Lima Contoh Fiksi Mini Beragam Tema

Cerpen, Puisi4319 Views

Sebagaimana namanya, fiksi mini berusaha menyampaikan pesan dalam cerita singkat.  Lima Contoh Fiksi Mini Beragam Tema yang saya tulis di bawah ini memuat unsur intrinsik cerita pendek meski hanya beberapa ratus kata.  Dari penokohan, latar waktu dan tempat, konflik, juga pesan.  Suatu tantangan tersendiri ya, karena hanya beberapa ratus kata.

Cara menulisnya persis seperti menulis cerpen.  Kita hanya perlu memangkas sebanyak mungkin kata yang tak perlu.  Tak ada batasan panjang pendeknya cerita.  Ada yang ratusan kata, bahkan lebih ekstrim hanya satu dua tiga kata.  Yang pasti, jauh lebih singkat dari cerpen.  Meski begitu, fiksi mini merupakan cerita utuh.

Fiksi Mini Beragam Tema

1. Tema Rindu

Melukis Kerinduan

Mijen, 50 km dari pusat kota, dikelilingi hutan pinus.  Pada hari-hari hujan Desember, pukul 18.00 semua orang menutup pintu, jendela, toko-toko kecil, serta gardu jaga.  Di kamarnya, Ayuni sibuk melukis langit.

“Langit Kelam,” gumam Ayuni.  Ia memotret lukisannya dengan ponsel lalu mengirimkan pada Gagah melalui Whatssapp dengan pesan ‘lukisan ke 340’.

Dua menit berselang, ponsel Ayuni berdering.  Gadis itu meletakkan kuas yang berlumuran cat hitam.  Lalu menekan tombol terima di ponselnya.

“Ayuni, kita atur waktu ketemu ya?” suara Gagah menyaingi gaduh hujan. 

“Halloooo!” tanya Gagah lebih lantang.

Akhirnya Ayuni menggerakkan bibirnya.  “Kamu sudah mengatakannya lima kali sejak terakhir kita bertemu Januari lalu, Gah!”

Setelahnya, Ayuni hanya mendengar petir menyambar.   Lalu ia mengejar dengan serentetan kalimat yang jika ditulis mencapai satu halaman penuh.

“Maaf.  Kali ini aku janji.  Akan kusempatkan datang ke desamu suatu hari.”

Ayuni menggeleng.  “Mungkin kau tak benar-benar berwujud.  Atau kau makhluk dunia lain yang tak mampu menembus duniaku.”  Ia menutup telepon dan membantingnya ke kasur. 

Diambilnya kuas lalu memulaskan pada kanvas secara serampangan.  Langit baginya, jembatan  kerinduan.  Dari dua tempat berbeda, terlihat langit yang sama.  Kali ini didapatinya lukisan langit semakin menghitam.

2.  Tema Peristiwa

Puasa

Wanita setengah baya itu termangu di depan sepiring nasi.  Lauk sekadarnya tergeletak tanpa disentuh.

“Makanlah biar kuat puasamu!” perintah lelaki di sampingnya.

“Mengangkat sendok saja susah, bagaimana Zen berani mengangkat parang dan menusukkannya ke dada Kepala Desa.  Siapa yang mengajarinya.  Kemana saja aku sebagai ibu selama belasan tahun ini?” Ia menepuk dadanya yang mendadak sesak. 

Butiran bening membasahi pipinya.  Suaminya bangkit.

“Yang terjadi, terjadilah,” katanya.

“Ibu mana yang tega melihat anaknya mati dihabisi masa.”

“Dan anak mana yang tak sakit melihat ayahnya ditusuk sekalipun korup.” Suaminya membalas.

Lantas keduanya diam.  Makan sahur di piring masing-masing mendingin.

3.  Tema : Gaya Hidup

Gamis Hijau

Siang itu Juminten menunjukkan sebuah nota pembelian.

“Tar, cepetan bayarin dulu.  Sayang banget kalau sampai kehabisan!”

“Penting banget, gitu?”

“Buat lebaran.  Ini keren, anggun, dan elegan.”

Tarmini melengos pergi. 

“Plis, Tar!”

“Kemarin Pre Order kue kering aku dulu yang bayarin.  Sekarang baju.  Puasa juga belum, Jum!”

Tarmini mengibas-ibaskan nota di tangannya.  Di kepalanya terbayang gamis hijau berkibar-kibar.

4.  Tema : Kehidupan Sehari-hari

Di Sebuah Pertemuan

Sepanjang pertemuan rutin PKK di balai desa muka Zein semerah tomat.

“Kamu pakai perona pipi?” ujar seorang di sampingnya.

Yang lain menimpali, “Kepanasan, mungkin.”

Zein hanya tersenyum sambil mengipasi wajahnya dengan satu tangan.   Tangan lainnya secara intens memegangi perutnya.

“Ugh! Akhirnya!” desis Zein akhirnya sambil bernafas lega. 

Acara belum usai, beberapa orang bergegas keluar sambil menutup hidungnya.

5.  Tema : Keluarga

Lolipop

Bocah gembul berusia tiga tahun itu duduk di pojok kamar sambil meremas-remas boneka Winnie the pooh kesayangannya.  Matanya sembab.  Bibirnya melengkung ke bawah.

“Masih mau ini?” tanya nenek menunjukkan lollipop pelangi selebar tutup gelas.

Bola mata bocah itu bergerak ke samping, bibirnya mengerucut diikuti gerakan kerongkongan menelan ludah.

“Nanti mama malah.  Gigi Vio habis dimakan lollipop.”

Nenek menggeleng.  “Asal Vio rajin gosok gigi, lollipop aman!”

Vio memamerkan sebaris gigi hitam dan  rumpang, pipi tembemnya naik, matanya menyipit.  Nenek terkekeh. 

“Gigi nenek dimakan lollipop juga?” tanya Vio heran melihat rongga mulut nenek kosong.  Padahal tiap malam ia melihat nenek menggosok gigi.

Penutup

Bagaimana, mudah bukan membuatnya?  Yang perlu didingat, sekalipun cerita singkat, fiksi mini tetap cerita utuh.  Bukan asal pendek, tapi jelas dan memiliki makna.  Teman-teman bisa menggali ide dari kehidupan sehari-hari untuk membuat fiksi mini.  Pasti menyenangkan merangkum kejadian-kejadian yang kita alami dalam satu kisah singkat.  Tak akan bosan membacanya.  Selamat mencoba!

 baca juga : zamrud

 

 

 

Comment