Menulis dengan Teknik Show Don’t Tell

Puisi725 Views

Ada banyak teknik menulis cerita.  Salah satu yang populer adalah teknik show don’t tell.  Sesuai namanya, teknik ini lebih menunjukkan ketimbang menceritakan.  Dengan kata lain, penulis berperan sebagai kameramen yang merekam kejadian serta menuliskan berdasar apa yang ia lihat tanpa menjelaskan kualitas-kualitas pada situasi yang digambarkan.

Teknik ini juga dikenal dengan meminjam imajinasi pembaca.  Dengan menunjukkan kisah melalui plot yang dibangun, dialog-dialog, situasi yang dideskripsikan, penulis mencoba melibatkan pembaca untuk masuk ke dalam cerita.  Penulis membebaskan pembaca untuk mengapresiasi atau menduga-duga gambaran sesuai apa yang pembaca pikirkan.  Untuk membantu memahami, saya akan memberikan beberapa contoh.

“Telingaku menangkap suara klakson berkali-kali dari belakang.  Sementara dari arah kiri kanan, berseliweran suara balon dipencet-pencet, tukang parkir berseru seraya meniup peluit, ada pula adu mulut tawar menawar di lapak-lapak sepanjang trotoar.”

Apa yang Anda bayangkan?

Bagaimana jika saya mengatakan seperti ini,

“Suasana pasar ramai sekali.  Suara klakson, teriakan-teriakan begitu berisik.”

Cara pertama lebih panjang.  Tapi itulah yang penulis saksikan lalu gambarkan melalui tulisan.  Tanpa mengatakan itu pasar, pembaca akan menduga bahwa itu pasar.  Suasana berisik digambarkan dengan suara klakson, balon dipencet, peluit, dan adu mulut.  Pembaca dibawa seolah melihat langsung dan berimajinasi mengenai keadaan pasar.  Ini yang disebut show.

Pada cara kedua, penulis langsung mengatakan bahwa suasana pasar ramai sekali dan berisik.  Sudah, itu saja.  Ini yang disebut tell.  Apa yang Anda rasakan?

 

Ciri-ciri

 

Telling/Menceritakan

  • Menghindari detail
  • Singkat
  • Faktual
  • Efisien
  • Kurang menyentuh sisi emosi manusia
  • Terasa datar

 

Showing/Menunjukkan

  • Memperhatikan detail
  • Lebih panjang
  • Berpusat pada manusia
  • Terkesan bertele-tele, padahal lebih efektif
  • Tidak menggurui
  • Mengaduk-aduk emosi
  • Dramatis

 

Bagaimana caranya?

 

  1. Menciptakan kesan latar

 

Mengatakan:

Aku berada di sawah.  Hari itu panas dan gerah.  Untung ada angin yang bertiup.

Menunjukkan:

Mataku menangkap batang padi yang bergoyang, saat tanganku mengangkat caping dari kepala yang dibasahi bulir-bulir keringat.

 

  1. Menggunakan dialog untuk menunjukkan karakter

 

Kita dapat menunjukkan karakter tokoh tanpa membuat daftar identitas atau ciri khusus yang dimiliki.  Akan lebih menarik jika ditunjukkan secara implisit melalui kebiasaan tokoh, bagaimana tokoh berdialog, menunjukkan tempat yang sering ia kunjungi misalnya.  Dengan teknik ini, pembaca bebas menginterpretasi tokoh sesuai imajinasi mereka.

 

“Mau sekolah, nggak!”  Mama menarik selimut Rey.  “Mama sudah bosan jadi alarm kamu tiap pagi!”

“Hoaammm…”  Rey menangkupkan bantal ke kepalanya.

 

Dialog diatas menunjukkan bahwa Rey terbiasa bangun siang, dan mama memiliki karakter tak sabaran.

 

  1. Tulis aksi, bukan menceritakan perasaan

 

Kita bisa menunjukkan rasa takut dengan deskripsi semacam ini:

 

Ia sudah berlari cepat tapi suara anjing itu seperti tepat di belakangnya.  Saat ia menoleh, matanya terbelalak mendapati seorang lelaki bertinggi tak kurang dari 180 m.  Matanya merah, mulutnya menyeringai.  Di tangan kirinya tergenggam ponsel yang mengeluarkan gonggongan anjing. 

 

Jika menggunakan tell, akan jadi seperti ini:

 

Ia ketakutan karena merasa seekor anjing mengejarnya.  Ketika ia menoleh, ternyata seorang lelaki bertubuh tinggi memegang ponsel.  Suara anjing itu berasal dari ponsel yang dipegangnya.

 

  1. Menggunakan detail kuat tapi tidak berlebihan

 

Lututnya lemas, tubuhnya gemetar, keringat dingin bercucuran.  Tangannya mencari-cari saklar tapi hanya tembok dingin tak bersuara.  Ia bergerak pelan dalam kegelapan.  Tak satupun benda tertangkap matanya.  Seperti ada suara bercicit.  Lalu ia menjerit.

 

Paragraf di atas menunjukkan bahwa seseorang berada dalam ruang gelap.  Situasi digambarkan begitu mencekam hingga tubuhnya gemetar.  Tapi detail itu terasa berlebihan.  Mungkin cukup begini:

 

Lututnya lemas ketika tangannya hanya menangkap dinding yang dingin.  Sebelum saklar ditemukan, mulutnya menjerit karena telinganya menangkap suara bercicit. 

 

Penutup

 

Pada dasarnya, teknik show don’t tell adalah teknik yang berpusat pada manusia sebagai obyek.  Manusia dengan sifatnya yang ingin merasa dihargai, senang dramatisasi.  Manusia juga senang menduga-duga.  Dengan kata lain memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Penulis yang baik mampu meminjam imajinasi pembaca dengan menerapkan teknik ini.  Penulis harus berusaha menekan ego diri sebab cerita pendek bukan naskah khotbah.  Show don’t tell adalah seni mengendalikan diri dari menuliskan pemikiran dan nasihat-nasihat.  Teknik ini juga memaksa penulis mengasah kepekaan sehingga mampu menahan diri dari bersikap berlebihan atau menempatkan diri sebagai guru.

Teknik show don’t tell hanya mendeskripsikan apa yang penulis lihat secara tepat.  Tunjukkan saja dengan diksi tertentu tanpa mengatakan kejadian secara gamblang seperti laporan.  Dengan begitu, pembaca merasa seolah-olah mengalami sendiri kejadian dalam cerita.

 

 

Comment