by

Penjelajah Dunia yang Melahirkan Antropologi

Sejarah ilmu tentang manusia tak dapat dipisahkan dari eksistensi Penjelajah dunia yang melahirkan antropologi. Perjalanan keliling dunia telah menerbitkan banyak catatan. Isinya, bermacam deskripsi manusia di muka bumi ini.
Catatan yang berisi tentang laporan perjalanan, keanekaragaman manusia, cara hidup masyarakat yang disinggahi, serta bagaimana mereka berkebudayaan tersebut dijadikan sumber informasi untuk mengembangkan ilmu antropologi.

Apa itu Antropologi?

Sederhananya, antropologi adalah ilmu tentang manusia dari perspektif. Yaitu, dari sisi biologis, asal-usul, serta sosial budaya. Sisi-sisi tersebut saling memengaruhi dan mendukung keberlangsungan hidup manusia. Karenanya, mempelajari antropologi harus memenuhi asas holisme atau menyeluruh.

Di samping ruang lingkupnya yang luas, antropologi mesti berprinsip pada relativisme. Kita harus memahami bahwa kehidupan kelompok manusia tertentu beda dengan yang lainnya. Setiap kelompok memiliki ciri khas. Nilai-nilai yang mereka yakini bersifat relative dan harus disesuakan konteks kehidupan masing-masing.

Relativisme membuat para peneliti tidak bisa memukul rata dan hidup dengan cara yang sama di setiap wilayah yang mereka kunjungi. Mereka harus menyesuikan diri. Itu kenapa, catatan dari para penjelajah di wilayah yang berbeda menjadi sumber yang dikomparasi satu sama lain untuk merumuskan antropologi.

Penjelajah Dunia yang Melahirkan Antropologi

1. Herodotus
Penjelajah berkebangsaan Yunani yang menulis tentang bangsa Mesir. Tulisan-tulisan Herodotus diakui sebagai tulisan paling kuno dalam sejarah etnografi. Sifat catatannya masih sangat subyektif, dimana Yunani masih dijadikan ukuran penilaian kebudayaan.
2. Tacitus & Caesar
Keduanya adalah perwira Romawi Kuno. Perjalanan mereka melahirkan catatan tentang bangsa Germany dan Galia. Bedanya, catatan Tacitus bersifat humanis, semacam curhatan yang mengedepankan perasaan. Sedang Caesar cenderung menulis sebagai laporan kemiliteran.
3. Marco Polo (1254 – 1323)
Siapa tak mengenal pengembara satu ini? Penjelajah Astia timur bersama keluarga besar ini menghasilkan banyak deskripsi tentang daerah yang disingggahinya seperti, Istana Khu Bilai Khan, Nusantara serta Semenanjung Malaya.
4. Yoseph Francis Lafitau (1600 – 1740)
Catatan yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Ia membandingkan adat keagamaan Indian dan Eropa Kuno.
5. Jens Kreft
Seorang ahli filsafat, guru besar di akademi Soro. Sejarah mencatat, ia telah melahirkan etnografi tentang dua suku bangsa Indian, Lule dan Caingua di Amerika Selatan. Bukunya yang terbit berjudul Sejarah Pendek Tentang Lembaga-lembaga yang Terpenting, Adat dan Pandangan-pandangan Orang Liar.
6. Adolf Bastian (1826 – 1905)
Ia berkebangsaan Jerman. Seorang guru besar di Universitas Berlin. Ia banyak mengembangkan teori-teori etnografi.
7. L.H. Morgan.
Seorang ahli hukum Amerika yang menerbitkan buku tentang evolusi masyarakat yang berjudul Ancient Society berdasarkan hasil pengamatannya mengenai adat istiadat orang Indian.

Selain tokoh-tokoh di atas, sejarah juga mencatat tokoh seperti,

  • PW. Schmidt yang lebih fokus pada persebaran suku-suku di dunia;
  • Ibnu Batutah, penjelajah muslim dunia yang memberi catatan tentang jalur perdagangan emas dari Afrika ke Mesir, dan masih banyak lagi catatan penting lainnya;
  • Piri Reis, navigator sekaligus kartografer muslim yang mencatat perjalanannya dan melahirkan peta dunia dalam bentuk globe;
  • Ibnu Khaldun, sejarawan muslim dunia yang melahirkan ilmu historiografi

Para sejarawan tersebut telah memberi sumbangan terhadap ilmu antropologi.  Hanya, secara akademis, antropologi berkembang dari Bangsa-bangsa Eropa yang memusatkan catatan itu pada museum-museum dan kajian-kajian ilmiah.

Penutup

Para penjelajah dunia yang melahirkan antropologi adalah peneliti. Mereka telah mencatat dan melaporkan perjalanan mereka secara lengkap. Meskipun dalam catatan-catatan tersebut masih terdapat banyak kekurangan, informasi yang didapat menjadi cikal bakal lahirnya ilmu tersebut.

Dalam perkembangannya, antropologi melalui banyak fase, teori dan kajian-kajian ilmiah. Teknik dalam antropologi dimatangkan agar dapat melihat manusia secara lebih komprehensif. Sehingga nantinya, antropologi sebagai ilmu dapat digunakan secara praktis sebagai sumber-sumber kebijakan dalam pembangunan sosial kebudayaan.

Comment