Maestoso

Cerpen177 Views

Mestinya, cukup minum, makan, berbincang, atau istirahat sementara di persinggahan.  Mestinya hanya berhenti sejenak saat bertemu koma.  Ini yang terjadi ketika menganggap koma sebagai titik pemberhentian.  Menyediakan waktu, energi, memori, juga memberikan hati.

Sejak pukul 22.00 hingga pukul 23.00, tak kurang dari 12 kali tatapan Titik beralih dari laptop ke ponsel.  Email, whatsapp, telegram, dan beberapa aku media sosial diperiksanya.  Dari ratusan temannya yang tengah online, tak satupun Koma. 

Ponsel itu menemui nasibnya kembali tergeletak di atas nakas.  Juga laptopnya, bersanding dengan bantal guling. Titik berdiri, tangannya meraih toples.  Segenggam kacang tanpa kulit dijejalkan ke mulut.  Ia duduk lagi, tatapannya kembali drama Korea tentang koki kerajaan yang tadi ditontonnya.  

Selang beberapa waktu tangan kirinya meraih ponsel.  Membuka pesan.  Hanya grup whatsapp kawan-kawan SMP nya yang berisik.  Lainnya, pesan yang malas ia baca.  Sekali lagi, tatapannya kembali ke monitor.  Tapi sebentar-sebentar ia mendesah.

Huh!!!

Ia meraih ponsel lagi.  Kini ia melakukan panggilan telepon.

“Halo, ayam bakar dua.  Nasi sama lalap.  Jangan lupa sambal,” pesan Titik dengan tempo cepat.

“Siap, Mba Tik.  Kamu memang pelanggan setia.  Ada tambahan?”

“Mendoan…” jawabnya pelan.  “Oiya, es jeruk nipis ya!  Nggak pake lama.”

Wanita di seberang telepon mengulang ucapan Titik.  “Pakai es???”

“Iya!”

“Oke.  Tunggu ya, Mbak.  Dua puluh menit sampai.”

“Lama banget sih!!!” nada Titik meninggi.

Sontak, Rena mengangkat kepalanya.  Gadis yang sejak tadi sibuk membuat laporan pekerjaannya bangkit.  “Apaan, sih, Tik?”

“Laper.” 

Rena melirik jam di dinding.  Lalu tatapannya menuju ke jendela kaca kamar Titik.  Di luar suasana Cilacap masih ramai.  Deru kereta, kendaraan, juga suara-suara orang berbincang.  “Biasanya lapar yang bikin emosi.  Kamu sebaliknya deh.  Emosi yang bikin lapar.”

“Ya, aku emang gitu kan?”

Rena tak menjawab.  Ia melirik rak plastik biru muda di sisinya.  Isinya aneka camilan.  Dari keripik hingga roti sobek.  Juga berbagai minuman.  Bahan makanan yang disediakan ini di samping sebagai camilan, Rena pikir juga sebagai pereda kemarahan.  Setiap Titik merasakan kegundahan, makanan jadi pelarian. 

“Cerita aja kenapa Tik?  Kalau masalah biasa, cukup camilan.  Selarut ini kamu pesan ayam.  Ini nggak bisa dibiarkan.  Ceritalah!” pinta Rena.

Titik hanya menarik salah satu bibirnya.  Rena bertanya-tanya.  Dari apapun yang Titik ceritakan, kebanyakan soal pekerjaan atau bertemu kawan rese.  Semuanya berakhir di telinga Rena.  Lalu bahunya sering menjadi sandaran.  Sehabis itu, ia membuka rak biru muda.  Tangan Titik meraup isinya keluar.  Diiringi film drama, kesedihannya tertelan. 

Kali ini Titik lebih sering mendesah dari pada bicara.  Lebih tepatnya menghampaskan nafasnya.  Ada material apa di dadanya hingga mengubah cara bernafasnya begitu.  Dan dalam sepekan ini, dua kali ia mengisi ulang rak biru muda kesayangan.

“Anda galau?  Temui Tuhan, bukan lari ke ayam goreng,” canda Rena.

“Siapa yang galau.  Lagian, siapa yang mau mati?”

Saat itu pintu diketuk.  Pengantar makanan datang.

“Cerita dong!”

“Nggak ada apa-apa, kok.”

“Tanda-tandanya sudah sangat gamblang.”

“Sok tahu!”  Titik mencomot ayam bakar yang mengepul.  Bagian atasnya berwarna coklat kehitaman.  Aroma arang, kecap, minyak, dan bumbu menguar menusuk hidung.  Lalu khas sambal bawang menyempurnakan sajian.

“Pesan siapa yang kamu tunggu?”

“Nggak ada!”

“Tapi kamu bolak-balik memeriksa ponsel.  Ada masalah dengan suamimu?”  Rena bertanya karena suami Titik kini bekerja di Bali.  “Biasanya suamimu telepon kok atau video call, kan?”

“Iya udah, kok.”

“Terus?”

“Makan, gih!”

Rena mengambil bagiannya.  Keduanya makan dalam diam.  Rena tak melanjutkan apapun. 

“Tik, udah coba ayam bakar Maestoso?”

Titik mengerutkan dahi. 

“Kamu kan hobi banget makan ayam nih.  Apalagi kalau lagi galau.”

“Nggak perlu ditegaskan begitu juga, Ren.  Saat bahagiapun aku doyan.”

“Ehm.  Oke.  Sabtu ya?”

Titik bertanya di mana letak rumah makannya.  Dan kenapa namanya Maestoso. 

“Aku tahu Ayam Bakar Kalasan, Ayam Goreng mbak Yayu, Ayam Goreng Mboke, Pawonku Banjarnegara, Dapur Kasih, Sambal Gosrek tapi menunya Ayam-ayaman, Waroeng Joeglo, Ayam Bakar XYZ, Ayam Bakar ABC, Saung Mang Asep, Kedai Salsa, Ayam Goreng Yu Jum Banyumas, Ayam Bakar Pondok Cemani, Ayam Bakar Parakan, Ayam Goreng Bandungan.  Aku sudah singgah semua.  Tapi Maestoso…” Bahu Titik terangkat. 

Setelah mencuci tangan, ia bertanya lagi.  “Apa di tepi jalan, kok aku nggak lihat?  Apa istimewanya?  Apa arti Maestoso?”

“Rahasia.  Tapi akan segera kamu ketahui jika kita bertukar informasi.  Kamu katakan apa yang terjadi, akan kusampaikan kenapa ada Maestoso.”  Rena tersenyum jahil.

Jari Titik sigap mencubit lengan temannya.  “Aku bisa cari tahu sendiri.”

“Nggak mungkin.  Pokoknya, tempat ini recommended, Tik.  Ada terapi musik yang dilakukan pemiliknya langsung.  Kayaknya sih, dia musisi.”

“Hee?  Kok kayaknya.”

“Akan kukenalkan nanti.  Aku juga tahu dari calon suamiku.  By the way, aku nginep ya?”

“Iya, sudah selarut ini.  Udah pamit Ibu?”

“Ya.  Pamit calon suamiku juga hahaha!”

Titik membuka sebuah buku.  Dibolak balik halamanya.  Entah bagian mana yang ingin dibacanya.  Rasa-rasanya belum satupun kalimat ia selesaikan.  Rena di sampingnya.  Terdengar dengkur halus, lalu bunyi keriut gigi.  Diiringi detak jarum jam di dinding.  Jarum pendek dan panjang berada satu garis tepat di angka 12.  Rena meletakkan bukunya.  Tapi ponselnya tiba-tiba berbunyi.

“Hai, Tik.  Sorry akhir-akhir ini sibuk banget.  Ada proyek baru.” Titik membaca sebuah pesan whatsapp.

“Proyek apa?  Konser?”

“Aku nggak main gitar lagi kok.  Jariku kan cedera.  Lagian pandemic.”

“Ooh iya.  Belum sembuh?”

“Udah, si.” 

Titik buru-buru mengetik.  “Lama nggak nongol.  Pesanku cuma dibaca aja, kenapa?” Ia menekan tombok delete.  Lalu mengetik lagi.  Kirain udah nggak mau bales pesanku.  Dah lupa ya.”   Ia meletakkan ponselnya.  Dibiarkannya pesan itu.  Lagi-lagi ia menekan tombol delete.

Akhirnya ia menulis.  “Nggak papa.”

“Kamu, apa kabar?”

“Tak terlalu baik.”

“Kenapa?”

“Ah, kamu nggak bisa jadi tempat curhat lagi.”

“Maaf, lagi fokus kerjaan baru.  Sabtu minggu juga.”

“Nggak papa” tulis Titik.

Ia mengetik lagi.  “Kangen.”  Dadanya berdegup kencang ketika menuliskan itu.  Tangannya meraih air putih.  Mendadak tenggorokannya kering.  Ia memencet tombol delete lagi. Ditaruhnya ponsel di nakas beberapa lama.  Ia seperti hendak memilih check out belanjaan di online shop tapi menundanya karena tak cukup duit. 

Tapi ia menulis lagi, enam huruf yang sama.  Ibu jarinya mengambang di tombol send.  “Ah!” Ia memencet tombol itu buru-buru setelah kegamangan panjang.  Seakan dikejar hantu.  Dadanya bergemuruh.  Ia menarik selimut dan menangkupkannya ke kepala.  Beberapa menit ia buka lagi.  Membuka pesan whatsapp.  Centang dua abu-abu. 

Dalam beberapa detik matanya hanya tertuju pada tulisannya sendiri.  Lebih dari setahun komunikasi diantara mereka tak sehangat dulu.  Sepertinya aktivitas Koma tak pernah habis.  Sedang Titik, sesibuk apapun isi kepalanya, Koma ada di sana.  Berbagai pertanyaan muncul di benak Titik.  Hari telah sejam lalu berganti.  Akhirnya ia menekan lama pesan terakhirnya dan memencet icon tempat sampah.  Nafasnya terhempas kembali.  Ia terlelap. 

***

Setelah menginap tempo hari, Rena datang lagi pada hari Sabtu.

“Yuk ke Maestoso!”  Rena menjelaskan tentang terapi musik bagi jiwa-jiwa galau sambil tertawa renyah.  Lalu ia menambahkan.  “Suamimu belum pulang pekan ini, kan?”

“Belum.”

Hanya memerlukan empat puluh menit sampai di Maestoso.  Tempat ini mirip sanggar seni.  Mereka memasuki gerbang bergaya jawa kuno.  Dan langsung menuju tempat parkir.  Dari tempat parkir ke pendopo pertama mereka melewati jalan panjang sekitar 50 meter yang di kanan kirinya terdapat taman bunga.  Ada juga kolam dengan air mancur yang bergemericik.  Suasana tenang dan hikmat.  Namun dari arah belakang, tercium semerbak ayam bakar dengan tajam kemangi dan rempah-rempah. Pada saat yang sama, telinga Titik menangkap senandung seseorang.

Kesenangan tak abadi. 

Hidup hanyalah sekumpulah pilihan

Ambillah koma pada jalan panjang

Agar nafasmu tak kehabisan

Akalmu tetap ditegakkan

Bahagia sejati ada pada batas-batas

Sebuah titik adalah batas

Jika kau melewatinya, habislah semua

Namun kita masih bisa tetap bicara sebagai saudara. 

Datanglah oh datanglah temui aku

Kan kunyanyikan sebuah lagu untukmu saudaraku

“Itu pemiliknya!”  Rena menunjuk seseorang yang memunggungi mereka.  Di tangannya sebuah gitar membunyikan sebuah nada.  “Apa kabar mas Komarudin?”

Lelaki itu berbalik.  Dan Titik langsung dapat mengenalinya.  “Koma…?  Komaruddin?”

“Jadi ini kesibukannya.?”  Ia tak pernah bercerita tentang dirinya pada Titik.  “Ia tak menghindar.  Terbukti masih membalas beberapa pesanku.  Tapi ia memberi jeda begitu panjang.  Sebuah koma.  Dan ia ingin melanjutkan komunikasi sebagai saudara.  Di sinikah Rena akan mengobati ketidakwarasanku?  Mendadak aku merindukan suamiku.”  Titik bergumam ketika Rena berbincang dengan Koma, mantan gitaris yang tangannya cedera.  Ingin membantun Maestoso yang berarti Hikdmat dan Agung.  Menjadi terapis jiwa sekaligus perut karena saungnya juga menyediakan ayam bakar.

Comment