by

Membedah Proses Kreatif Kepenulisan Novel Serat Kawi

Membuka Novel Serat Kawi, seketika dihadapkan pada neraka tersembunyi.  Pembaca merasakan, betapa hidup Hayu sebagai tokoh utama sungguh syarat tekanan, ketakutan, sekaligus dendam.  Namun keadaan ini justru yang membuatnya tetap bertahan. 

Deskripsi prolog terasa sangat tajam dan langsung membuat pembaca bertanya.  Mengapa Hayu berada di tempat yang dianalogikan neraka? 

Di satu kalimat dikatakan bahwa ia bertahan demi pengabdiannya pada negara.  Bentuk pengabdian seperti apa sampai ia rela memenjarakan dirinya di tempat yang mengerikan itu?

Dari sana ide-ide dikembangkan.  Jangan heran jika pembaca seolah berada di tempat yang sama dengan Hayu.  Mengalami sendiri peristiwa masa lalu, penuh liku dan tak terduga, sekaligus merasai kehidupan cinta yang menyayat jiwa.

Bedah Karya

Novel yang memadukan beberapa genre ini coba di bedah pada acara Talk Shaw, tanggal 29 Februari 2020.   Bincang Perkara Literasi menghadirkan HR. Yakiru sebagai penulis, Wakil Bupati Banjarnegara, H. Syamsudin S.Pd. M.Pd. Acara ini dimoderatori Panglima Gerilya Budaya Banjarnegara, Drajat Nurangkoso, S.Pd.  Beliau akademisi, pelukis, pegiat sastra dan budaya kabupaten Banjarnegara. 

Bapak Drajat Nurangkoso menandai novel karya HR. Yakiru sebagai entitas, bahwa kita telah hidup.  Novel yang diangkat dari kisah nyata itu memberi gambaran yang padat tentang perjalanan hidup tokoh dan sejarah Banjarnegara.  Meski sebenarnya, Pak Drajat lebih menyukai kisah romantis yang mendayu-dayu, namun beliau sangat mengapresiasi novel ini.

Untuk itu, HR. Yakiru disilakan untuk membeberkan secara langsung segala hal tentang karyanya. 

Kutipan Novel

Mengawali kisah panjangnya, HR. Yakiru membacakan nukilan novelnya di halaman 217. 

Mau sekuat apapun Hayu hanya seroang wanita.  Punya rasa yang tidak biasa.  Dominasi perasaan membautnya hancur dengan semua keterangan Dewo.  Entah ap ayang akan terjadi selanjutnya.  Tapi, di balik pintu toilet, ia menemukan lubang angina kecil, di dalamnya ada bungkusan dengan kantong putih.  Hayu mencabut penutup, seketika kantong itu terjatuh.  Isinya adalah paspor, dan beberapa dokumen.  Bahkan, ada uang dolar Singapura. 

“Apa yang kau rencanakan, Mas?”

Cukup lama Hayu menata hatinya yang berantakan.  Sebelum akhirnya siap untuk bertemu dengan Dewo lagi.  Kali ini sembab di matanya sudah mulai hilang, meski masih nampak.

“Sudah, Dek?” tanya Dewo ketika Hayu sampai.

“Apa maksud in isemua, Mas?”

Bukan menjawab, Dewo justru terkikik.  “Itu buatmu.”

“Sekarang, kau ingin apa dariku?” ia tersenyum.

Dewo menambahkan, “Dalimunte menyuruhmu membunuhku kan?” ia tersenyum.  Hayu berkata dalam hati.  “Gila, Tak ada rasa takut.”  Kabin hening.  Hanya sura pesawat yang mengerang karena beban perjalanan.

“Dek, kau percaya dengan kehidupan kedua? Aku menunggumu di sana ya?”

Hayu tak bisa menjawab.  Ia membisu.

Dewo merogoh sesuatu dari saku cdlana.  Dan melepas sepatunya.  Dari sana, jarum suntik dengan ukuran kecil diraih dengan santai.  Jarum itu dipaksa menyedot cairan dari botol mungil trasnparan.

“Ini adalah perpisahan.  Kau jangan nangis!” kata Dewo tersnyum.  Hayu memaksanya untuk berhenti dengan emrebutnya, nalurinya mengatakan akan terjadi sesuatu.  Dewo lebih bertenaga.  “Jangan, Dek.  Jangan!”

Hayu menangis dengan hati yang temuk.  Namun Dewo justru tersenyum menggodanya, sama sekali tidak ada beban.  Apalagi stress.  Hayu duduk dengan badan seperti tak bertulang.

“Tidak akan langsung mati.  Tenang saja, kita akan bisa bersama untuk 10 atau 15 menit.”

Ketika itulah Hayu mentap Dewo dengan tenang menyuntikkan jarum ke lengannya.

Proses Kreatif

Suara HR Yakiru bergetar saat membacanya.  Perasaan Hayu terwakili perasaannya sendiri.  Terbukti, ia mengelap air mata usai membaca.  Matanya sembab.  Ia mengosongkan diri dan menggantikannya dengan tokoh Hayu.  Itu kenapa, karakter Hayu terasa begitu hidup dan menjiwai.  Tak lain, ini berasal dari jiwa penulis sendiri.  Penulis yang baik mampu menampatkan diri, bertransformasi menjadi berbagai tokoh rekaannya dalam cerita.  Atau sebenarnya, ini kisah nyata?

Setelah menguasai diri, HR. Yakiru menjelaskan bahwa apa yang ia bacakan adalah sisi romantis dari novelnya.  Sebuah sesi di balik banyak ketegangan yang tokoh alami.  Sebuah layar yang terdeskripsi ditengah sejarah yang tengah dikulik kembali.  Romantis, thriller, dan sejarah yang berpadu menjadi alur ritmis sebuah kisah dalam novel.  Ini menunjukkan sisi jenius penulisnya.  Boleh di bilang, novel ini seperti novel Dan Brown versi Indonesia.

Tak mudah mendesain beberapa genre dalam satu novel.  Sebagai novel sejarah, HR. Yakiru harus melakukan riset mendalam, kronologi waktu harus tepat, dan tentu saja menuliskan bagian-bagian tertentu yang amat penting. 

Berkali-kali penulis mendatangi keluarga turunan Ki Dasa Sumitra yang menjadi bagian dari kisah yang ditulis.  Selain itu, sejarah Banjarnegara adalah poin utama yang tak boleh ditinggalkan.  Selain riset data, penulis hadir secara langsung ke tempat-tempat bersejarah tersebut. 

Penjelasan HR. Yakiru tentang proses kreatif kepenulisannya harus terpotong oleh kehadiran Wakil Bupati Banjarnegara, H. Syamsudin, S.Pd. M.Pd.  Berangkat secara profesional sebagai tokoh pendidikan, beliau begitu memperhatikan literasi di Banjarnegara. 

Menurut beliau, tingkat literasi di Banjarnegara tergolong rendah.  Namun dengan optimis percaya bahwa keadaan ini akan bergerak naik.  Acara Ngopi atau Ngobrol Perkara Literasi mesti digalakkan selain komunitas menulis Banjarnegara. 

Tentu saja, hal ini didukung penuh oleh seluruh yang hadir.  Peserta talkshow tampak begitu antusias.  Tidak hanya menyimak, peserta yang rata-rata bekerja di dunia pendidikan ini juga turut berbagi pengalaman tentang menulis.  Sehingga, acara yang dikemas secara asyik ini terasa semakin hangat.  Komunikasi berjalan dua arah.  Gambaran tentang dunia kepenulisan serta isi novel ini lebih mengena.

Bagi yang sudah membaca novel ini akan merasakan sendiri keseruan sekaligus kedalaman isi novel.  Bagi yang belum, akan saya tuliskan sinopsis yang akan memberi dasar pemahaman novel yang syarat konspirasi ini.

Sinopsis Novel Serat Kawi

Hayu Rakasiwi adalah gadis desa yang dan terpinggirkan.  Sebuah tragedy membawanya ke dalam kemelut panjang negeri ini, bahkan membawanya dalam kasus besar nan rumit.  Sedang Pram adalah lelaki melankolis yang cita-citanya hanya ingin bisa hidup bersama Hayu.  Titik.

Di sisi lain ada Sven Wolthuys, dia seorang programmer dan pengikut Ordo Kipas Hitam dari Kuil Sulaiman di Gnung Vaals, Belanda.  Ketiganya bertemu dalam sebuah kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya.  Namun membuahkan kisah sekaligus kejadian mengerikan penuh dengan teori konspirasi.

Hayu melarikan diri dari kejaran Interpol dan kepolisian atas tuduhan pembunuhan dua orang sekaligus.  Yang satu adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal, sedangkan yang satu lagi adalah sahabatnya.  Dan sekarang, Hayu harus menghadapi kenyataan akan penghianatan rekannya, serta ancaman hukuman mati akibat membela lembaga yang selam ini diharapkan bisa menaunginya.  Siapakah Hayu?  Ada apa dengan Sven dan Pram?

Anda bisa mengulik kisah selengkapnya di Novel Serat Kawi.  

Penulis: Mbak Wida

Gravatar Image
Selain menulis, aku juga penggemar kopi dengan berbagai metode. Mulai V60, Espresso dan banyak lagi.

Comment