by

Pentingnya Dramatisasi Cerita Pendek

Dramatisasi merupakan proses yang membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan.  Tentu saja dramatisasi sangat diperlukan dalam membuat cerita pendek.  Tanpa dramatisasi, akan terasa datar dan hambar.

Bayangkan kita mengisahkan kejadian kecelakaan tanpa dramatisasi pada suatu cerita pendek.  Kita lihat contoh berikut:

Remon bergegas pergi setelah menerima telepon secara diam-diam.  Ia menaiki motor di halaman.  Lima menit kemudian terdengar bunyi benturan dan jeritan sangat keras.  Karena suasana lengang, suara itu sangat jelas.  Remon terperosok ke sekolan, kepalanya membentur batu.  Ia mengadu kesakitan.  Belum seorangpun datang menolong.  Ia pingsan dengan kucuran darah dari kepala. Di situ, air selokan kotor mengalirinya.

Apa kesan Anda ketika membaca peristiwa yang diceritakan seperti di atas?

Bandingkan dengan model penceritaan di bawah ini:

Remon menyambar kontak di meja sesaat setelah menerima panggilan telepon di ruang terpisah dariku.  Matanya berkilat melirik ke kiri kanan mencari motor lalu menemukannya di bawah pohon rambutan.  Tanpa mengatakan apapun padaku, lelaki berperawakan ramping itu memasukkan anak kunci ke lubangnya lalu meluncur teruburu-buru ke jalanan.

Sinar matahari terasa membakar siang itu.  Angin kering berhembus perlahan.  Tak seorangpun di jalanan.  Hanya suara motor Remon yang tertangkap telinga.  Belum juga berlalu deru motor itu mendadak berganti lengking memilukan diikuti bunyi lainnya.

Braaakkkk!!!!!!

Kepala dan kakiku sontak tegak.  Tatapanku nanar keluar lalu berlari secepat yang kubisa.  Ketika sampai ditikungan, mataku menangkap Remon satu kaki Remon terangkat di rerumputan di tepi jalan.  Sementara kepalanya tersungkur di selokan dengan kucuran darah dari kepala yang nyaris menutupi wajahnya.  Tangannya berusaha menggapai sesuatu tapi hanya mendapatkan batu-batu kerikil.    Lalu tak bergerak sama sekali.  Air selokan yang berwarna coklat dan menguarkan aroma tak sedap itu mengaliri Remon hingga ke wajahnya.  . 

Setelah membaca, apa kesan Anda?

Cerita pertama tanpa dramatisasi.  Penulis langsung menceritakan intinya tanpa basa-basi.  Tulisan lebih pendek dan cepat habis.  Pembaca dapat mengetahui langsung  Sedang tulisan kedua memang lebih panjang.  Terdapat dramatisasi sehingga peristiwa terasa lebih mendalam.  Dramatisasi lebih mampu menyentuh emosi seseorang ketimbang cara pertama.

Cara Mendramatisasi Cerita Pendek

Cerita pendek bukan laporan berita.  Dengan mendramatisasi, membuatnya terkesan berlebihan, maka cerita pendek ini akan terasa lebih seru, lebih menengangkan, dan membekas.  Asal tahu tekniknya, dramatisasi tidak akan terkesan seperti seorang yang sedang membual.

Mari pahami bersama beberapa cara berikut:

  1. Dramatisasi Latar

Cerita yang saya tulis di atas mengambil latar rumah, jalanan, dan terakhir adalah selokan.  Latar terakhir saya beri detail lebih banyak karena tempat itu menjadi tempat kejadian perkara.  Kesan yang saya berikan bermaksud sebagai penguat latar agar pembaca turut membayangkan dan merasakan kejadiannya.

 

  1. Dramatisasi tokoh

Dramatisasi tokoh adalah memberi karakter kuat pada tokoh, lalu menggambarkannya secara mendalam dan menjiwai.  Pada contoh di atas, terlihat bahwa Remon menyembunyikan sesuatu.  Ia tak mengatakan apa-apa dan bergegas pergi dengan terburu-buru.

 

  1. Dramatisasi kata-kata

Kata-kata tertentu memberi kesan tertentu.  Misal,

  • Kata khawatir akan berbeda kesannya dengan kata cemas/gusar. Meskipun ketiga kata itu sama maknanya;
  • Kalimat, kepala dan kakiku sontak tegak lebih memberi kesan imajinatif ketimbang aku langsung berdiri. Mengindahkan kata-kata, mengolah dan memainkannya termasuk seni dalam membuat cerita fiksi sehingga menimbulkan emosi yang berbeda.
  • Gunakan gaya bahasa hyperbola atau melebih-lebihkan sesuatu. Yang perlu diperhatikan, meskipun menggunakan gaya bahasa hiperbola untuk membuat peristiwa terasa lebih penting, lebih indah, lebih sengsara.  Namun gunakan secara bijak, tidak berlebihan.  Misalnya, air matanya menganak sungai.  Sudah cukup begitu saja.  Akan terasa berlebihan jika ditambah, air matanya menganak sungai, tak dapat dibendung lagi hingga ke samudera.

Penutup

Dramatisasi membuat cerita pendek terasa lebih menarik.  Namun jangan asal mendramatisir peristiwa sehingga tampak berlebihan.  Penulis harus piawai memilih bagian-bagian mana yang perlu diberi dramatisasi.

Comment