by

Review Cerpen Kucing Kehujanan Karya Ernest Hemmingway

 

Anyway, aku ingin memelihara seekor kucing,” ujarnya. “Aku ingin memelihara seekor kucing sekarang. Kalau aku tidak boleh memanjangkan rambutku atau bersenang-senang; maka aku harus diperbolehkan memelihara seekor kucing.”

Petikan dialog yang diambil dari cerita pendek karya Ernest Hemingway berjudul Cat In the Rain.  Dapat dibaca selengkapnya di: https://fiksilotus.com/2012/06/02/balada-hujan/

Dialog tersebut menggambarkan keinginan tokoh.  Seorang wanita berkebangsaan Amerika yang singgah di hotel bersama suaminya, George.

Cerita yang mengambil latar hotel yang menghadap ke laut, taman rakyat, dan monument perang.  Menurut bahasa yang digunakan pemilik dan pelayan, hotel tersebut terletak di Italia.

Saat itu hujan.  Si istri merasa jemu karena tak bisa keluar.  Sementara suaminya asyik dengan bukunya.  Wanita itu hanya bisa berdiri memandang keluar melalui jendela.  Pada saat yang sama, ia melihat seekor kucing di seberang halaman hotel di sebuah kedai.  Kucing itu melingkar di bawah meja, tubuhnya basah.

Didorong rasa iba serta harapannya untuk mendapat kesenangan, ia minta izin turun untuk menyelamatkan kucing tersebut.  Suaminya menawarkan bantuan untuk mengambil namun perhatiannya tetap pada buku dan masih terbaring saja di ranjang.  Sehingga si istri memilih menolak dan turun sendiri.  Suaminya hanya berpesan untuk tidak berbasah-basahan.

Melihat tamunya turun, pemilik hotel menyambutnya dan menanggapi keluhannya dengan ramah.  Bahkan menyuruh pelayannya menemani istri George sambil memayunginya.  Sayangnya, kucing itu pergi.  Wanita itu kembali dan melewati pemilik hotel yang tinggi, tua, dan kharismatik.

Ada percikan bahagia dan perasaan dianggap penting.  Wanita itu menyukai hal-hal dalam diri pemilik hotel itu.  Namun memendamnya dan kembali ke kamar.  Ia mendapati suaminya yang masih menekuni bacaannya.

Wanita itu mengutarakan keinginannya.  Ia ingin pulang yang ditunjukkan dengan kalimat ingin makan di atas meja dengan piring perakku sendiri da nada lilin-lilin.  Ingin rambut panjang, memelihara seekor kucing, juga baju baru.  Namun jika hal lain tak bisa suaminya penuhi, memiliki kucing saja sudah cukup.

Ketidakpedulian suaminya secara konsisten tergambar sejak awal cerita.  Secara implisit Ernest memberi George karakter tak peduli, mementingkan kesenangannya yaitu buku.  Lelaki itu secara kuat diterangkan memilih terbaring ketimbang menemani istrinya keluar mencari kucing kehujanan.

Di bagian akhir, sikap George masih sama.  Ia tak abai pada keluhan istrinya, tak menanggapi keinginan istrinya dengan serius.  Bahkan secara eksplisit, penulis menjelaskan melalui kalimat:

“Ah, sudahlah.  Ambillah bacaan,” tukas George.  Lalu ia meneruskan mebaca lagi. 

Di bagian bawah, ditulis juga:

George tak peduli.  Ia membaca bukunya.

Istri George digambarkan sebagai wanita yang pasrah, tidak memaksa, tidak berontak namun berani mengemukakan harapannya secara gamblang.  Istrinya tidak melampiaskan kekecewaan dengan banyak kata-kata.  Ia hanya memandang keluar lewat jendela.

Namun saya senang dengan kejutan manis yang diberikan penulis.  Sepertinya Ernest ingin memberikan hadiah atas karakter istri George. Ia menyelesaikan cerita pendeknya dengan kedatangan pelayan hotel ke kamar untuk menyerahkan boneka kucing yang terbuat dari kulit kura-kura darat.  Pelayan mengatakan, boneka itu dari pemilik hotel.

Hadiah kecil itu bernilai besar sekaligus penegasan betapa pemilik hotel memiliki karakter sangat memperhatikan tamu-tamunya.

Konflik digambarkan secara sederhana yaitu ketidakpedulian seorang suami.  Keinginan tokoh jelas.  Dan untuk mencapai keinginan tersebut, tokoh mengalami kendala hujan dan hilangnya kucing.  Namun kesedihan cerita yang membawa tokoh pada keterpurukan segera diseimbangkan dengan dihadirkannya tokoh pemilik hotel yang mengesankan.

Comment