Menggali Ide Cerita dari Kehidupan Sehari-hari

Puisi283 Views

Menurut bahasa, ide berarti rancangan yang tersusun dalam pikiran, gagasan, atau cita-cita.  Dalam membuat cerita pendek, ide ibarat desain bangunan.  Dari sana akan dibangun sebuah cerita yang kokoh dan dengan tampilan menarik.

Ide diolah secara kreatif sehingga terbentuk desain yang unik, tidak ada sebelumnya, memiliki nilai lebih, serta bersifat fungsional untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan atau sebagai jawaban atas kegelisahan penulis.  Jika ide ini telah tersusun secara matang, baru dikemas apik dalam sajian cerita pendek.

Ide berbeda dengan tema.  Jika tema merupakan pokok pikiran, yaitu inti masalah yang akan dituangkan dalam karya cerpen.  Maka ide adalah rancangan cerita dari satu peristiwa.  Tema bersifat umum sedang ide bersifat spesifik. 

Pokok permasalahan yang biasa dijadikan tema dalam cerita antara lain, persahabatan, rumah tangga, perbedaan, pertanian, dan masih banyak lagi lainnya.  Tema ini dapat disempitkan menjadi sub tema misalnya dari persahabatan, terdapat sub tema persahabatan dengan orang asing. 

Lain halnya dengan ide.  Sebagai rancangan cerita, ide merupakan versi pendek dari cerita.  Ide cerpen merupakan satu peristiwa penting, atau satu masalah yang akan dicari solusinya.  Bahkan akan terasa hambar jika suatu ide tidak mengandung konflik. 

Seorang ibu yang pergi ke pasar untuk membeli sayur, bukanlah ide.  Itu hanya cerita biasa.  Jika diceritakan, hanya akan jadi obrolan sambil lalu.  Kisah anak yang pulang sekolah memakai payung karena hujan lebat, di mana letak uniknya?  Seorang ayah yang mencari nafkah untuk anaknya.  Itu memang kewajiban semua ayah di dunia ini.  Paman yang berdagang di toko kelontong.  Bagian mana yang menarik?

Menggali Ide dari Peristiwa Sehari-hari

Menemukan ide dari keseharian kita, bukan perkara sulit.  Kita bisa melakukan teknik brain storming.  Melemparkan sebuah permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari pada beberapa orang untuk mendapatkan ide-ide penyelesaian yang berbeda.  Solusi dari berbagai sudut pandang akan memberikan sesuatu yang menarik.  Kita dapat mengolahnya menjadi ide cerita.

Hal kedua, selalu buka wawasan dengan membaca atau berbincang dengan banyak orang.  Perhatikan mereka saat bicara.  Apa yang diutarakan, apa yang menjadi kegelisahan orang lain juga dapat dijadikan ide cerita.  Tipsnya, beri perhatian penuh dan minimkan gangguan seperti ponsel, televisi, atau suara lainnya.  Jangan dikira, obrolan santai tak berarti apa-apa.  Bisa jadi itu adalah ide menarik.    

Bukan soal dimana kita menemukan ide.  Ide bisa muncul dari berbagai sumber.  Dari kehidupan sehari-hari, dari sebuah lagu, dari buku bacaan, dari obrolan, juga dari sebuah film.   Namun ide mesti mengambil hal menarik, unik, dan memiliki konflik.

Mari kita cermati kembali.  Paman yang berdagang di toko kelontong adalah hal biasa.  Tapi jika paman selalu memakai pakaian hitam saat berjualan, itu baru ide.  Dua anak yang berbagi payung itu biasa.  Tapi jika dua anak bersisian, satu berpayung, satu berjalan di bawah hujan.  Mereka tak saling sapa.  Dan mereka kembar, misalnya.  Itu baru luar biasa.  Orang akan bertanya-tanya kenapa peristiwa itu terjadi.

Teknik 5W 1H

Ide yang baik akan memunculkan pertanyaan.  Dari pertanyaan itulah dibuat rancangan lalu diwujudkan dalam bentuk kata-kata, kalimat lalu paragraf demi paragraf.  Sebuah teori mengatakan, ide cerita pendek sebagaimana karya jurnalisme mesti memenuhi prinsip 5W 1H.  What (apa), Where (di mana), Who (siapa), When (kapan), dan How (bagaimana).

Peristiwa apa yang terjadi?  Di mana tempat kejadian?  Siapa saja yang terlibat di dalamnya?  Kapan peristiwa itu terjadi?  Bagaimana kronologi atau peristiwa itu bermula, memuncak, lalu berakhir?  Bagaimana sikap tokoh?  Pertanyaan-pertanyaan ini akan memandu penulis merancang idenya. 

Memperhatikan Bobot

Yang dimaksud bobot di sini adalah, seberapa unik ide yang kita temukan.  Seberapa penting kejadian itu sehingga layak diceritakan.  Apakah jika kita mengemukakan ide tersebut kepada khalayak, akan memiliki nilai tersendiri sebagai pemecah masalah, sebagai pembuka wawasan, atau fungsi-fungsi lainnya. 

Bobot praktis perlu dipertimbangkan.  Sia-sia saja tenaga dan pikiran kita diperas untuk sesuatu yang tak terlalu berguna.  Cerita hanya akan tergilas cerita lain yang memiliki nilai lebih. 

Bandingkan dengan cerita lain

Ide kita bisa jadi bukan satu-satunya.  Namun bukan berarti itu awal kegagalan, batal mengeksekusi jadi cerita, bahkan melupakannya seperti mantan.   Ide boleh sama, tapi coba bandingkan dengan karya serupa.  Sudut pandang apa yang penulis lain ambil, kemasan apa yang pengarang lain gunakan, serta gaya bahasa apa yang menjadi pilihan mereka?  Perbedaan rancangan akan memberi efer berbeda. 

Itu kenapa, diperlukan riset sebelum menulis.  Apakah ide sudah terlalu biasa, apakah ide unik, jika masih ada karya sejenis, bagaimana kita dapat menemukan kebaruan sehingga cerita yang kita suguhkan terasa lain? 

Emosi

Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, ide bisa bermula dari hal remeh-temeh dalam keseharian, namun kadang luput dari perhatian.  Ide juga bisa ditemukan di tempat sampah!  Yang saya maksud, ide kadang sesuatu yang unik namun terlewat, bahkan kita hindari.

Peristiwa-peristiwa remeh bisa menjadi ide menarik jika kita membumbui dengan emosi.  Emosi ini bagian terpenting dari manusia.  Manusia tertarik pada hal-hal emosional.  Coba saja buktikan.  Rating berita gosip, follower akun infotainment membludak lantaran mereka menjual emosi, menjual hati.  Dengan mengemas cerita dengan teknik yang benar, menggali sisi emosional manusia, cerita menjadi dramatis.

Penutup

Ide merupakan ruh dari cerita pendek.  Mencintai ide berarti mencari yang terbaik, memilih dengan penuh pertimbangan, memperlakukan dengan segenap perhatian, serta merancang dengan segenap jiwa raga.  Dengan demikian, ide cerita akan menjadi sesuatu yang berguna bagi pembaca.  Namun demikian, sebaik dan seunik apapun ide, jika cara kurang menarik dalam mengemasnya, cerita bisa berbelok menjadi tulisan yang tak ingin dibaca. 

Comment