Kapan Waktu Paling Tepat untuk Menulis?

Jurnal Bebas60 Views

Dibutuhkan fokus besar untuk dapat menghasilkan karya besar.  Menuangkan sebuah ide menjadi tulisan panjang ditopang kekuatan mental dan fisik secara proporsional.  Itu kenapa, waktu menjadi variable penting dalam proses kreatif menulis.

Waktu ideal seorang penulis tak sama dengan penulis lainnya.  Ada yang merasa nyaman menulis ketika dunia seolah tak dihuni.  Ada yang mampu menarasikan peristiwa langsung di tempat kejadian, dalam hiruk pikuk keadaan.  Keadaan ini memunculkan style berbeda-beda bagi penulis.

Saya sendiri bukan penulis full time.  Pekerja dan ibu rumah tangga.  Tapi menulis bukan berarti sambilan.  Menulis memiliki tempat tersendiri dalam hati.  Memberi dorongan kepada pikiran, dan saya berusaha merealisasikan melalui belajar, membaca, riset, dan menuangkan kembali dalam bentuk tulisan.

Tips Menulis Bagi Penulis Part Time

Bagi teman-teman yang bernasib seperti saya, ingin menulis bebas tapi tanggung jawab lain tak mudah lepas, saya ajak belajar bersama membagi waktu menulis.  Saya rasa, tips berikut boleh dicoba.

  1. Ide sering muncul sewaktu-waktu. Kata-kata unik, kalimat nyentrik, peristiwa menggelitik sering mendadak terbesit.  Bahkan kadang saat naik motor.  Jika hal itu terjadi, segera ulang-ulang dalam hati, atau ucapkan keras-keras, atau buru-buru berhenti.  Catat dalam ponsel.  Bisa juga ambil kertas lalu tulis.  Mungkin saat itu hanya berupa potongan kalimat.  Ide yang belum utuh.  Tapi kata-kata yang kita tulis nanti bisa dikembangkan menjadi premis yang menarik;
  2. Jika tips pertama adalah mencatat lejitan ingatan tentang sesuatu, tips menulis kedua yang lebih serius adalah: menulis ketika rancangan ide telah mencapai 80% dalam benak kita. Tidak ada ukuran waktu dalam hal ini.  Bisa lama, bisa saja sesaat.  Yang jelas, setelah ide muncul, pikirkan masak-masak.  Rangkaillah di kepala jalinan ceritanya.  Pertimbangkan plot seperti apa yang akan kita gunakan.  Jika itu sudah dilewati, carilah waktu paling nyaman sesuai kebiasaan kita, untuk menuliskan rancangan tersebut.  Boleh dibilang, draf awal cerpen;
  3. Di hari-hari biasa, saya jarang menulis panjang. Maksimal 1000 kata.  Itu saja sudah cukup melegakan.  Dan tulisan tersebut terketik pada malam hari.  Bagiku, malam adalah ruang lapang, tempat kita berkesempatan menuangkan segenap pikiran kita.  Tentu saja, proses ini setelah melampaui perenungan;
  4. Kapanpun, menulislah setiap hari. Jadwal khusus bagiku hanya akan membebani.  Saya lebih senang menulis dengan waktu yang fleksibel.  Kadang saat menunggui anak bermain, dalam antrian panjang di bank atau di tempat umum, dalam perjalanan yang cukup jauh dimana besar kemungkinan berada dalam kendaraan roda empat dalam jangka waktu lama.

Penutup

Manajemen waktu begitu penting bagi seorang penulis.  Sesuaikan saja dengan kegiatan harian kita.  Anggap menulis bagian dari hidup.  Namun demikian, hidup tak melulu soal menulis.  Artinya, tetap jaga keseimbangan dalam hidup.  Tak perlu meninggalkan kehidupan sosial semata demi menulis.  Sebaliknya, kegiatan menulis kita seyogyanya dapat bermakna sosial.  Disiplin menulis harus.  Namun bukan disiplin kaku.  Saat jadwal menulis tiba namun seorang tamu datang membutuhkan kita, bisakah kita menolak?

Terakhir, waktu adalah milik kita.  Maka kita yang mengelolanya.  Waktu ada jika kita memang menyediakan waktu.  Waktu menulis tersedia jika kita memang berniat untuk menulis.  Tak perlu beralasan tak punya waktu.

Comment