Contoh Tulisan Feature Perjalanan Wisata

Feature1945 Views

Tak ingin kehilangan momen penting, banyak orang menulis perjalanan mereka.  contoh tulisan feature perjalanan wisata ini saya sajikan sebagai acuan.  Dalam ilmu jurnalistik, jenis tulisan sering digunakan karena memberi kesan mendalam.

Pada catatan ini, dideskripsikan suatu perjalanan ke tempat wisata secara rinci dengan cara bertutur.  Sehingga pembaca tidak bosan bahkan ketika menikmati tulisan itu, pembaca seolah hadir langsung, mengalami kejadian yang diceritakan.

Ciri-ciri Feature Perjalanan

Banyak teori tentang tulisan jenis feature.  Namun pada intinya, berikut ciri-ciri tulisan feature:

  1. Menggunakan bahasa baku namun tidak kaku;
  2. Mendeskripsikan suatu tempat, perjalanan, atau kejadian sehingga memberi impresi tersendiri bagi pembaca;
  3. Tulisan feature bukan berita terkini sehingga tidak basi dibaca kapanpun;
  4. Mengandung unsur 5W + 1H, rinci;
  5. Biasanya penulis menggunakan diksi yang unik dan memiliki kesan tertentu layaknya menulis cerpen atau novel;
  6. Judul dibuat menarik.

Feature Perjalanan Wisata

Teman-teman bisa menikmati tulisan features perjalanan wisata berikut:

 

Sepotong Cerita di Curug Genting Giritirta

curug genting

Tak selalu ingar bingar musik bernada tinggi, seringkali kebahagiaan hadir oleh kemericik air yang turun dari tebing tinggi.  Curug Genting di Giritirta menyajikan denting itu secara alami.  Rimbun dedaunan, tebing batu yang diam, ditingkahi air yang menari dari ketinggian.  Damai tak terbantahkan.

Cuaca mendung sejak pagi tak menyurutkan langkah kami mengunjungi salah satu wisata alam di desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara.  Sekitar 50 km dari pusat kota. Jalanan mulus dan senyapnya lalu lintas di wilayah Pejawaran, membuat waktu tempuh semakin cepat.  Kami hanya butuh waktu sekitar 1,5jam tiba di lokasi. 

Beberapa kali bertanya pada warga setempat karena baru kali ini kami mengunjungi.  Lagi pula, google map yang kami turuti hanya mengantar kami sampai balai desa Giritirta sebagai titik akhir.  Masih ada satu kilometer menuju lokasi.  Jalan desa menuju air terjun genting, berupa aspal berbatu yang berlubang di sana-sini.  Namun itu bukan kesulitan berarti.  Yang paling ngeri sebenarnya jalan cor curam mendekati parkiran.  Jantung kami sempat berdegup lebih kencang dari biasanya.

Dari area parkir gratis yang tak ditunggui sisapapun, kami dapat mengedarkan pandangan ke sekililing.  Semuanya serba hijau.  Kecuali bebatuan yang memenuhi kali.  Tampak teronggok, besar, dan kering.  Musim kemarau membuat air surut hingga seolah, ada susunan batu yang secara alami memanjang mengikuti arus sungai ini. 

sungai yang kemarau
bebatuan di sungai
indahnya alam
sejuknya udara giritirta

Sepanjang jalan disuguhi tanaman kentang dari berbagai varian.  Kami mengikuti jalan setapak hingga air terjun itu berada.  Kami harus menengadah mencari titik pertama air turun.  Tak kurang dari empat puluh meter.  Air yang tipis membasahi tebing.  Bermuara di satu titik yang cukup dalam lalu mengalir ke sungai melalui celah bebatuan.  Lagi-lagi karena kemarau yang masih memanja.  Air terjun tak terlalu deras.  Tempias yang mestinya dirasakan hingga ke jalan, tak lagi terasa.  Namun, itu tetap indah. 

Kami sempat mengambil gambar dengan latar belakang air terjun yang dikelilingi rimbun pepohonan.  Di sebelah kanan, ada serumpun bambu.  Rupanya, selain kentang sebagai komoditas utama yang membuat pemiliknya jaya, banyak pohon bambu tumbuh di daerah ini.  Selama ini tak ada kerajinan khusus yang dibuat.  Kebanyakan untuk memenuhi kebutuhan warga sendiri.  Kupikir, akan lebih baik jika dikelola secara ekonomis.

Komoditas Giritirta

Kentang lebih menggoda rupanya.  Potensinya lebih menjamin kemajuan ekonomi.  Sehingga, budidaya tanaman ini jadi pilihan.  Dikelola oleh kelompok tani desa, kentang pejawaran bahkan memasuki pasar ekspor.  Pertanian menjadi mata pencaharian utama warga. 

Potensi alam menjadi sasaran berikutnya.  Batu alam memberi keindahan tersendiri di desa ini.  Curug Genting sebenarnya memberi peluang pengembangan desa di bidang pariwisata.  Wisata yang dikelola pokdarwis Dewi Gita ini sejak lama memberi pemasukkan bagi desa. 

Kendala dalam perjalanan seringkali tak terhindarkan.  Manajemen yang kurang profesional, pengembangan yang kurang optimal, serta adanya bahaya gugurnya batu alam yang mengancam menyebabkan penurunan pengunjung.  Batu alam ini sedianya memberi keelokan tersendiri.  Namun eksploitasi besar-besaran yang kurang memikirkan dampak pada lingkungan, menjadikan batu-batu ini longsor.  Sebenarnya banyak upaya yang ditempuh.  Sulitnya, karena gunung batu ini sebenarnya milik perorangan.  Kurangnya sinergi dengan desa memberi efek kurang baik.  Jadilah curug genting kini dalam keadaan genting. 

Longsor terbesar terjadi sekitar Februari 2021.  Mengurug lahan pertanian warga.  Butuh waktu pemulihan hingga layak ditanami kembali.  Sayang sekali, bukan?  Menyaksikan sisa-sisa batu yang masih berceceran di tebing yang agak rendah, gubug di dekat curug yang terbengkalai dan berlumpur. 

Terus Mengalir

Semua pihak berharap, ke depan kegentingan ini tak lagi terjadi.  Curug tetap mengalirkan keindahan.  Sungai yang mengular sebagai sumber air bagi warga tetap memberi keberkahan.  Begini saja, kami sudah merasakan kedamaian.  Apalagi jika alam berjalan seimbang.

Dari Curug Genting, kami menjejakkan kaki menuju arah timur.  Ke kebun yang lebih dalam.  Ada sesuatu yang menarik kami.  Sumber air panas.  Menurut penuturan ketua rombongan, ini sudah memasuki wilayah kacamatan Batur.  Kami tetap berjalan, memohon izin pada alam, untuk turut merasakan suguhannya.

Sumber mata air panas ini semakin ke atas semakin naik suhunya.  Jalurnya sedikit licin dengan batu yang menggelembung terkena lumut dan lelehan belerang.  Air hangat ini mengalir pada sungai yang sama yang dilalui aliran Curug Genting di desa sebelahnya.  Perbatasan kecamatan Batur dan Pejawaran ini terasa hangat.  Sehangat sapa ramah orang-orangnya.

Jejak yang Tertinggal

Hari sudah mendung.  Sekalipun enggan pergi, kami tetap kembali.  Bening cuaca, sejuknya udara, hangat airnya kami rangkum dalam jiwa.  Orang bilang, cukup sekali saja mengunjungi satu tempat agar kesannya tetap terasa.  Cukup tahu sedikit saja biar kekagumannya tak sirna.  Ah, tapi rasanya aku dan teman-teman ingin kembali lagi dan lagi.  Semoga suatu hari nanti.  Saat liburan tiba. 

Saat itu kuharap, tak ada kecemasan akan gugurnya batu alam. Batu-batu yang seharusnya tertanam di alam, memperkokoh tanah, bukan tertempel di bangunan-bangunan kota yang sering dibanggakan. Kembali ke alam, menggunakan bahan-bahan alami bukan berarti mengeruk tanpa henti.  Selalu ada batas yang mesti dipatuhi.  Hukum alam terus berjalan, mari tetap jaga keseimbangan.  

Penutup

Apakah teman-teman dapat merasakan apa yang saya rasakan juga?  Bayangkan bening air dari tebing menjulang.  Imajinasikan segarnya udara di daerah Pejawaran.

Demikian cara menulis laporan perjalanan wisata melalui feature.  Tulis saja apa yang kita alami.  Bumbui dengan kata-kata yang berenergi.  Kesan mendalam disuguhkan melalui tulisan ini menarik hati.  Berbekas dan tak pernah basi.

Baca juga: Contoh Tulisan Feature Humanis

Jangan Lewatkan

Comment