beberapa detik, Lena merasa dilucuti.  Kamu tak bersuara.  Tapi diammu adalah tindakan paling kejam yang Lena dapat.

Lena tak sanggup lagi.  Tatapanmu bukan tajam.  Tapi membakar.  Kini Lena menunduk dalam.  Menatap ke jari-jari kakinya.

Wening, teman kalian ketika SMA.  Ia tak berkesempatan kuliah dan memilih menjual pecel di pasar ikan.  Saking seringnya makan di sana, kalian akrab.  Lena tahu kamu biasa saling bercanda.  Tanpa sadar, kamu juga sering menceritakan gadis itu pada Lena.

Berita lelayu pekan lalu mengejutkanmu dan semua orang.  Wening meninggal seolah tanpa sebab.  Fisik mudanya tampak sehat.  Lena menelponmu, tapi kamu tak menjawab.  Lena sampai ingin pulang.  Tapi tugas kuliah tak kasih peluang.

“Bukan karena Wening.”  Kamu mengatakannya dengan samar.

“Lalu?”

“Tak mengapa.  Semoga sukses,” katamu pada Lena seraya menutup panggilan.

Lena tak bisa mengerti mengapa.  Bisa-bisanya kamu main rahasia.  Sejak itu kamu tak pernah bercerita lagi soal keceriaan Pasar Ikan pada Lena.  Berita tentang udang dimuseumkan.  Kabar paus terdampar tak lagi kamu gemparkan hingga ke tempat Lena berkuliah.  Mendadak kamu menutup reportase Pasar Ikan pada Lena.

Ketika akhirnya berkesempatan pulang, Lena tak sabar menemuimu.  Pasar jadi tempat pertama dituju.  Kamu tak terdeteksi di sana.  Rumahmu tak jauh, jadi Lena memutuskan mampir.

Ibumu bilang, kamu pergi.  Lena tak begitu percaya.   Lena mendesak ibumu berkata.  Katanya seseorang menemuimu suatu hari.  Sejak itu kamu mengurung diri hampir sepekan.  Entah apa yang kamu sesali tapi akhirnya memutuskan pergi ke luar negeri.

“Jadi bukan karena Wening?”  Hingga detik ini Lena beranggapan patah hati atas meninggalnya Wening menjadi sebab peralihan sikapmu.

Ibumu menggeleng dan berkata bahwa kamu mau mengumpulkan duit yang banyak buat beli kapal.  Cinta sering kali berpihak pada orang-orang berpendidikan dan para juragan kapal.  Jadi, kamu yang hanya preman pasar ikan yang amis, kemungkinan besarnya yang mau sama kamu cuma ubur-ubur.

Lena mencoba memahami.  Menghubungkan kejadian demi kejadian, juga jawaban ibumu.  Yang tak diduga, kamu menitipkan sekotak kecil berwarna putih untuk Lena. Telunjuk ibumu memberi kode, mencegah Lena membukanya.

Kotak putih itu terlalu menggoda Lena.  Ketika sampai rumah, buru-buru menuju kamar.  Membanting pintu.  Lalu kotak itu segera menjawab rasa penasarannya.  Kerang putih berbentuk hati sempurna.

Kamu tahu apa yang Lena paling dambakan.  Dulu kakek Lena memberi hadiah kerang putih.  Lena bercerita itu binatang langka.  Hanya bisa didapat di dasar laut.  Orang harus menyelam untuk mendapatkannya.  Jika dijual harganya sangat mahal.  Tapi Lena kehilangan satu-satunya peninggalan kakek.  Kamu sekuat tenaga memenuhi harapan Lena.  Kerang itu dijadikan liontin.  Dulu kamu berencana menghadiahkan pada kelulusan Lena.  Ingin memakaian sendiri pada lehernya yang jenjang.

Mata Lena berkaca-kaca saat membaca tulisanmu pada kertas kecil.

“Selamat dan sukses.  Semoga kelulusan dan pertunanganmu lancar.”

Kamu tak menyaksikan peristiwa haru itu.  Tapi kamu merasakannya dari jauh.  Liontin itu seindah senyum Lena.

Saat itu seeorang mengetuk pintu.  Lena buru-buru keluar.   Pintu dibuka diiringi sebuah umpatan.

“Lelaki itu!  Sudah diperingatkan, tetap tak tahu malu!”  Riyan, tunangan Lena memakimu atas liontin yang Lena kenakan.   Kamu sudah menduga.  Tapi tetap tak peduli.

 

baca juga : cerpen dengan sudut pandang aku

Penutup

Sudut pandang memberikan kesan tersendiri pada pembaca.  Meskipun paling leluasa menggunakan sudut pandang orang pertama atau ketiga, tak ada salahnya mencoba hal baru.   Cerita pendek dengan sudut pandang orang kedua, selain menarik juga menantang.  Bagaimana, Sobat, berani coba?

 

Comment