by

Pantang Menyerah di Zona Merah

Tak mudah menyaksikan karib kerabat satu-satu tumbang lantaran kalah melawan pandemi.  Prihatin juga kehilangan memangkas logika.  Kata-kata mendadak terbata, bahasa tak mampu menjembatani tumpukan rasa.  Namun tetap saja, pantang menyerah di zona merah.

Dalam perang batin itu, lagi-lagi Ario Respati menjadikan kanvas sebagai luapan emosional dalam bahasa visual.  Abstraksi warna-warna seolah hempasan gelisah dari hati paling dalam.  Melahirkan sebuah lukisan bertajuk Keep Alive on Red Zona, oil on canvas 40×50 cm2.

abstrak
keep alive on red zona

Pantang Menyerah di Zona Merah

Rentetan kejadian demi kejadian akibat covid-19 terus membuatnya bertanya-tanya.  Kontribusi apa yang bisa ia berikan pada perang pandemi?  Tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memberi pencerah secara pasti.  Bahkan paparan berita yang berseliweran kian bikin pening.

Menaati himbauan pemerintah jadi pilihan.  Sepikan jalan.  Meski gaya hidup pasti turut berubah.  Setidaknya, tetap di rumah menjadi bagian dari tetirah sunyi cegah pandemi.  Menepi dari hiruk pikuk kerumunan tidak mengisolasi imajinasi.  Sebaliknya, keluhan, tekanan, dan keprihatinan tertuang lewat lukisan.

Pandemi dimaknai sebagai momen yang menyediakan peluang untuk lebih banyak berkarya.  Di studio lukisnya yang menyatu dengan rumah, Ario Respati tetap produktif.  Lukisan menjadi respon positif atas gejala sosial.  Media komunikasi yang melampaui batas emosional.  Uniknya, lukisan adalah gaya santun yang ekspresif.  Abstraksi warna yang mampu menyampaikan pikiran, perasaan dalam diam.

Semangat untuk Sahabat

Keep Alive on Red Zona adalah  adalah curahan keprihatinannya atas kondisi pandemi yang menunjukkan zona merah.  Sebuah indikasi, kasus covid-19 bukan gurauan lagi.   Lonjakan angka kematian menggila.  Parahnya, satu dua di antara mereka adalah sahabat.  Krisis tabung oksigen juga turut menguras emosinya.    Situasi ini membuat siapapun paranoid.  Tak terkecuali dirinya.  Tapi hidup harus tetap disangga.

Sumbangsihnya melalui lukisan adalah hasil renungan mendalam.  Warna-warna ibarat ledakan emosi.  Luapan rasa agar ia juga bisa membagi spirit bagi rekan-rekannya yang terimbas covid-19.  Ia tak lagi punya waktu untuk mempertimbangkan konsep lukisan karena fakta-fakta membanjir di hadapan.  Tak sempat lagi ia diskusi soal komposisi, semua tercipta begitu saja sebagai reaksi alami atas tekanan dalam hati dan pikiran.

Lukisan abstrak itu boleh dikatakan sebagai aksi darurat.  Sebuah pesan penuh semangat untuk sahabat.      Karantina biarlah berjalan.  Semangat tak boleh terpatahkan sekalipun covid-19 tak terelakkan.

Menyapa melalui Warna

Pada masa pandemi ini, tercatat beberapa lukisan yang dihasilkan.  Tentang alam, flora, lingkungan hutan di Lembang sebagai ekspresi kerinduan pada masa kecilnya.  Momen-momen itu diabadikan di atas lembar-lembar kanvas.  Maka, kanvas, cat, adalah nafas baginya.

Dengannya ia hidup dan merdeka.  Tempat tak lagi jadi soal bagi jiwa kreatif imajinatif.  Berkarya dimanapun, kapanpun.  Maka pandemi tak jadi penghalang.  Menyendiri bukan berarti menyusup kegelapan.  Di media, ia menyapa melalui warna.  Terhubung dan terus berinteraksi dengan dunia luar.

Penutup

Jauh dari rengkuhan tangan, tapi dekat dalam doa dan kenangan.  Sahabat tak pernah hilang.  Ketika satu diantaranya mengalami kesulitan, jiwa bangkit menengadahkan tangan.  Ario Respati, di samping doa tulus pada Tuhan, warna-warna jadi pilihan.

 

Penulis: Mbak Wida

Gravatar Image
Selain menulis, aku juga penggemar kopi dengan berbagai metode. Mulai V60, Espresso dan banyak lagi.

Comment