Contoh Tulisan Feature Humanis

Feature adalah jenis tulisan jurnalistik.  Contoh tulisan feature humanis yang akan saya sampaikan bisa menjadi referensi.  Tetap menerapkan rumus 5W 1 H dalam menuliskannya.  Namun berita jenis feature ini ditulis dengan cara bertutur.  Lebih mendalam serta melibatkan imajinasi pembaca.

Banyak bahan yang bisa dijadikan tulisan feature.  Umumnya tulisan feature tentang suatu kejadian atau realitas sosial bersifat delay.  Bukan berita terkini.  Meski pada praktiknya, boleh juga diterapkan pada berita yang up to date.

Apa itu Tulisan Feature Humanis?

Ada bermacam-macam jenis feature.  Diantaranya, feature profile, histori (sejarah), petualangan, gaya hidup, peristiwa, pengalaman manusia (humanis).  Masing-masing punya karakter sendiri.  Namun pada umumnya, tulisan feature menjabarkan peristiwa secara gamblang baik sebab akibat maupun kronologi kejadian.

Feature humanis mengetengahkan pengalaman manusia yang menginspirasi, menyentuh, atau memotivasi.  Kisah yang ditulis bisa digunakan sebagai refleksi atas berbagai kejadian dalam kehidupan.  Bisa jadi tentang keberhasilan, kegagalan hidup, atau kejadian yang mengesankan lainnya.

Berikut akan saya sampaikan contoh feature humanis berjudul ‘Gaboss, Mengolah Raga, Mengolah Jiwa.

 

Gaboss, Mengolah Raga, Mengolah Jiwa

 

Konon nilai moral tertinggi ilmu adalah menyebarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, tentunya ilmu yang baik.  Filosofi itu yang dipegang Puji Basuki, pria asal Kecepit Banjarnegara ketika memulai perjuangannya menggerakkan masyarakat cinta olah raga.

“Yang saya pahami dari orang-orang pinter, kalau ilmu yang dimiliki nggak diajarkan pada orang lain, itu dosa,” selorohnya siang itu ketika ditemui di rumahnya yang sederhana.

Ia melanjutkan.  “Saya kebetulan sarjana olah raga, dan punya sertifikat pelatih voli.  Secara keilmuan, disitulah tanggung jawab saya.  Kewajiban saya ya mengamalkan ilmu yang saya miliki agar bermanfaat bagi obyek kegiatan saya.”

Ia menganalogikan jika ia sarjana ilmu agama, lulus dari pendidikan ataupun pesantren, bukankah ia harus bergabung minimal di TPQ, mengajar ngaji.

Bukan hanya karena secara teoritis ia telah memperoleh pendidikan olah raga di IKIP Negeri Yogyakarta.  Setelah lulus dari pendidikan akademiknya tahun 1990 ia merasa punya tanggung jawab menularkan ilmunya pada orang lain, di samping, ruh olah raga memang telah bersemayang dalam tubuhnya.

Olahraga adalah nafas hidupnya.  Dapat dipahami ketika menyambangi rumahnya, tak ada hiasan apapun.  Yang terlihat adalah kursi di ruang tamu dan bola!  Di ruang tengah tergatung pula raket.  Shutllecock tampak tergeletak di meja.  Sebuah rak di pojok ruang telah dipenuhi sepatu kets.

Itu masih wajar sebagai guru olah raga di sebuah sekolah dasar.  Yang lebih mengejutkan bahwa anaknya adalah perempuan berusia belum genap 11 tahun.  Tak ada boneka terpajang di rumah maupun kamarnya.  Semuanya tentang bola terutama bola voli.  Kejutan lainnya yakni pada pernikahannya dengan salah satu mantan muridnya ketika masih menjadi guru wiyata di SMP dilaksanakan dengan mahar seperangkat alat bermain voli.  Dan sebagai prasyarat, istrinya juga harus pemain voli.  Ketika Tuhan telah menggariskan jalan hidup seseorang, siapa yang bisa menawar?

Gaboss

Sebenarnya, Puji Basuki menyukai semua jenis olah raga.  Pada awal membentuk komunitas olah raga di desanya, ia menawarkan beberapa cabang olah raga seperti bolavoli, sepak bola, tenis meja, dan badminton.  Namun dalam perjalanannya tak mudah mengumpulkan orang, terutama pemuda untuk mencintai olah raga, bergerak di dalamnya sesuai bidang yang diminati.  Karena yang ikut serta orang-orang yang sama, maka komunitas olah raga ini mengerucut pada satu cabang olah raga yaitu bolavoli.

Komunitas ini kemudian diberi nama GABOSS.  Unik bukan?  Kata Gaboss dipilih karena enak diucapkan, dua suku kata itu rasanya tak asing dan tak bikin lidah tergelincir.  Gaboss sendiri dalam bahasa jawa berarti gabus atau kita biasa menyebutnya busa kasur.  Benda ringan, lunak yang memberi banyak manfaat.  Sebagai tempat istirahat yang membuat nyaman ketika tidur maupun terjaga.

Sederhana dan tak muluk-muluk.  Namun jika ditelusuri secara mendalam, Gaboss bukan nama asal comot, asal sebut saja.  Nama tersebut merupakan akronim yang memiliki makna mendalam.  Ga dalam kata Gaboss maksudnya adalah keluarga.  B, artinya besar.  O dimaknai sebagai pecinta Olahraga.  S artinya Silawi.  S yang terakhir maksudnya Sekitarnya.

Jadi, secara lengkap Gaboss adalah Keluarga Besar Pecinta Olah Raga dusun Silawi dan Sekitarnya.  Tak memandang usia, siapapun bakal jadi keluarga.  Tak harus warga dusun Silawi, maka siapapun mencintai olah raga boleh bergabung.  Dusun Blabar, Penumbang, atau warga Kecepit lainnya, bahkan dari luar desapun akan diterima dengan ramah.  Prinsipnya, pecinta olah raga adalah keluarga.

Kenapa harus cinta?  Mudah saja kita cerna.  Cinta akan memberikan energi untuk menggerakkan raga kita.  Sehingga apa yang diniatkan pria ini dan warga lainnya pada awal pendirian Gaboss tak jadi sia-sia.  Motivasi terbesarnya adalah memberikan tempat aktivitas yang positif, sehat dan membangun rasa cinta tanah air.  Dimulai dari diri sendiri, dusun sendiri, desa dan seterusnya.

Cinta memberikan energi untuk menggerakkan jiwa raga.

Dari titik inilah, perjuangan dimulai.  Bahu membahu bersama tokoh setempat.  Lambat laun, wadah ini dilirik banyak pemuda.  Dari yang tadinya memegang bola pun kesulitan karena terus menggelinding, hingga bola seolah menurut padanya.  Anak-anak dan beberapa pemuda mengikuti latihan yang dipandu Puji Basuki sendiri sebagai pelatih.  Namun dalam perkembangannya, ini bukan tanpa kendala.

Penuh Perjuangan

Sejak awal berdirinya, sebenarnya Gaboss tak memiliki sarana permanen seperti lapangan milik desa atau milik Gaboss sendiri.  Sehingga saat itu masih menyewa tanah warga.

“Kami mengumpulkan infak/iuran seikhlasnya dari anggota untuk kontrak tanah milik tetangga.  Harusnya sampai 2007 tapi 2005 tanah sudah diminta untuk kepentingan keluarga.  Akhirnya kami pindah lokasi.  Sebenarnya, sudah 2 atau 3 kali pindah tempat sejak tahun 2000.” Jelasnya berbinar.

Perpindahan sama sekali tak menyurutkan semangat anggota Gaboss.  Ini boleh dibilang pengorbanan.  Tak mudah membangun masyarakat olah raga.  Kesadaran ini harus dibentuk dari prinsip awalnya yaitu menjaga kesehatan diri dan masyarakat.

Baik Puji Basuki maupun istrinya paham, mewujudkan mimpi-mimpi mereka butuh energi lebih.  Jadi seberat apapun, ketika itu sudah menjadi tujuan, akan dikejar.  Istrinyapun dikirim untuk mengikuti palatihan pelatih bola voli untuk mendapatkan lisensi/sertifikat sebagai pelatih bola voli. Mereka tak menyia-nyiakan waktu dan tak ingin anak-anak di lingkungan mereka hanya duduk-duduk bermalasan.

Ini acapkali terjadi.  Sore yang cerah, mestinya lapangan dipenuhi anak-anak, sekedar berkejaran atau bermain lempar tangkap bola.  Tak harus bermain bola voli yang sebenarnya.  Melihat lapangan masih kosong melompong, istri Puji Basuki yang bernama Siti rela door to door, mengajak anak-anak menggerakkan badan, turun ke lapangan, bermain bersama.  Sehat jiwa raga serta gembira.  Itu yang diperoleh dari olah fisik ketimbang berdiam diri saja di rumah.

Selain membangun kesadaran berolah raga, beberapa hal masih menjadi ganjalan.  Dari prasarana yang tak layak pakai sementara biaya untuk mendanai perbaikan tak tersedia, apresiasi yang kurang dari para pemangku jabatan, bahkan mencetak para pemain yang tak cuma handal namun paham hakikat Gaboss yaitu sebuah keluarga juga sulit.

Yang diharapkan sebenarnya, sekalipun mereka telah tua, telah menikah tetaplah bermain sekalipun untuk rekreasi, atau ikut membimbing adik-adiknya di Gaboss.  Rumangsa handarbeni itu mampu melanjutkan kisah keluarga cinta olah raga, yang dapat membentuk masyarakat sehat.  Tapi itu bukan perkara gampang.

Dibalik Duka, terselip Gembira

Tak dapat dipungkiri bahwa di balik setiap tetes keringat perjuangan, senantiasa terselip kegembiraan.  Tak melulu soal kemenangan saat mengikuti pertandingan.  Rasa bahagia lebih membuncah ketika masyarakat antusias memanfaatkan lapangan untuk olah raga, bergotongroyong merawat sarana prasarana yang ada.

Ketika semakin banyak anak pemula menyukai olah raga voli, ada secercah harapan dalam hati.  Optimisme bangkit seketika.  Ada banyak energi meski lelah secara fisik setelah bekerja seharian.  Sebagai PNS, Puji Basuki melaksanakan tugas kedinasan siang hari.  Sore selepas ashar ia terjun ke lapangan.  Bersama anak-anak yang dibimbingnya.

Dukungan masyarakat menjadi semangat tersendiri.  Apalagi jika para alumni masih andil dalam kegiatan, turut dalam bimbingan, langsung turun ke lapangan bersama-sama melatih adik-adiknya.  Inilah bahagia yang sulit dijelaskan.  Sebagai pelatih, guru, sekaligus bapak bagi mereka.

Apa Kata Alumni tentang Gaboss

Memang tidak semua almamater gaboss melupakan arena latihan, tak lantas semua alumni Gaboss sungguh-sungguh meninggalkan olah raga.  Seperti seorang kawan yang saya temui.  Ia warga lain dusun yang bergabung dalam Gaboss sekitar tahun 1998.  Apa yang disampaikan merupakan suntikan semangat bagi siapa saja.

“Bagiku, Gaboss adalah detak jantungku.  Bukan sekedar wadah yang mengajarkan bagaimana bola voli yang benar.  Lebih dari itu, Gaboss adalah keluarga.  Di sana saya mendapatkan semuanya.  Semangat, nilai perjuangan, nilai kehidupan, bagaimana bertoleransi, membangun kebersamaan meski kita punya latar belakang berbeda.  Lapangan adalah kehidupan yang sebenarnya.  Senang, sedih, marah, tumpah ruah menjadi sebentuk perjuangan.  Bukan untuk mengalahkan lawan tapi untuk dapat mengendalikan diri.  Mental kuat terbentuk dari sana.  Inilah yang saya alami,”  ucap Sulasih, seorang mantan pemain bola voli.

Lantaran ia pernah sakit, keluarga mengambil kebijakan melarangnya bermain lagi.  Namun, jiwa tempur rupanya belum redup dari hidupnya.  Ia masih sering ikut dalam berbagai pertandingan meski hanya sebagai official.

Beberapa Pemain lainpun sama, meski telah berusia lanjut, dukungan mereka tak surut.  Masih banyak mantan pemain yang hanya menonton atau ikut main ketika sore tiba.

Hidup jadi lebih hidup

Berlatih dan berlatih.  Teknik dan fisik, semuanya tak kalah penting.  Memiliki porsi sendiri.  Tentu saja, tujuan dari latihan ini banyak sekali, olah fisik, olah jiwa, olah mental.  Latihan harus terprogram.  Intinya, latihan dilakukan secara bertahap dan terukur.  Latihan demi latihan dievaluasi.

Seiring waktu, kemampuan fisik terbangun.  Mereka yang tadinya gampang lelah, dengan latihan bertahap menjadi semakin kuat.  Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah ketabahan.  Bagaimana anak-anak bertahan dalam tekanan, bagaimana anak-anak tak jadi mlempem saat kena semprot pelatih.  Serta seberapa kuat, mereka menahan diri untuk tetap mencintai olah raga lebih dari sekedar bertujuan untuk pertandingan.

Memang pertandingan ibarat puncak tangga yang berusaha diikuti untuk kemenangan.  Pertandingan akan menakar kemampuan setelah latihan panjang.  Arena sesungguhnya yang bikin hidup jadi lebih hidup.  Persiapan pertandingan juga harus matang, disesuaikan dengan kebutuhan dasar melihat level turnamen yang akan dihadapi.

Siklus Pertandingan

Berlatih, bertanding, evaluasi, lalu memprogramkan kembali.  Itu siklusnya.  Perputaran itu diwarnai banyak kisah.  Dari sedih, gembira, marah, dan masih banyak lagi emosi yang mencuat.  Yang terjadi di lapangan ketika pertandingan kadang tak terlalu bisa diprediksi.  Emosi ketika konsep yang telah ditanamkan tak diterapkan pemain karena satu dan lain hal itu sudah biasa.  Sedih ketika mengalami kekalahan juga bukan hal baru.  Gembira dalam kemenangan bagi Puji Basuki sendiri tak lantas membuatnya berbangga diri.

“Kami punya target.  Tapi pada hakikatnya itu bukan tujuan utama, bukan pula tujuan jangka panjang yang ingin kita raih,” katanya bijak.

Kalah menang biasa.  Namun begitu, yang ditanamkan dalam benak anak didiknya selalu semangat berjuang yang harus luar biasa.  Harus mati-matian.  Jangan kalah sebelum bertanding.  Jangan luruh saat maju.  Jangan keruh saat kalah.  Tapi simpuhlah saat memperoleh kemenangan.  Meski hadiahnya bisa jadi hanya cukup buat beli bakso, tapi kemenangan berarti secara total mampu menguasai diri.  Dalam mengendalikan bola, mengendalikan emosi, mengatur strategi, serta bekerja sama dalam tim.

Dari seluruh siklus, ketika pertandingan usai, yang paling berkesan bagi Guru adalah ketika anak-anak mengajak bersalaman.  Ada kepercayaan, ada penghargaan, ada rasa terimakasih, ada pengakuan, ada cinta dalam setiap genggaman.  Ia mencintai olah raga, ia mencintai mereka yang cinta olah raga.

Detak Jantung Si Kulit Bundar

Perasaan dihargai dan dicintai anak didik menjadi mood booster untuk bertahan dalam prinsip dan tujuan yang dipegang.  Namun begitu, ia tak bisa sendiri.  Selain dukungan keluarga, ia butuh masyarakat.

Masyarakat yang tadinya menjadi target, tentu harus menjadi subyek dalam membesarkan Gaboss, sekaligus menjadi penentu bagi terwujudnya masyarakat cinta olah raga.

Kedepan, ia ingin menciptakan sinergi dengan desa.  Tentu ini peluang bagi pemerintah desa untuk bersama-sama menciptakan masyarakat yang sehat.  Dukungan tak bisa semata-mata soal doa dan kata-kata.  Namun harus dalam bentuk nyata.  Sarana dan prasarana harus memadai.  Bagaimanapun membangun manusia seutuhnya, sehat jiwa raga adalah tanggung jawab kita semua.

Sebagaimana kita tahu, dalam raga yang kuat terdapat jiwa yang sehat.  Bagaimana pemuda mampu membangun bangsanya kalau mereka tak sehat?

Penutup

Tulisan feature humanis di atas dapat dijadikan referensi.  Menulis jurnalistik secara bertutur, lebih dalam, lebih berkesan.  Pembaca akan merasakan perbedaan dengan tulisan berita yang serius dan kaku.  Jenis tulisan ini mampu mengusik imajinasi pembaca.

Comment