Estetika Gaya Bahasa Dalam Cerita

Puisi498 Views

Gaya bahasa dalam sebuah cerita memberikan warna tersendiri yang membuat cerita menjadi estetis.  Dengan penggunaan bahasa yang tepat, cerita yang telah dibangun memiliki nilai lebih.  Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan sebuah gaya bahasa adalah, jangan asal indah tapi minim makna dan bertele-tele sehingga pembaca gagal menangkap pesan yang ingin penulis sampaikan.  Cerdas memilih gaya bahasa akan membuat cerita menarik.  Karena ada kalanya, pencerita perlu menggunakan bahasa lugas.

Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah cerita juga perlu menimbang genre tulisan.  Kepada siapa tulisan ditujukan?  Karena akan sia-sia jika tulisan sudah dibuat seindah mungkin namun pembaca memilih meninggalkan tulisan karena kebingungan dengan bahasa tertentu.

Beberapa majalah sastra hanya menerima cerita yang sastrawi.  Mengandung banyak konotasi dengan ciri simbol-simbol bahasa tertentu.  Tulisan lebih didominasi makna tersirat.  Tentu saja karya sastra semacam ini ditujukan kalangan pecinta atau penikmat sastra.

Jika yang Anda tuju adalah pembaca seusia remaja, penggunaan bahasa kekinian yang lugas tentu akan lebih bijak.  Akan berbeda halnya jika Anda membuat cerita pendek untuk anak-anak.  Jangan sampai tulisan menimbulkan makna ganda atau ambigu.  Anak-anak belum mampu menangkap makna dibalik kata.  Seyogyanya, apa yang dituturkan bersifat faktual.

Jenis Gaya Bahasa

Melalui tulisan berikut akan saya sampaikan beberapa bentuk gaya bahasa atau yang sering kita ketahui sebagai majas.  Yaitu teknik mengungkapkan bahasa yang maknanya tidak merujuk pada makna sebenarnya.

1. Gaya Bahasa Simile

Yaitu gaya bahasa yang membandingkan satu dengan lain hal yang memiliki karakteristik sama menggunakan kata perbandingan langsung.  Misalnya:

 

“Kini penampilan Guru Akhir macam carik kantor desa.  Bajunya safari empat saku.  Tasnya jatah dari “Workshop Peningkatan Mutu Guru” yang diadakan dinas pendidikan propinsi lima tahun lalu.  (Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata halaman 127)

Paragraf diatas tengah membandingkan penampilan Guru Akhir yang sama seperti carik kantor desa dengan kata, “…macam carik kantor desa”.

Gaya bahasa ini memiliki ciri:  mengandung kata seperti, layaknya, macam, mirip, persis, atau kata lainnya yang sejenis.

2.  Gaya Bahasa Personifikasi

Yaitu gaya bahasa yang memberi benda-benda mati sifat-sifat kemanusiaan.  Contohnya, “Bangku-bangku terlihat muram.  Kelas kesepian ditinggal penghuninya.  Ah, kapan pendemi akan berakhir?  Sekolah ini merindukan anak-anak.”

3.  Gaya Bahasa Hiperbola

Gaya bahasa yang memiliki ciri melebih-lebihkan ini berfungsi untuk mendramatisasi cerita.

Sebagai contoh, “Dia wanita tercantik di dunia.”

Sebenarnya cantik itu relatif.  Namun gaya hiperbola pada kalimat itu ingin menunjukkan bahwa wanita yang dimaksud sangat cantik.

4.  Metafora

Perbandingan langsung tanpa menggunakan kata perbandingan.  Tidak memakai kata seperti, bagaikan, atau sejenisnya.

Contoh

Aku mematung ketika kau mengatakan semua itu.

Mulutmu harimaumu.

Aku binatang jalang

 5.  Metonimia

Merupakan gaya bahasa yang mengatakan sesuatu dengan kata lain yang memiliki hubungan erat.  Biasanya nama merek, label, atau ciri suatu benda berdasarkan kesepakatan atau kebiasaan masyarakat.

Contoh

Tuan Jon menuju kota Surabaya naik BMW

Artinya, Tuan Jon menuju kota Surabaya naik mobil.

Ibu pergi ke Indomart.

Artinya, Ibu pergi ke minimarket.

 

Penutup

Masih banyak gaya bahasa yang digunakan dalam cerita.  Kehadirannya dalam karya sastra akan mempercantik sebuah karya.  Asal tepat aplikasinya, tak sekadar memelintir kata, maka estetika karya akan tercapai.  Namun demikian, tak ada aturan khusus bagi seroang penulis untuk menggunaan gaya bahasa tertentu atau meninggalkan lainnya.  Penulis bebas menentukan bahasa yang akan disisipkan pada tulisannya.

Comment