Cerpen Tema Kehidupan Santri

Kali ini saya akan menulis cerpen tema kehidupan santri.  Merupakan cerpen tema pilihan yang dapat dibuat berdasarkan kehidupan santri.  Seserius dan sekalem apa santri itu ya?  Sebagian anak seperti anak pada umumnya.  Bisa gokil juga.  Apa yang saya tulis bukan berarti mewakili semuanya ya.  Cerpen ini hanya mengambil latar dan berusaha menyampaikan pesan tertentu yang dapat Anda simak nanti.

Cara Membuat Cerpen Tema Pilihan

Secara umum, cerpen tema pilihan dibuat sebagaimana cerpen lainnya.  Memenuhi unsur intrinsik dan ekstrisik.  Untuk memperdalam cerita supaya cerita terasa hidup, bisa dilakukan melalui riset langsung di pondok pesantren, berdasarkan pengalaman pribadi, atau dari bertanya pada santri.

Saya memilih menyampaikan cerpen dengan gaya ringan dan sedikit kocak.  Tentu tidak semua santri seperti itu.  Berbagai karakter ada di pondok pesantren mengingat tempat ini adalah kumpulan anak-anak dengan berbagai latar belakang.  Semoga bisa dinikmati.  Selamat membaca.

Contoh Cerpen Tema Kehidupan Santri

 

Ledakan di Malam Hari

Yayuk Widaningsih

 

Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00 WIB.  Biasanya Rayyan telah terlelap.  Tapi kali ini, ia hanya berguling-guling di atas kasur.  Sesekali mengaduh sambil memegangi perut.  Suaranya dibuat selirih mungkin.  Jangan sampai dua sahabatnya bangun.

Ia memaksa bangkit dengan berjingkat-jingkat.  Tangannya meraih botol kecil minyak putih lalu membaluri perutnya yang nyaris meletus.  Begah tak karuan rasanya.  Kalau di rumah pasti suaranya sudah terdengar tetangga.

Lagi-lagi Rayyan merintih.  Tak dapat ditunda lagi.  Ia harus ke kamar mandi.  Buru-buru turun dari ranjang sampai deritnya lumayan keras.  Pada saat yang sama, Daus menggeliat.  Rayyan kaget bukan  main.  Untungnya Daus tidak bangun.  Rayyan melancarkan misinya di toilet.  Selang beberapa menit, ia keluar.  Perutnya masih kencang.  Ia berbaring lagi.

Sambil menahan rasa sakit, ia berpikir.  Apa jadinya jika Ustaz tau.  Lalu mengabari Ibu.  Ibu menyusul ke pondok.  Membawanya pulang dengan alasan, perut kembung.  Dalam keadaan panik, Ibu akan menyeretnya ke dokter sekalipun Rayyan menolak keras. Dokter akan bertanya apa saja yang masuk ke perutku sebelum meletus.  Resep obat sudah pasti macam-macam.  Paling benci dengan obat pahit, tapi Ibu akan memaksanya minum.  Oh, derita apa lagi yang akan ia tanggung.  Tubuhnya menggigil bukan karena perutnya, tapi bayangan yang menakutkan itu.  Ia menutup kepala dengan bantal.  Saat itu, terdengar bunyi letusan!

“Ada apa?” Abil terlonjak dari kasurnya.

“Astaghfirulloh!!!”  Daus tengak tengok.  Ia bangkit buru-buru.  Sarungnya nyaris jatuh.

Rayyan meringis kesakitan.  Bantal yang tadi menutup kepalanya terlempar jatuh.

Ketiga penghuni kamar B12 berdiri dengan limbung.  Daus memberanikan diri membuka kamar.  Arah letusan terdengar dari luar.  Banyak anak keluar kamar.  Mereka sama kagetnya.

Waktu itu sudah pukul 01.00 dini hari.  Udara dingin mencekam.  Ustaz Rahman terlihat mondar-mandir.

“Anak-anak dimohon kembali ke kamar.  Ada sumber tegangan meledak karena tertimpa dahan.  Dua jam lagi, akan Ustaz bangunkan bagi yang akan sahur untuk puasa Senin.  Atau yang akan sholat malam.”

Anak-anak berbondong-bondong masuk.

“Kamu kenapa, Yan?” Abil menyadari temannya ada yang tak beres dengan bocah berambut keriting itu.  Jalannya bungkuk sambil memegangi perut.

“Ah, nggak papa, kok.”

“Pungungmu sakit?” desak Daus.

“Bukan punggung.  Tapi, perut.”

“Ohh, ada apa dengan perutmu?”

“Serasa mau meledak.”

Abil dan Daus terbelalak.  Mereka teringat travo pinggir jalan yang barusan membangunkan mereka.  Baru saja akan menyarankan Rayyan untuk minum obat, angin malam dengan aroma nyaris bikin pingsan dihirupnya.  Mereka sontak menutup hidung sambil menoleh ke arah Rayyan dengan tatapan menuduh.

“Maaf, Bil.  Justru ini yang kuharapkan.  Biar perutku sedikit lega,” Rayyan beralasan.

“Huh!  Yang kamu harapkan, bukan yang kuinginkan.  Aku mendadak mual,” ujar Abil.

“Nih, aku punya obat.”  Daus mengulurkan pil hijau.  “Dijamin mampet.  Dan kamu bisa sekolah.  Sorenya kajian di Masjid An Nur.  Lantas, buka bersama dengan aneka makanan.”

Rayyan sama sekali tidak tertarik dengan kalimat terakhir Daus.

“Bukan itu, Us.  Justru aku kesulitan buang air.  Makanya sakit begini.”

Rayyan ingat betul kejadian menjelang senja kemarin.  Sehabis ekstra sepak bola di lapangan, ia berlarian kembali ke pondok.  Wajahnya masih memerah, keringat masih mengucur dan nafas masih terengah-engah.  Ia mengerem kaki di depan kamar.  Tangannya langsung menghidupkan kran.  Kalau dipikir-pikir, tak ada yang lebih indah dari membasuh muka pada saat hawa panas mengepungnya.  Dan mungkin sedikit ada yang ditelannya.  Ia rasa sah-sah saja asar tubuhnya kembali segar.  Hanya, kalau ketahuan Ustaz, beliau pasti melarang dengan alasan tak baik bagi tubuh.  Suhu tubuh yang panas dihantam air dingin.  Reaksinya bisa pusing.  Tapi bukan kepala yang kena imbas, melainkan perutnya yang melembung.

Saat itu ia masuk kamar.  Mandi menjelang maghrib dengan buru-buru demi bisa ikut berjamaah.  Sebelum ke masjid, dilihatnya kotak kardus besar.

“Wahh, kiriman dari Ibu!” Berjingkrak-jingkrak kesenangan, dia lantas membukanya dengan tak sabar.  “Wow!!!” Lebih senang lagi saat melihat isinya.  Manggis hasil panen dari kebun, nastar bikinan kakak, dan nanasnya sudah pasti banyak karena tinggal petik di pekarangan.  Lalu ada syirup rasa buah karya sendiri.

Sebenarnya itu jatah sepekan.  Ibu yang mengatakan dalam surat yang ada di dalam kardus.  Ibu juga minta aku  membagikannya dengan teman sekamar atau yang lainnya.  Tentu saja, Abil ikut makan sedikit.

“Aku sudah kenyang, Yan.  Makasih,” ucapnya setelah membuka dua buah manggis.

“Aku suka nastarnya, loh.”  Daus menikmati nastar beberapa biji.  “Manis.”  Tapi ia menyudahinya karena sudah makan.

Rayyan berlagak seperti orang tak makan sebulan.  Terlebih setelah Abil dan Daus keluar kamar untuk mengerjakan sesuatu.

“Ahh, manisnya manggis ini.  Sebagai bentuk penghargaanku pada kiriman Ibu, aku harus banyak memakannya.”  Saat mengucapkan itu, Rayyan sudah membuka manggis ke-15.  Ia juga menuangkan sirup buah.  Mencampurnya dengan air putih.  Tiga cangkir besar.

“Nastar ini, bagaimana bisa melewatkannya!”  Ia mencomot nastar satu persatu hingga habis setengah toples besar.

Baru saja ia akan berbaring di lantai sangking penuhnya perut, Daus memanggil.  “Yan, makan malam kali ini nasi padang.  Tadi aku ngintip di ruang makan.”

Rayyan bangkit penuh semangat.  Membayangkan kuah berbumbu rempah, daun singkong dengan sambal ijo.  “Semoga lauknya rendang, ya Allah.”

“Aamiin,” ucapnya.

Benar juga.  Di ruang makan, Rayyan benar-benar menemukan rendang.  Ia tersenyum melirik Abil dan Daus.

“Alhamdulillah!” ucap mereka bertiga bersamaan.

Mereka makan hingga tuntas.  Malamnya, bukan hanya kenyang, Rayyan kekenyangan.  Bukan hanya penuh perutnya, tapi kepenuhan.  Makanan yang mestinya bikin kuat, malah membuatnya tak mampu bergerak.  Saat Abil dan Daus mengerjakan tugas, Rayyan pura-pura baca di atas kasur.

Pukul 21.00 Abil dan Daus tidur di ranjang masing-masing.  Sementara tangan Rayyan terus bekerja mengusap-usap perutnya.  Menyesal telah menelan aneka makanan secara acak.  Perutnya tak kuat.  Kini, ketika teman-temannya puasa, ia tak bisa puasa Senin.  Tapi juga tak berselera makan apa-apa.

“Nanti buka puasa pakai kolak pisang dan kolang-kaling, loh!” ledek Abil.

“Terserah saja.  Perutku sudah meletus.  Sebagian orang kesakitan karena lapar, aku sakit karena kenyang hingga malas belajar.”

Abil dan Daus tertawa.  Ada benarnya juga ucapan Rayyan.  Yang salah bukan Ibu yang mengirimi makanan.  Tapi anaknya yang rakus tak karuan.  Bukan kakak yang pandai bikin nastar.  Tapi adik yang makan tak kelar-kelar.  Hingga terjadi ledakan perut di malam hari.

Yang salah bukan Ibu yang mengirimi makanan.  Tapi anaknya yang rakus tak karuan.  Bukan kakak yang pandai bikin nastar.  Tapi adik yang makan tak kelar-kelar. 

 

baca juga : cerpen tema pilihan 

Penutup

Cerita di atas disampaikan dengan berbagai pesan di dalamnya.  Terutama bagaimana santri mestinya menuntut ilmu.  Agar pemahaman terhadap ilmu semakin mendalam, semakin menguasai, tentu ada syarat yang harus dipenuhi.  Salah satunya adalah menjaga diri dari hal-hal yang tidak perlu dan berlebihan.  Anda bisa menyimpulkan sendiri.

Comment