Dalam Gerbong Kereta

Dalam delapan jam ke depan, kuperkirakan tubuhku hanya akan terpaku di kursi penumpang salah satu gerbong kereta Lodaya Bandung Yogyakarta.  Namun kupastikan, jiwa dan pikiranku kembara jauh melampaui laju kereta pagi ini.

Kereta bergerak dari stasiun Hall Bandung.  Bola mataku melirik keluar melalui jendela kaca tanpa debu.  Siapapun di luar sana dapat terlihat dengan jelas.  Bahkan seandainya Damar mendadak muncul melambai-lambaikan tangan, aku tak akan salah terka.  Tapi itu tak terjadi.  Tak ada Damar. 

Pandangannya beralih ke dalam gerbong.  Deretan kursi sebagian diduduki orang-orang yang terus menunduk pada gawai masing-masing.  Selebihnya, memejamkan mata.  Aku duduk di deretan belakang.  Di sebelahku, seorang wanita paruh baya, sibuk dengan situs belanja online.  Ekor matanya menangkap bayanganku.  Ia menoleh tersenyum sesaat kemudian menunduk lagi.  Jarinya lancar di atas layar. 

Ini sama seperti yang kualami dua malam lalu.  Suaraku serak saat menceritakan pada Damar, apa yang kualami siang sebelumnya di pasar.  Bahwa seorang lelaki bertampang aneh mengerjarku.  Kakiku yang masih pegal lantaran jatuh tersaruk-saruk di los-los sayur.  Pasar cukup ramai waktu itu.  Tawar-menawar pedagang pembeli terdengar samar.  Saling sahut saling tancap harga.  Tet tot tet tot balon dalam genggaman anak kecil kulewati, ditingkahi deru mesin kendaraan bermotor di sekitar pasar membuat suasana kian riuh.  Kakiku terantuk keranjang buah.  Otot-otot kaki yang baru saja sembuh tak mampu menahan beban tubuh.  Tak dapat dihindari, aku berdebam di lantai pasar.  Lelaki itu hendak maju, tapi ia mundur lagi.  Memandangku sekilas, lalu berlari ke kiri ke los buah, berlari kecil ke los bumbu, daging, lalu bayangannya menghilang.

Mulutku dengan sangat lancar mengisahkan.  Diiringi sesenggukan karena rasa takut belum juga mau beranjak dari dada dan kepalaku.  Air mata tanpa diminta menyusuri pipi dengan lekas.  Beberapa kali jari kiriku membersihkan ingus.  Kudengar nafas berat terhempas dari mulut Damar.  Tangannya meraih gelas kopi yang isinya telah ia minum tuntas, lalu terulur ke arahku. 

“Hapus air matamu, Ra!”

Antara gelas dan tatapanku waktu itu sama kosongnya.  Menyadari tak satupun anggota tubuhku menanggapi uluran tangannya, tatapan Damar beralih dari gawai ke arahku.  Bibirnya tak bergerak untuk satu hurufpun.  Tangannya turun dan gelas kopi sudah di tempatnya kembali.  Detik berikutnya, kutarik kotak tisur di sebelah gelas.  Waktu itu, kedua jemari Damar kembali bergerak lincah di atas layar gawainya.  Persis seperti yang tengah kualami.  Bedanya, Damar suamiku.  Sedang wanita yang tiketnya satu nomor di atasku tak memiliki hubungan apapun denganku.

Jiwaku enggan mengingat peristiwa itu.  Namun kepalaku masih tetap bekerja.  Memunculkan gambaran-gambaran hampir sepanjang satu semester terakhir.  Lidahku kelu untuk bertanya kenapa.  Yang membuatku heran adalah, sepak bola yang semula ia ikrarkan sebagai bagian dari hidupnya, berangsur ia tinggalkan.  Lapangan yang biasanya ia kunjungi tiap akhir pekan bukan lagi pilihan.  Ia beralih ke sofa favorit di ruang tengah, menempel ke tembok dan mengarah ke kolam ikan samping yang dibatasi kaca lebar.  Kepalanya bersandar pada pegangan sofa beralaskan bantal dengan sarung biru.  Kedua kakinya terjulur bebas ke depan.  Terkadang ia menekuknya, melemparkannya kembali ke depan yang disangga pegangan sofa atau yang sengaja ia tumpangkan ke atas bantal.  Sesekali ia menarik kakinya, menekuk ke arah perut.  Beberapa kali mengubah posisi.  Miring ke kiri atau ke kanan.  Yang tak berubah hanya kedua tangan, ponsel, dan tatapan mata. 

“Mau kopi, Mas?” tanyaku dari pintu kamar.

Telingaku tak menangkap suara apapun, jadi bibirku bergerak lagi. 

“Mas Damar mau kopi?”  Volume suara naik setingkat. 

Ia tergagap sesaat lalu kupastikan gendang telingaku mendengar, “yaa..”

Hanya dalam waktul lima menit, aku ada di ruangan itu lagi.  Telunjuk dan ibu jari kanan pada gagang cangkir, ujung jemari kiri pada piring kecil di bawah cangkir.  Hidungku menangkap aroma gayo wine yang soft namun cukup membuat bulu hidungku bergetar.  Dan entah bagaimana cara kerjanya, mampu menggerakkan otot-otot sekitar bibir tertarik secara simetrik ke samping.

Setelah meletakkan di meja kecil di samping sofa, aku menjatuhkan pantat di sofa, di sisi kanan kaki Mas Damar.  Jari-jariku mulai bergerak ringan memijitnya. 

“Kopinya, Mas.”

Ia menatapku.  Hidungnya meangkap aroma kopi.  “Eh, aku minta kopi ya?  Padahal sudah membayangkan wedang jahe.”

Tanganku berhenti memijit.  Dahiku berkerut.  Tak satupun subyek, predikat, obyek, maupun tanda seru meluncur dari rongga mulutku.  Yang kuingat, aktivitas pijitan, menikmati ikan-ikan dan kemericik air kolam mendadak usai.  Tubuhku dengan lekas bergerak menjauhi lelaki berbobot enam puluh enam dengan tinggi seratus tujuh puluh itu. 

Aku beralih dari pikiran ke kenyataan.  Gerakan kereta yang itu-itu saja menidurkan banyak penumpang.  Kepala dan mataku, selama empat jam perjalanan, paling sulit menunduk.  Sebaliknya, semakin kuat aku mencoba memejam, semakin tergali semua ingatan tentang Damar.

Aku bertanya-tanya di koordinat mana poisisinya dalam dua hari ini sebenarnya.  Sebelum berangkat ia mengucapkan melakukan perjalanan bisnis dengan kawan.  Ini perintah kantor.  Kantor yang mana?  Karena rupanya, tanpa sepengetahuanku ia telah resign enam bulan lalu.  Menurut seorang rekan, ia pindah PT.

Gawainya mati seharian penuh.  Terakhir sebuah panggilan mengejutkanku semalam. 

“Aku di Yogyakarta.  Mungkin tiga atau …..”

Aku memutus sambungan telepon dan tak menemukan solusi lain kecuali memesan tiket kereta bisnis Lodaya.  Seberapa banyak yang tak kuketahui sebenarnya?  Seberapa besar ruang penyimpanan gawainya, sehingga tak satupun kusadari.  Benda gepeng yang senantiasa di tangannya, baik di luar maupun di rumah.  Bahkan saat tubuhnya terbaring di sampingku, kurasakan begitu kaku karena entah sampai jam berapa sepasang tangan dan matanya terus saja tertuju pada gawai.  Ketika mataku terbuka pagi harinya, lelaki itu dan gawainya sama-sama tak aktif. 

Jika ini hanya sebuah kotak berjalan, kupikir teriakanku sudah memenuhi stasiun Kroya.  Kereta berhenti, isi kepalaku masih laju.  Kuedarkan pandangan ke seisi gerbong.  Beberapa penumpang tengah mengisi mulutnya dengan berbagai camilan.  Yang lain, mengangkat gawai ke telinganya.  Mulutnya komat-kamit.

Kuraih botol air mineral 350 ml, lalu menenggaknya hingga tetes terakhir.  Meletakkan kembali ke dalam tas.  Jariku menyentuh benda dingin yang setelah menutup panggilan, memesan tiket, lalu kumatikan.  Didorong penasaran, jariku menekan tombol power beberapa detik.  Layar terbuka.  Beberapa pesan masuk.  Tak satupun Mas Damar!  Aku memasukkannya lagi ke dalam tas rajut berwarna coklat.  Lalu memejam.  Ironis, saat kelopaknya menutup, air mata mendesak keluar.  Dengan selembar sapu tangan jariku mencoba mengeringkannya.  Tatapanku masih kabur.  Kulepas pandanganku keluar.  Pohon-pohon di luar seperti masa lalu dalam bayangan, tanpa bisa kupastikan dengan tepat.  Dan kereta ini adalah waktu yang terus maju.  Seberapa lama aku terombang-ambing seperti ini? 

Stasiun wates di depan mata.  Orang-orang berebut turun.  Tubuhku benar-benar terpaku hingga gerbongku kosong.  Dari arah pintu gendang telingaku bergetar oleh sebuah suara.

“Ara!”

Aku membisu.

“Cemara!”

Itu suara Mas Damar. 

“Ayo turun.  Aku tahu kamu naik kereta pagi dari Pak Asep bubur.”  Senyumnya mengembang.  Aku baru ingat kalau aku masih sempat menyendok beberapa bubur sebelum berangkat.  Sekilas kuceritakan mau ke Yogyakarta dengan Lodaya.  Ah! 

Damar memandangiku dengan tatapan lucu, antara mau terkikik namun mulutnya terkatup.  Lalu ia bicara lagi.  “Kenapa tak bilang mau nyusul?”

Kini dahiku yang berkerut.  Tergambar lagi sikapnya sebelum detik ini seperti iklan yang berulang kali tayang.  Kakiku bergerak selangkah ke belakang.  Tanganku erat memegangi koper. 

“Aku mau ke rumah ibu.”  Aku berbalik hendak menjauh.  Ia menarik lenganku. Menyeret lebih tepatnya. 

“Lewat sini, mobil kita kuparkir di sebelah sana.” 

Tenagaku tak kuasa melepaskan genggamannya.  Ia membuka pintu, menyuruhku masuk.  Setelah barang-barang masuk, mobil melaju dengan kecepatan 40 km/jam.  Ia mengisi perjalanan dengan bercerita. 

“Kita akan pindah ke Yogyakarta!”

Aku menoleh.  “Kamu tahu, enam bulan ini aku berselancar di dunia maya.  Setelah resign dari kantor, seorang teman lama menawarkanku pekerjaan.  Aku mendapat waktu training selama lima bulan.  Kamu tahu, Ra?  Bikin animasi!” ia mengalihkan pandangan dari jalan ke arahku.  “Ini mimpiku, kamu ngerti kan?  Aku direkrut di studionya di Bantul.  Tak berapa jauh dari rumah ibumu, Sayang.” 

Tenggorokanku mendadak panas.  Kerongkonganku kering.  Dan kupikir lambungku seperti tertusuk sembilu.  Keringat mengucur dari dahiku.  Ketika tanganku bergerak mencari pegangan, Damar meraih dan menggenggamnya.  Dari sudut mataku kulihat senyum terukir di bibirnya.

Comment