Memaknai Ulang Sejarah Hari Jadi Banjarnegara

Jurnal Bebas237 Views

 

Menandai hari lahir memiliki makna penting.  Karena dibalik gempita selebarasi hari jadi ada penegasan jati diri.  Disamping, titik ini menjadi tonggak berdirinya sebuah pemerintahan sekaligus pembangunan daerah.  Mestinya Banjarnegara tumbuh dan berkembang di atas spirit nasionalisme, patriotisme, dan religiusitas.

Hingga 2019 diyakini hari jadi Banjarnegara jatuh pada tanggal 22 Agustus 1831.  Sejak tahun 2020, Banjarnegara menegaskan hari jadinya adalah tanggal 26 Februari 1571. Perubahan tanggal lahir ini bukan main-main.  Investigasi peristiwa sejarah, penelitian dokumen dan kajian-kajian para pakar dengan pendekatan yuridis normatif serta pendekatan sejarah telah beberapa kali dilaksanakan.

Rujukan Sejarah

Bukti sejarah paling akurat yang dijadikan rujukan adalah Babad Kalibening.  Dikisahkan bahwa sejarah Banjarnegara masih searus dengan berdirinya Banyumas sebagai pusat pemerintahan.  Tersebutlah R. Joko Kaiman diangkat oleh Sultan Pajang menjadi Adipati Warga Utama II menggantikan mertuanya Adipati Warga Utama I.  Berkuasa sejak 27 Ramadhan 987 Hijriyah atau 22 Februari 1571.

Dengan pertimbangan tertentu pada tanggal 1 Syawal 978 Hikriyah atau 26 Februari 1571 ia membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian.  Ini juga yang menjadikannya populer sebagai Adipati Mrapat, yang dalam bahasa jawa maksudnya, mbagi papat (Membagi menjadi empat).

Wilayah tersebut yakni, Banjar Petambakan diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirayudha.  Merden diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirakusuma, Wirasaba diberikan kepada Kiai Nabehi Wargawijoyo, dan Banyumas sendiri dikembangkan di bawah tampuk kekuasaannya.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, kita tahu bahwa Banjar Petambakan adalah titik awal berkembangnya wilayah Banjarnegara hingga sekarang ini.  Sementara tanggal 22 Agustus 1831 diakui sebagai tanda dimulainya kekuasaan Belanda secara administratif di Banjarnegara.

Peristiwa pembagian wilayah Banyumas menjadi empat bagian ini paling dapat mewakili sejarah berdirinya Banjarnegara.  Untuk itu perlu ditetapkan kembali Hari Jadi Banjarnegara melalui Perda Nomor 6 Tahun 2019 tanggal 5 Maret 2019.

Penetapan Hari Jadi Sebagai Penegasan Eksistensi Diri

Tak dapat dipungkiri, perjuangan membangun Banjarnegara dimulai sejak Banjar Petambakan dipimpin oleh Kiai Ngabehi Wirayudha tahun 1571.  Artinya, 260 tahun sebelum Belanda menduduki wilayah Banjarnegara.  260 tahun bukan waktu yang singkat.  Selama itu tentu saja Banjarnegara telah mengalami banyak peristiwa di bawah pimpinan yang berbeda-beda.

Maka penetapan hari jadi ini menjadi salah satu bukti pengakuan sejarah, penegakkan keadilan, dan pengakuan eksistensi bupati-bupati yang telah berjuang terlebih dahulu. Hal ini akan memupuk rasa cinta terhadap tanah kelahiran, yang nantinya akan menumbuhkan jiwa patriotisme dalam membangun kabupaten Banjarnegara.

Penguatan jati diri ini menjadikan generasinya bertumbuh sebagai manusia yang tangguh tak mudah tergerus arus global dan mampu mengembangkan diri, mengaktualisasi sesuai bidang masing-masing, serta bersaing di dunia tak terbatas tanpa kehilangan identitas.

Gempita Selebrasi Hari Jadi 2020

Mengambil tema “Spirit Hari Jadi Banjarnegara dalam Rangka Mewujudkan Banjarnegara yang Bermartabat dan Sejahtera” perayaan ini dimaksudkan untuk mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan, kebanggaan daerah, serta mendorong semangat rumangsa handarbeni.  Dengan perasaan mendalam yang berakar kuat ini, Banjarnegara akan membangun dirinya dalam berbagai bidang.

Spirit hari jadi kabupaten Banjarnegara ke 449 ini diterjemahkan ke dalam serangkaian kegiatan yang diselenggarakan 17 Februari 2020 sampai 27 Februari 2020.  Antara lain, ziarah makam, Khutbah Jumat serentak se Banjarnegara, Kebaktian, Anjangsana ke mantan bupati dan wakil bupati Banjarnegara, serta lomba layur.

Panggung hiburan rakyat yang rencananya menghadirkan artis nasional Via Valen dilaksanakan tanggal 24 Februari 2020.  Malam tirakatan, 25 Februari 2020 mengawali puncak acara kirab dan prosesi hari jadi tanggal 26 Februari 2020.  Hari berikutnya diselenggarakan Ngaji Bareng Gus Miftah dan acara terakhir dari rangkaian acara hari jadi adalah Apresiasi Seni melalui lomba dan pameran lukis.

Keseluruhan acara terbuka untuk seluruh warga Banjarnegara dan sekitarnya.  Peran serta warga tentu sangat membantu suksesnya acara.  Lebih dari itu, perubahan tanggal ari jadi tidak akan bermakna jika tak diikuti perubahan sikap dan mental manusianya.  Maka, untuk Banjarnegara bermartabat dan sejahtera, spirit perubahan ke arah lebih baik, maju dan berkembang harus terus berkelanjutan.  Jangan berhenti di gempita selebrasi hari jadi.

 

 

 

 

 

 

Comment