by

Puisi Bertema Ramadhan

Menyambut bulan suci dengan puisi bertema Ramadhan menjadi cara mengungkapkan perasaan secara indah.  Melihat iklan-iklan sirup berseliweran, sebagai pertanda bahwa bulan istimewa ini akan segera hadir.

Mencurahkan perasaan kadang mudah.  Bagaimana jika temanya Ramadhan?  Kita hanya perlu merenungi, mengevaluasi bulan puasa yang pernah kita alami.  Kemudian menguraikan rasa, kegelisahan melihat kenyataan dalam bentuk kata-kata.

 

Mengulik Puisi Bertema Ramadhan

Ada banyak cara menggali Ramadhan menjadi puisi.  Berikut caranya:

  1. Ramadhan memberi pengalaman spiritual bagi beberapa orang. Bagi yang lainnya bisa jadi secara ritual saja.  Pengalaman berketuhanan yang dalam yang dapat membuat pelakunya merasakan kasih sayang Tuhan, adalah ide bagi terciptanya puisi.  Sebaliknya, menjalani Ramadhan dengan perasaan biasa-biasa saja, kemudian muncul penyesalan dan kegelisahan, itupun sumber gagasan untuk puisi.  Apapun itu, banyak hal terjadi dan yang dirasakan selama Ramadhan.  Perasaan itulah yang dapat dijadikan ide;
  2. Bukan hanya pengalaman pribadi, mengamati tingkah laku kaum muslim dalam menyambut Ramadhan, saat menjalani Ramadhan, maupun setelahnya.
  3. Setelah menemukan satu ide dari berbagai peristiwa yang terjadi seputar Ramadhan, pikirkan sudut pandang lalu tuliskan saja apa yang dirasakan;
  4. Baca kembali lalu sunting.

baca juga : cara efektif membuat puisi

Contoh Puisi Bertema Ramadhan

Berikut saya tuliskan dua contoh puisi bertema Ramadhan.  Mari simak bersama.

 

Bagian Mana dari Ramadhan Kau Rindukan?

 

Bising parade jalanan

Seru puja-puji meriahkan

Panji-panji berkibaran

Iklan sarung disiarkan

Promo sirup gugup dibagikan

Gempita sangat sambut Ramadhan

 

Masjid disucikan

Jendela karpet dibersihkan

Halaman-halaman menjadi benderang

Lampu-lampu di ujung kampung diterangkan

Lalu, bagian mana dari Ramadhan kau dindukan?

 

Sementara diri enggan telanjang

Jelaga dosa mengerak di jiwa

Menghitam raga oleh siksa rasa

Kain indah rupanya

Kamuflase belaka

Lalu dengan cara apa,

Serahkan diri ikhlas berpuasa?

 

Rindu jadk kata manis nan puitis

Seakan Ramadhan hanya program dinamis

Basa-basi yang bergerak

Riuh antara kurma dan kolak

Juga gaun, mukena menyilaukan mata

Menguatkan dahaga ibarat hadiah

Bagi lapar, haus, susah payah

 

Bagian mana dari Ramadhan kau rindukan?

Sementara hentinya istighfar

Sebab hanya bibir yang bergetar

Alih-alih akui kesalahan

Masih kebaikan diri diunggulkan

 

Kalau sudah begini bisakah temui

Istimewanya bulan dan kubawa diri

Bulat-bulat, kotor, dan belang

Jika masih ada ruang,

Izinkan pahami lapar dahaga sejati

Beri hamba kain-Mu meski selembar

Agar Ramadhan, tak sekadar

 

 

Ramadhan di mana Indahnya?

 

Suasana masih muram di hari-hari jelang Ramadhan

Emak masih sibuk berburu minyak

Kerut dahi Bapak berbiak, anggaran bakal bengkak

Ramadhan di mana indahnya?

 

Si bungsu tak tahu tapi menggerutu

Si sulung berkata, menu buka pasti itu-itu saja

memohon naikkan selera

Lebaran juga ingin ganti celana

 

Tahun lalu sarung tipis ringan harganya

Emakpun, mulai mengincar mukena

Ah, mana bisa

Masih segitu juga penghasilannya

 

Si bungsu telah biasa merengek seharian

Lantaran perih lambungnya tak bisa ditahan

Si sulung sering menekuk lutut

Demi membungkam cacing ribut dalam perut

 

Ramadhan di mana indahnya

Ustaz kasih iming-iming surga

Anak-anak mekar senyumnya

Emak Bapak menetes air matanya dalam doa

 

Penutup

Sebenarnya mudah membuat puisi tema apapun.  Karena bertepatan dengan jelang Ramadhan, alangkah indah menuangkan kata-kata indah menjadi berbait-bait puisi.  Lebih penting lagi adalah makna yang terkandung di dalamnya.

Comment