by

Mungkinkah Seimbang Dunia Akhirat? Simak yuk, 5 Tips Hidup anti Sia-sia!

Secara bahasa, seimbang artinya jika dua hal memiliki perbandingan yang sama.  Namun dunia dan akhirat menurut saya, bukan hal yang bisa dibandingkan secara sejajar.  Keduanya memiliki dimensi dan nilai yang berbeda.  Mestinya, kehidupan dunia inilah yang menjadi sarana menuju kehidupan yang lebih baik di akhirat.

Dengan alasan itulah, kita perlu memperhatikan apapun yang kita lakukan di dunia.  Tujuannya, agar segala aktivitas kita dapat kita niatkan sebagai jalan akhirat.  Selain itu, diperlukan seperangkat ilmu yang dapat menjelaskan, mengontrol, mengevaluasi, serta memberi pemecahan masalah.  Pada akhirnya, pemahaman inilah yang dapat memberi kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Beberapa Kondisi Manusia

Sering terjadi bias pemahaman antara amalan dunia dan akhirat.  Ketidaktahuan ini yang menjadikan beberapa salah menilai yang berujung asal menghakimi.  Simak ilustrasi berikut:

  1. Ada seseorang yang harus bekerja seharian penuh. Bahkan hingga lembur malam.  Ia harus menyelesaikan laporan data, pekerjaan pengintaian dan lain sebagainya.  Beberapa orang menilai yang bekerja model ini hanya mementingkan dunia;
  2. Beberapa orang tak hadir dalam majlis taklim karena urusan di rumah belum selesai. Misalnya, anaknya tiba-tiba terserang demam, atau kebetulan ia belum memasak sementara suaminya sebentar lagi pulang kerja.  Biasanya belum makan.  Dan masih banyak alasan lainnya;

Dua jenis di atas, seringkali dinilai mementingkan dunia ketimbang akhirat.  Tunggu dulu, jangan asal menilai dari apa yang dilihat saja.  Berbaik sangka akan memberi kejernihan berpikir.  Mari kita diskusikan.  Bagaimana jika seseorang memang ditakdirkan menjalani tugas-tugas berat seperti halnya analis data, badan intelijen, dan profesi semisal lainnya.  Mereka butuh kerja keras.  Tak mudah untuk mengatur jadwal berjamaah di masjid, tampak berkumpul dengan teman-teman untuk memberi sedekah atau aktivitas yang dinilai religius lainnya.

Sekarang, bagaimana dengan orang-orang yang secara syariat mereka tampak selalu beribadah, bersikap zuhud, hidup sesederhana mungkin?  Untuk ilustrasi ini saya ingin menyampaikan salah satu hadits.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).

5 Tips Hidup Anti Sia-sia

Kita dapat menarik pemahaman dari ilustrasi pertama bahwa kita tidak boleh asal menghakimi.  Sebaliknya, pelajari lebih dalam lagi.  Seorang istri yang menunda kepergiannya ke majlis taklim misalnya, bisa jadi punya alasan kuat.  Sebagaimana contoh, ia harus menyiapkan keperluan suami.  Bukankah berbakti pada suami, mengurus keluarga juga ibadah?

Kita bandingkan juga dengan seorang pekerja.  Ia yang tampaknya tidak bisa selalu hadir berjamaah bukan lalu berarti ia mementingkan dunia.  Mari pahami, bekerja seharian demi menyambung hidup, demi menghidupi keluarga juga kewajiban suami.  Itu bernilai ibadah.  Tentu saja, tidak lantas ia boleh meninggalkan syariat.

Kemudian, seorang polisi, intelijen negara, seorang yang harus bekerja menyajikan data secara tepat dan akurat, jika apa yang ia lakukan bahkan memberi kemaslahatan umat, membawa kepada kebaikan negara, bukankah itu ibadah?

Tentu akan berbeda nilainya jika kita menyajikan cerita tentang anak yang mengaji di sore hari dibandingkan anak yang kongkow-kongkow main petasan.  Akan berbeda pula jika sudah waktunya salat masih main ponsel.  Ini perkara jelas yang siapapun tahu mana yang mestinya didahulukan.

Agar pemahaman kita tidak rancu, mari simak tips berikut agar hidup kita tidak sia-sia.

  1. Untuk menyikapi hidup, pahami tunjuan penciptaan manusia.

Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku“. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jadi jelas sekali bukan?  Kita diciptakan hanya untuk beribadah.  Bentuk ibadah seperti apa, itu yang perlu kita pelajari.  Itu kenapa, menuntut ilmu itu wajib.  Minimal bertanyalah.

  1. Dibutuhkan kesadaran tinggi bahwa amalan itu tergantung niatnya.

Kita hanya akan mendapat sebagaimana kita niatkan.  Merujuk pada poin satu di atas, maka sebaiknya, apapun yang kita kerjakan, niatkan semata hanya karena Allah.  Sehingga membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Niat itu letaknya di dalam hati.  Hanya kita sendiri dan Allah Aza wa Jalla yang tahu.  Bisa jadi kita menghabiskan banyak waktu, banyak tenaga dan pikiran untuk berfokus ibadah.  Tapi kalau niat kita ingin dipuji, ingin kelihatan banyak orang, serta hendak pamer, maka nilai ibadah kita sebatas itu.

Lain halnya jika setiap langkah kita diniatkan untuk mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Sekalipun hanya perbuatan kecil, tak terlihat manusia, kadang tak dianggap, tapi kalau niat kita lurus, kita akan mendapat keberkahan hidup dunia akhirat.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

  1. Sebagaimana saya sebutkan di awal, kehidupan dunia dan akhirat memiliki dimensi berbeda. Kenikmatan di dunia mungkin saja tak sama dengan kenikmatan di akhirat.  Masing-masing punya nilainya sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’Ala mengizinkan makhluknya untuk menikmati apa yang terhampar di muka bumi ini.  Tentu saja ada batas tertentu yang tak boleh dilanggar.  Artinya, boleh menikmati dunia, jangan lupakan akhirat.

Carilah negeri akhirat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77)

Sebelumnya telah diceritakan kisah Abu Darda dan Salma Al Farisi.  Betapa Abu Darda telah melupakan kehidupan dunia demi memuliakan kehidupan akhirat.  Namun, Rasulullah Sholatu’Alaihi wa Salam sendiri membenarkan apa yang Salman sampaikan keapda Abu Darda.  Yaitu untuk menempatkan kehidupan dunia dan akhirat sesuai porsinya;

  1. Rasulullah Sholatu ‘Alaihi Wa Salam menganjurkan umatnya untuk memenuhi hak diri kita sebagai manusia.  Ada hak diri, serta hak sosial.

Ada hak diri serta hak sosial.  Maka memenuhi kebutuhan diri seperti istirahat, makan yang bergizi, berpakaian yang rapi dan bersih merupakan upaya pemenuhan hak.  Asal, pemenuhan tersebut kita niatkan hanya karena Allah dan dilakukan dengan cara-cara yang baik.

Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak.  Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”

Dalam hadits di atas, terkandung maksud bahwa ibadah itu wajib sebagaimana Allah perintahkan.  Namun beristirahat juga bagian dari memelihara tubuh agar kita tetap kuat beribadah. Di sebuah hadits lain, Rasulullah menyampaikan dengan gamblang, bahwa Beliau tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan.

 

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali.

Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.”

Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.”

Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”

Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda,

“Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

  1. Perhatikan tafsir doa sapu jagat

    Doa Sapu Jagat

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201).

“Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690).

Dalam doa terkandung maksud bahwa yang kita harapkan bukan hanya kebaikan akhirat.  Kebaikan dunia menjadi penting mengingat, kebaikan di dunia ini akan mengantar kita sukses di akhirat.

Penutup

Tidak akan sia-sia hidup kita apabila mampu memahami tujuan penciptaan manusia untuk kemudian menjalankannya.  Namun perlu diketahui bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia sebagai makhluk dengan segala keterbatasannya.  Allah tidak memberati kita dengan ibadah berlebihan.  Kita tetap diberi hak untuk menikmati segala yang telah Allah sediakan di dunia dengan mengutamakan kemuliaan hidup di akhirat.

Kita tak perlu khawatir bahwa melakukan sesuatu mungkin salah.  Takut dianggap sekadar mementingkan dunia.  Yang perlu kita lakukan hanyalah membekali diri dengan ilmu, serta meniatkan apapun yang kita lakukan semata hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi keseimbangan di sini adalah bagaimana menempatkan setiap perbuatan kita dengan tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Sumber

  1. https://rumaysho.com/3589-nasehat-salman-pada-abu-darda-tunaikan-hak-allah-hak-dirimu-dan-keluargamu.html

2. https://almanhaj.or.id/13044-tidak-berlebihan-dalam-ketaatan-2.html

 

 

 

 

Comment