by

Cerpen Kehidupan Sehari-hari Banyak diminati

Cerpen kehidupan sehari-hari menggambarkan perasaan, pemikiran, dan pengalaman mengesankan dari peristiwa sehari-hari.  Banyak hal di sekeliling kita yang dapat kita tulis dalam bentuk cerita pendek.  Asal bisa mengolah dan mengemasnya, semua itu menarik untuk diceritakan.  Terlebih, memberi banyak manfaat.

Pengalaman senang maupun pahit, kejadian lucu atau sedih, peristiwa mengejutkan dan unik bisa menjadi bahan menulis cerita pendek.  Disadari atau tidak, kejaidan yang kerap dijadikan tulisan justru kejadian sedih, konflik, atau kejadian menyenangkan yang memberi kesan mendalam.  Dompet jatuh, gagal ujian, patah hati, ditinggal suami, anak meninggal, kehilangan dan masih banyak lagi lainnya.

Orang-orang cenderung tertarik pada sesuatu yang berbau kontroversi.  Pembaca juga akan tertarik pada masalah orang lain.  Peristiwa-peristiwa yang bersifat human interest, biasanya mendapat perhatian lebih.  Sebagai contoh, alih-alih membaca berita tentang hasil panen padi di suatu daerah, orang cenderung memilih membaca berita artis yang bercerai.  Ketimbang menonton upacara bendera, orang-orang memilih berita bencana alam dengan banyak korban.

Memahami sifat dasar manusia yang memiliki rasa ingin tahu tinggi pada hal-hal mengesankan dan penuh konflik, cerita pendek dibuat.  Idenya bisa apa saja.  Bahkan terkadang peristiwa kecil yang terkesan remeh.  Tapi jika penulis pandai memilih sudut pandang, mampu mengemasnya secara apik, serta memberi jiwa pada cerita pendeknya, persoalan kecil itu bisa menjadi hal menarik dan berkesan.

Menulis kembali kejadian nyata dalam bentuk fiksi membuat kita dapat melihat permasalahan dari perspektif yang berbeda.  Sastra membuat kita bijak menyikapi suatu kejadian.  Selain bisa menawarkan solusi yang lebih efektif.

Pengertian

Cerita pendek merupakan cerita fiksi.  Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, dijelaskan bahwa karya fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesame, dengan diri sendiri, serta diri dengan tuhan.

Begitu juga cerita pendek yang merupakan bagian dari fiksi, meskipun berasal dari realitas kehidupan tetap bersifat imajinatif.  Namun begitu, tetap masuk akal.  Artinya, kebenaran permasalahan, latar tempat, tokoh yang ada didramatisir agar menjadi indah dan menarik pembaca.

Disajikan dalam beberapa halaman saja, cerita pendek dapat dibaca sekali duduk.  Mengambil satu tema atau konflik dalam kehidupan.  Cerita pendek berfokus pada satu permasalahan.  Sehingga tokoh juga harus disesuaikan.

Manfaat Refleksi Melalui Cerpen Kehidupan Sehari-hari

Banyak hal diperoleh melalui cerita pendek dari kehidupan sehari-hari, diantaranya:

  1. Banyak cerita ditulis berdasarkan kisah nyata.  Fakta-fakta itu difiksikan setelah melalui perenungan dan pemilihan sudut pandang tertentu.  Bagi penulis maupun pembacanya, cerita pendek dari kehidupan sehari-hari memberi perspektif yang berbeda.  Sehingga memberi keluasan cara pandang.  Mengingat segala hal di dunia ini memiliki karakternya sendiri, ada kelebihan dan kekurangan, maka menuliskan cerita pendek dari kehidupan sehari-hari dapat menjadikan kita bersikap adil;
  2. Sebagaimana kita tahu bahwa sastra ibarat rangkuman pengalaman manusia yang mengambil satu permasalahan/konflik tertentu. Cerita pendek dari kehidupan sehari-hari merupakan sastra hidup.  Dengannya kita dapat belajar pola-pola perilaku manusia dalam masyarakat;
  3. Cerita pendek yang baik tentu memenuhi unsur-unsur cerita. Amanah adalah salah satu yang mestinya ada baik secara tersirat maupun tersurat.  Tidak hanya mengisahkan kejadian namun ada pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan.   Sehingga baik penulis maupun pembaca, dapat memperoleh pelajaran atau hikmah dari cerita;
  4. Menulis bukan sekadar merangkai kata-kata indah namun sulit dimengerti. Bukan pula asal menjalin kalimat panjang tapi bikin gagal paham.   Menulis cerita pendek sebagai refleksi kehidupan sehari-hari membantu kita merenungi, menilai, lalu memilah mana yang baik, mana yang buru, dan mana yang terbaik untuk kita.

Cara Membuat Cerpen Kehidupan Sehari-hari

Terlalu banyak hal kejadian menarik untuk dikisahkan dalam cerita pendek.  Apalagi jika setiap kejadian mengesankan itu pantas orang lain ketahui untuk diambil pelajaran atau manfaat.  Menyampaikan pesan dalam bentuk tulisan akan lebih efektif jika kita tahu cara mengemasnya.

Berikut bisa disimak cara membuat cerita pendek dari kehidupan sehari-hari.  Meski bukan hal yang baku, car aini bisa dicoba.

  1. Sering-seringlah mengamati kejadian di sekeliling kita;
  2. Bergaullah dengan orang-orang, ajak mereka berkomunikasi, pahami karakter dan beri empati. Tempatkan perasaan kita jika berada di posisinya
  3. Renungkan kejadian-kejadian dengan pertanyaan umum tentang apa, bagaimana, kapan, mengapa, dimana. Lalu lanjutkan dengan pertanyaan khusu untuk mengasah imajinasi.  Misalnya, jika kejadian itu menimpa kita apa yang akan terjadi.  Jika kejadiannya terbalik, apa solusinya.  Jika begini, selanjutnya bagaimana.  Jika begitu, kemungkinannya bagaimana.
  4. Catat hal-hal penting. Lalu evaluasi dan renungkan kembali di waktu lain.  Lihat dari berbagai sudut pandang;
  5. Tulis cerita sebagaimana kita lihat;
  6. Edit kembali tulisan dan selipkan perasaan kita di sana sehingga pembaca seolah turut mengalami kejadian;

Contoh Cerpen Kehidupan Sehari-Hari

 

Gejos Gemanti, Maknyos di Hati

Oleh Kang Tejo

 

Mentari naik sepenggalah.  Pasar Gemanti sudah riuh sejak lepas subuh.  Penjual bumbu dapur di samping tiang listrik, sudah ribut menjajakan dagangannya.  Di seberang, Yu Tarmi sibuk melayani pembeli pentol.  Di sebelahnya, Yu Tijah sudah menggelar sayur-mayur.  Ada kecombrang, cepingpit, cabai, daun singkong, daun cesim.  Kadang, nangka di belakang rumah di jualnya juga. Pedagang mainan tak mau kalah.  Tet tot tet tot balon dibunyikan.  Sementara, warung Kang Suhud masih terkunci.

“Kemana, Kang Suhud ya?  Wis pengin nyruput kopi.”  Tanya Kang Paryo penjual tembakau yang terkenal tajir seantero dusun Gemanti bahkan melampaui desa Jembangan.  Istrinya baru saja meninggal terinveksi virus covid-19.  Jangankan sarapan, sekadar ngopi pagi saja terhambat.

“Iya, sama.  Tadi sudah dibikinin istri.  Tapi nggak sempet,” timpal  Kang Nasim.  “Coba ditelepon atau di-sms.  Wis pengin guris gejos, koh!” lanjutnya.

Tangan Kang Paryo merogoh saku celana lalu meraih HP jadul warna biru miliknya.  Dicarinya nomor Kang Suhud, dari kejauhan terdengar suara motor shogun mendekat.  Di belakangnya terbonceng kerangjang di kanan kiri jok.  Isinya rupa-rupa.  Ada gejos, tempe, ketan, tremos dan kopi.  Di keranjang sebelah ada bermacam sayur, dan bumbu pecel terbungkus daun jati.   

Benar juga, motor yang membawa Kang Suhud mendarat tepat di depan warung.  Ia mencari-cari kunci warung yang biasa ia taruh di atas pintu.  Anak kunci dimasukkan ke lubangnya.  Didorongnya pintu kayu Mahoni sedikit kasar.  Suara berderit diikuti langkah Kang Paryo dan Kang Nisam yang sejak tadi menanti.  Kedua pelanggan itu melihat wajah Kang Suhud yang berkeringat.  Senyum khas yang selalu menghias wajahnya tak lagi tampak.  Ada gurat-gurat kelelahan di pagi yang bersinar ini.

 “Tumben, siang?” tanya Kang Paryo hati-hati.

Sembari beres-beres, menempatkan dagangan sesuai tempatnya, Kang Suhud menjawab. “Iya nih.”

“Kesiangan, Kang?” Kang Nisam ikut-ikutan bertanya.

Kang Suhud mengisi pancinya dengan air di penampungan lalu dipasang di atas kompor yang mulai berkarat.

 “Nggak juga, Kang Nisam,” jawabnya pendek.  Sambil beralih menata barang lainnya, ia melanjutkan cerita.  “Biasa, jam setengah lima sudah uprek.  Tadi nganter anak ke Sekolah.  Si Benduk sudah boleh masuk sekolah.  Hari ini pertama tatap muka terbatas.” 

“Ada saja yang salah.  Pensilnya hilang.  Kancing baju lepas baru ketahuan.  Akhirnya jahit tangan.  Sepatunya sudah kekecilan pula.  Dipinjami kakaknya, agak kelonggaran.  Giliran sampai sekolah, masker ketinggalan.  Mau kuambilkan ke rumah, Benduk ikutan pulang.  Masih malu-malu di sekolah karena lama tak ketemu guru dan teman-teman.”  Suaranya terburu-buru degnan nada kesal.  Tangan kirinya meraih susu jahe sachet menyobeknya.    

“Kok, susu jehe, Kang.  Aku mau kopi seperti biasa, kok.”

“Astaghfirullah.“ Kang Suhud menepuk jidat.  Masih terekam jejak kekesalannya pagi ini. 

Ia mengganti jahe susu dengan kopi dan menyuguhkannya pada Kang Paryo dan Kang Nisam.   Sementara gejos, makanan khas terbuat dari singkong sudah meletup-letup di penggorengan.  Ia mulai bicara lagi. 

“Sebenarnya repot kalau harus menyiapkan anak ke sekolah tiap pagi.  Tapi ya mending seperti itu.  Nggak kaya kemarin-kemarin.  Masuk nggak, tugas banyak.  Wong bodo seperti aku mana bisa ngajari di rumah.  Kadang pulsa cepet banget habisnya.  Kalaupun ada, sinyal susah.  Semua tergantung HP.  Kalau nggak ditungguin, bablas nge-game.  Kalau nggak, malah buat nonton dangdut di youtube.”

“Anakku yang SMP gitu juga.  Bentar-bentar duit.  Katanya beli pulsa.  Aku yang cuma jual ikan-ikan kecil, lakunya juga kadang-kadang, rasanya menjerit.”  Kang Nisam ikutan curhat.

“Iya bener, Kang.  Beruntung Kang Paryo dapet bantuan korona, kredit mudah, bantuan-bantuan lain.  Sudah kaya tertimpa duren pula.”  Setengah protes, Kang Suhud melirik Kang Paryo. 

Laki-laki penjual tembakau itu diam seribu bahasa.  Kenyataannya memang demikian.  Ia dipandang cukup mampu.  Tapi PKH dapat, bantuan terdampak covid-19 dapat.  Tiga anaknya dapat PIP.  Belum lama, data surat dari BRI untuk penerimaan BPUM.

“Pancen bejo ini Kang Paryo,” ucap Kang Suhud sambil membolak-balik gejos biar tidak gosong.   .

“Iya heran.  Orang yang mampu malah kaya dapat durian runtuh.  Aku yang begini, nggak dapet perhatian pemerintah.”  Kang Nisam menimpali.

Kang suhud meniriskan gejos yang sudah menguning.  Bagian dalamnya melepuh-lepuh.  Dalam keadaan panas, disuguhkan pada Kang Paryo dan Kang Nisam.

“Gejos Gemanti memang paling enak.  Kulite garing njerone kemronyoss.” Kang Paryo memuji gejos legendaris itu. 

Kang Suhud tersenyum bangga.  “Siapa dulu dong yang bikin!”

Gejos gemanti tidak butuh iklan, sudah laris kemana-mana.  Rasanya memang beda degnan gejos daerah lain.  Resep turun temurun yang sudah puluhan tahun tak dapat ditiru.  Entah apa rahasianya.

Usai minum kopi dan menikmati gejos pecel, kedua orang kembali ke lapak masing-masing.  Kang Paryo menghadap ke selatan.  Di lapaknya tersedia tembakau, kemenyan, kertas papir.  Kang Nisam beberapa meter dari Kang Paryo mulai membuka oblok yang isinya ikan-ikan kecil. 

Kang Suhud melanjutkan aktivitasnya menggoreng gejos.  Sesekali membuka panci, menusuk-nusuk dengan garpu untuk memeriksa apakah sayurnya sudah matang atau belum.  Sibuk dengan dagangannya, ia baru teringat tadi pagi Pak Guru pesan gejos dan pecel.  Ia buru-buru membungkus pesanan itu lalu memacu motornya ke sekolah usai mematikan kompor. 

Sekolah senyap.  Pembelajaran pada masa pendemi ini hanya dua jam, tanpa istirahat.  Makan hanya boleh dari bekal sendiri.  Di luar, tampak Paijo, penjaga Wiyata Bhakti yang sudah dua belas tahun mengabdi tanpa kejelasan kapan diangkat PNS.  Ia sibuk menyapu dedaunan ketapang di halaman.

“Kang Paijo, ini pesenan Pak Guru tadi.  Bayarnya gampang.  Rasa terimakasihku buat bapak ibu guru karena anakku sudah diajari.” 

Belum juga mendapat jawaban dari Paijo, Kang Suhud sudah menghidupkan motor, lalu melesat kembali ke pasar.  Kang Paijo berteriak.  “Maturnuwun, Kang Suhud!”

 

baca juga: Pentingnya Dramatisasi Cerita Pendek

Penutup

Kita dapat melihat bahwa cerita pendek di atas adalah kejadian biasa dalam kehidupan sehari-hari.  Obrolan di pasar, kejadian persiapan ke sekolah setelah sekian lama sekolah di rumah, dan kehidupan di sekolah.  Penulis mengambil sudut pandang orang ketiga.  Sabagai narator, ia berkisah tentang kang Suhud yang berjualan pecel.  Realitas kehidupan diceritakan secara sederhana.  Dramatisasi tidak terlalu mencolok.  Namun ada pesan yang bisa dipetik, bahwa orang tak punyapun ingin anaknya maju, rasa terimakasih yang tak bisa diungkapkan dengan sesuatu yang besar, dititipkan melalui gejos buatannya.

Teman-teman bisa mengamati, banyak kejadian di sekeliling kita yang menarik, hal-hal kecil yang selama ini kita abaikan, atau peristiwa berkesan yang luput dari perhatian.  Semua itu bisa dicatat dalam buku harian.  Pada satu waktu, kita bisa menyusun ulang menjadi cerita pendek dengan tokoh difiksikan.  Cerita bisa dibumbui dengan hal-hal menarik.  Dengan begitu, kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah.

Tak ada hal sulit bukan?  Ide cerita bisa dari mana saja.  Tak perlu perkara bombastis.  Ide sederhana yang diceritakan dengan penghayatan akan lebih mengena dan menyentuh jiwa.  Bahkan bisa menggerakkan jiwa raga kita untuk melakukan sesuatu.

 

Comment