Resep Miskin Ceria

Review Buku88 Views

RESENSI BUKU

Identitas Buku

Judul                            :  Saga No Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)

Penulis                         :  Yoshichi Shimada

Penerbit                      :  Tokuma Shoten Publishing Bo., Ltd, Japan.  2004

Penerjemah                :  Indah S. Pratidina

Penerbit terjemahan  :  Kansha Publishing

Tebal buku                  :  255 halaman

 

 

“…berada terus di Hiroshima tidak akan baik untuk pendidikanmu.  Maka diputuskan, kau akan dirawat Nenek di Saga.”

Butuh beberapa waktu bagi Akihiro Tokunaga untuk mencerna kalimat bibinya itu.  Selama delapan tahun hidup bersama Nenek, hanya kemiskinan yang mengelilinginya.  Namun pada akhirnya, ia mengakui kehebatan neneknya.  Siksa kerinduan pada ibu yang telah memaksanya tinggal bersama Nenek, terbayar sudah.

Roda Kehidupan Terus Berputar

Roda kehidupan memang terus berputar.  Namun yang dihadapi Akihiro masih saja berupa kemiskinan.  Ia seorang yatim.  Ayahnya meninggal lantaran terpapar radioaktif bom yang meluluhlantakan Hiroshima sekaligus menghancurkan kehidupan di sana.  Ibunya harus bekerja dan merasa tak aman jika harus meninggalkan Tokunaga.  Maka bersama Bibi Kisako, ia dipaksa tinggal bersama neneknya di Saga.  Tempat yang jauh dan terpencil.

Ini perjumpaan kedua Tokunaga dengan neneknya.  Namun ingatan saat bayi tak mudah kembali.  Boleh dibilang, ini untuk kali pertama ia tahu seperti apa neneknya.  Wanita tinggi, cantik, dan sederhana itu tinggal di dalam gubuk reyot.  Saat melangkahkan kaki memasuki rumah itu, Tokunaga sadar.  Meninggalkan hidup serba susah di Hiroshima dan menemukan kemiskinan yang tak jauh berbeda.

Dalam keadaan terpaksa, tak ada solusi selain menerima, maka prinsip ini harus dipegang.

“Saat jarum jam dinding berputar ke kiri, orang akan menganggapnya rusak dan membuangnya.  Manusia pun tidak boleh menengok ke belakang, terus maju dan maju, melangkah ke depan.”

Resep Miskin Ceria

Tokoh utama dalam novel ini, Nenek Osano digambarkan sebagai seorang wanita tegar yang menghadapi kemiskinan dengan ceria.  Ia punya resep menarik untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhannya.  Yang pertama kali ia tanamkan adalah menerima keadaan.

“Ada dua jalan buat orang miskin.  Miskin muram dan miskin cerita.  Kita ini miskin yang ceria.  Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, jadi kita tidak perlu cemas.  Tetaplah percaya diri.  Keluarga kita memang turun-temurun miskin.”

Sekilas memang tampak konyol.  Pernyataan menerima kemiskinan dengan mudah seolah melemahkan usaha, mendorong kita untuk mengubur mimpi-mimpi.  Namun, sebenarnya, kalimat bersahaja itu menjadi senjata untuk tetap bersyukur apapun keadannya.  Bukan bentuk kepasrahan namun menghindari keluhan.

Nenek Osano memikirkan cara-cara anti mainstream untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Diantaranya dikenal sebagai supermarket sungai yaitu membendung sungai di depan rumahnya menggunakan galah.  Dalam beberapa waktu, galah itu penuh dengan sayur, buah, dan beberapa makanan sisa yang mengalir dari pasar.  Nenek akan memungut barang itu untuk makan dengan membuang bagian buruknya.  Ada kalanya sandal bekas sebelah saja.  Hanya dapat digunakan setelah beberapa waktu jika pemiliknya membuang yang sebelahnya.

Tak ada camilan atau kudapan saat Tokunaga pulang sekolah.  Ketika ia menanyakan itu pada Nenek, Nenek akan menunjukkan pohon buah mana di tepi sungai yang sudah berbuah.  Camilan alami.  Pada awalnya tak mudah menerima hal itu.  Namun menyaksikan sendiri betapa gigih neneknya berjuang, ia pun mulai terbiasa dan berempati pada neneknya.

Bahkan ia tak menyangka cara unik Nenek sepulang kerja.  Nenek mengikatkan magnet dengan tali panjang.  Ketika berjalan, ada saja logam terbawa.  Logam itu dikumpulkan dan nantinya dijual untuk membeli beras.

Nenek bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas Saga.  Berangkat pagi-pagi sekali dan kembali sebelum tengah hari.  Untuk sarapan, sejak hari pertama, Tokunaga diajari menanak nasi sendiri.  Kemandirian itu tertanam kuat hingga Akihiro Tokunaga dewasa.

Kebaikan Sejati

Selalu ada jalan bagi yang mau berjuang.  Selalu ada kebaikan yang Tuhan sisipkan melalui tangan-tangan orang saat kita menerima takdirnya dengan ikhlas.  Nilai-nilai itupun meresap dalam dada Akihiro melalui beberapa momen dalam hidupnya.

Kemiskinan membuatnya tak mampu mengikuti ekstrakurikuler berbayar di sekolahnya.  Nenek menyarankan untuk olah raga lari.  Selain gratis, tentu mudah saja.  Akihiro yang pada mulanya keberatan mulai merasakan banyak manfaatnya.  Saking giatnya berlatih, larinya tercepat di antara teman-temannya di sekolah.

Pada beberapa festival ia meraih juara satu.  Namun, pembaca boleh turut meneteskan air mata saat mengikuti novel yang bergerak dengan alur maju ini.  Peraih juara satu pada lomba lari ini harus menahan segala perasaannya saat melihat teman-teman lain dielu-elukan orang tua mereka, sementara kesibukan membuat ibunya tak datang ke Saga.  Untuk menghindari tatapan banyak orang, ia memilih makan bekal sendiri di kelasnya.  Sambil menahan kerinduan, ia makan dengan bekal paling sederhana, acar timun jahe.

Pada saat itulah, kebaikan Tuhan diulurkan melalui tangan gurunya yang menukar bekal Akihiro dengan bekalnya  yang penuh lauk istimewa atas dalih sakit perut.  Kejadian itu berlangsung setiap tahun pada festival olah raga tanpa disadari Akihiro kecil.  Hingga suatu saat ia menyadari kebaikan terselubung itu sebagai kebaikan sejati yang tak diketahui orang yang menerima kebaikan tersebut.  Hal serupa terjadi ketika Akihiro SMP.  Hanya, oleh teman wanitanya.

Pada kesempatan lain, Akihiro mendapat ketulusan oleh teman satu klubnya.  Kubo memutuskan tak ikut darma wisata karena ibunya sakit.  Uang tabungan yang seharusnya dipakai untuk berwisata digunakan untuk berobat.  Akihiro dan teman-temannya rela bekerja sambilan untuk membantu Kubo.  Namun pada saat keberangkatan, Kubo tak datang.  Sepulang dari wisata, semua orang menuduh Kubo berkhianat memanfaatkan kebaikan Akihiro dan teman-temannya.  Yang sebenarnya, uang pemberian teman-teman digunakan untuk membeli peralatan base ball satu klub.  Penyesalan datang dari Akihiro dan teman-teman.  Menganggap diri mereka telah berbuat baik.  Namun sesungguhnya, kebaikan itu untuk diri mereka sendiri melalui Kubo tanpa sepengetahuan teman-temannya.

Hidup Selalu Menarik

Tokunaga mengambil nilai-nilai hidup dari Nenek.  Menjalani hari-hari dengan cara menyenangkan meski dililit kemiskinan.  Tokunaga memang punya masalah menahan beban kerinduan pada ibunya.  Dikisahkan dengan bahasa sederhana, dengan teknik show don’t tell.  Bagi saya, penulis meramu secara apik kesedihan tanpa berlebihan namun mampu mendesak air mata pembaca keluar.  Kesedihan tak perlu dinarasikan secara mendayu-dayu seolah penulis asyik sendiri.  Namun beberapa adegan menunjukkan secara kuat betapa Akihiro Tokunaga ingin bertemu ibunya.

Penokohan yang kuat juga mendorong cerita mengalir secara lancar dan memberi kesan di tiap lembar.  255 halaman yang dibagi menjadi 17 bab mampu menyuguhkan kehidupan kaum pinggiran yang menarik, menikmati kebahagiaan dengan cara-cara unik, sederhana dan syarat makna.

Catatan

Tak bijak rasanya mengagumi suatu karya tanpa mengkritisinya.  Saya hanya mencatat secara beberapa hal.  Saya belum mengerti mengapa bagian penutup yaitu halaman 246, 247, 250, 251 dibiarkan kosong?  Adakah yang terlewat?

Upaya Nenek memang anti mainstream, memasang galah secara melintang untuk menahan makanan lewat.  Saya sempat berpikir, membandingkan dengan keadaan sekarang apakah makanan itu sehat setelah melewati sungai.  Namun saya harus berpikir ulang bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar 1958.  Jadi sungai di Saga mungkin saja tak tercemar polusi bahkan radioaktif.  Tentu saja tidak seperti sungai-sungai di Jakarta sekarang ini.

Sungguh, Akihiro adalah anak yang diberkahi dan diberi kekuatan oleh Tuhan.  Tak mudah menemukan sosok seperti Akihiro atau Kubo di masa sekarang.  Kebaikan demi kebaikan diceritakan dengan mulus.  Sebagaimana yang dilakukan penjual tahu.  Nenek akan membeli tahu yang rusak dengan harga murah.  Pada kejadian ke sekian, akhirnya Akihiro tahu bahwa pedagang tahu sengaja merusak tahunya dan menjual dengan harga murah pada Nenek.  Sungguh luar biasa.  Sayangnya tak diceritakan hal-hal atau orang-orang yang mungkin tak berhati malaikat di sana.

Penutup

Saya akui, Saga no Gabai Baachan mampu membuka kesadaran, menanamkan pola pikir tentang hidup.  Bukan seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa bahagia kita menjalani, sebanyak apa kita menemukan cara-cara menghadapinya.  Selalu ada jalan bagi yang mau mencoba.  Secara keseluruhan karya ini luar biasa.

Apa yang penulis kisahkan membuat saya ingin belajar sejarah, adat kebiasaan, latar belakang penulis sebagai unsur penyusun novel.  Karena tak mudah melayangkan imajinasi ke tahun-tahun dimana ibu saya bahkan belum lahir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment