by

Lebih dari Fakir, Meminta-minta adalah Soal Pola Pikir

Pemandangan ini bukan sekali saya temui.  Seorang lelaki dengan penampilan kusut, berjalan tegak, namun suaranya sengaja dibuat tak jelas seperti orang sakit datang ke kantor bermaksud meminta sumbangan.  Di waktu lain saya melihat di sudut-sudut pasar, ada laki-laki, ada juga yang berjenis kelamin perempuan setengah memaksa menengadahkan tangan, bahkan menjawil saya ketika lewat.  Tak sampai disitu, dengan sedikit desakan dan pendekatan sedekah bagi yang tak mampu, mereka secara gamblang meminta uang.

Hati saya terketuk.  Bukan karena kasihan, tapi menyayangkan karena secara fisik mereka sehat walafiat.  Namun secara sadar melusuhkan tampilan, merendahkan diri dengan meminta-minta.  Kalau mereka benar-benar tak mampu, mungkin saya maklum.  Tapi jika masih ada pekerjaan lain, kenapa tak coba berjuang dulu?  Mungkin ini pandangan subyektif saya.  Bisa jadi ada faktor lain yang memotivasi mereka melakukan itu.

Lalu, bagaimana menurut Sobat Klasik pada banyak kejadian berikut:  Agar anaknya diterima di perusahaan temannya, ia meminta kemudahan-kemudahan melewatkan berbagai tes.  Pada kondisi lain, seorang pelanggar lalu lintas meminta kelonggaran aparat untuk membebaskannya hanya karena ia anak pejabat.  Ada juga kisah, seorang yang rela merendahkan diri, menyerahkan segalanya demi mengemis cinta.  Atau seseorang yang seringkali minta gratisan, diskonan pada teman-temannya.

Pola Pikir Keliru

Tak satupun kalam Allah Azza wa Jalla yang menyuruh ataupun membolehkan kita untuk meminta-minta.  Sebaliknya, jaminan rezeki telah Allah Subhanahu wa Ta’ala luaskan di seluruh muka bumi ini.  Kalau begitu, meminta-minta ini tak selalu karena keadaan miskin namun lebih pada pola pikir miskin, pola pikir tak mampu atau malas.

Mari kita lihat beberapa ayat berikut:

  1. Al Quran Surat At-Taubah ayat 105

 

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

  1. Al Quran Surat Hud ayat 6

 

“Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” 

 

  1. Al Quran Surat Al Mulk ayat 15

“Dialah yang menjadikan untuk kamu Bumi yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

 

  1. Al Quran Surat Al Isra ayat 30

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

Keempat ayat di atas memotivasi umat islam untuk bekerja keras, bukan untuk meminta-minta yang notabene tinggal membuka tangan dan menengadahkannya.  Kenapa tak berusaha?  Apakah sudah tak satupun pekerjaan di dunia ini bisa dikerjakan dan menghasilkan rezeki untuk sekadar makan?

Kalau begitu, orang yang dengan mudahnya memutuskan untuk meminta-minta alih-alih berusaha, tak memiliki keyakinan dalam dirinya bahwa Allah itu ada.  Allah Ta’ala telah menyediakan bumi dan segala isinya untuk manusia, tinggal bagaimana upaya kita.

Selain itu, orang yang meminta-minta berarti orang yang tidak bersyukur.  Bagaimana mungkin mereka tak mengoptimalkan akal pikiran, kesehatan, kesempatan, anggota tubuh yang sehat untuk kebaikan?

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Kapan Meminta-minta diperbolehkan?

Jangan terkejut.  Sekalipun secara terang Allah menyuruh kita untuk bekerja, namun Islam agama yang fleksibel.  Boleh meminta dengan syarat.  Dan itupun memiliki batasan-batasan tertentu.  Diriwayatkan oleh Muslim, sebuah hadits sahih berikut:

“Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh, kecuali bagi salah satu dari tiga golongan. Pertama, orang yang memikul beban tanggungan yang berat di luar kemampuannya. Maka, dia boleh meminta-minta sampai sekadar cukup, lalu berhenti. Kedua, orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya. Maka, dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya. Ketiga, orang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang yang sehat pikirannya dari kaumnya menganggapnya benar-benar sangat miskin. Maka, dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya. Sedangkan selain dari ketiga golongan tersebut hai Qabishah maka meminta-minta itu haram, hasilnya bila dimakan juga haram.” (HR Muslim)

Kita mencatat tiga syarat diperbolehkannya meminta-minta:

  1. Orang yang memikul beban tanggungan di luar kemampuan;

Misalnya, sebuah keluarga miskin memiliki anak yang atas kehendak Allah mengidap kanker.  Dokter menyarankan operasi, namun keadaan ekonomi keluarga tak memungkinkan operasi dijalankan.  Maka orang tersebut boleh meminta bantuan pada pemerintah, pada pihak rumah sakit berupa keringanan biaya, atau pada masyarakat.  Perlu dicatat, meminta disini bukan meminta-minta dalam arti menjadikan pengemis sebagai pekerjaan.  Setelah orang tersebut mendapatkan bantuan, hendaknya berhenti meminta-minta.

  1. Orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya;

Kondisi ini bisa kita jumpai pada korban tanah longsor, korban kebakaran, dan masih banyak lagi kondisi yang menyebabkan seseorang kehabisan seluruh hartanya.  Demi bertahan hidup, mereka diperbolehkan meminta;

  1. Orang yang sangat miskin menurut orang-orang sekitar yang akal pikirannya sehat.

    Artinya, secara logika orang tersebut memang sangat miskin.  Mungkin punya rumah, tapi reyot bahkan nyaris roboh.  Atau ia sebenarnya bekerja, tapi penghasilan tak cukup sekadar untuk makan atau memperbaiki bagian rumah yang rusak.  Orang-orang dalam golongan ini boleh meminta sekadarnya.

Sikap Kita Pada Peminta-Minta

Saya akan mencontohkan bagaimana Rasulullah Sholatu ‘Alaihi wa Salam ketika menghadapi orang yang meminta-minta.  Kisah ini saya ambil pada buku Muhammad Teladanku, buku ke 12.

Seorang sahabat anshar pernah datang dan meminta sesuatu kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam.  Beliau lantas bertanya.

“Tiadakah sesuatu di rumahmu?”

“Ada, ya Rasulullah.  Selembar kain sprei yang sebagian kami kenakan dan sebagian kami jadikan alas duduk dan sebuah gelas besar yang kami gunakan untuk minum air.”

“Bawalah keduanya kepadaku,” sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ketika keduanya telah dibawa, beliau berkata kepada para sahabat yang lain, “Siapa yang mau membeli kedua barang ini?”

Seseorang menyambut, “Saya membeli kedua barang itu dengan harga satu dirham.”

“Siapa yang ingin menambahinya satu dirham?” tanya Rasulullah.

“Saya beli keduanya dua dirham,” sambut sahabat yang lain.

Maka Rasulullah Sholatu ‘Alaihi Wa Salam memberikan dua dirham itu kepada laki-laki Anshar tadi dan bersabda, “Belilah makanan satu dirham, lalu berikan kepada keluargamu.  Satu dirham lagi belikanlah sebuah kapak dan bawakan kepadaku.”

Setelah melaksanakan pesan Rasulullah Sholatu ‘Alaihi wa Salam, laki-laki itu kembali dengan membawa kapak.  Ia menggunakan kapak tersebut untuk mencari kayu bakar yang dijual ke pasar.  Lima belas hari kemudian, ia kembali ke hadapan Rasulullah Sholatu ‘Alaihi Wa Salam.  Ia membawa uang sepuluh dirham.  Sebagian ia belikan makanan dansebagian untuk pakaian.

Rasulullah Sholatu ‘Alaihi wa Salam tersenyum, “Ini lebih baik bagimu.  Kelak pada Hari Kiamat, meminta-minta itu akan datang berupa suatu noda pada wajahmu.”

Penutup

Rezeki bisa datang dari mana saja.  Namun sesuatu yang didapat setelah perjuangan akan terasa lebih nikmat, lebih indah, dan membuat jiwa kita terasa kaya.  Mental meminta-minta akan mengkerdilkan jiwa dan melemahkan iman kita.  Jadi, jangan asal meminta-minta.  Mintalah sebanyak-banyaknya hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala

 

 

Comment