Sebuah Catatan

Jurnal Bebas121 Views

Kawan Yang Menghilang

 

Beribu kawanku

tingkahnya lucu-lucu

 

Seorang suka tergelak oleh lawakannya sendiri

Bahkan pendengar saling tatap tak mengerti

Seorang lagi hobi mengunyah dedaunan

Disaat yang lain hanya memamah hasil buruan

 

Kawanku yang lain pendaki ulung

Ditancapkannya bendera di gunung-gunung

Jangan sampai terhapus jejak

Kalau bisa, sebagai prasasti namanya tercetak

 

Beda dengan kawanku yang seorang

Mahir benar ia menghilang

Mesin pencari tak mampu mendeteksi

Koordinat mana pernah ia singgahi

 

Tak ada cendera mata saat pamitan

Atau sekadar kata-kata perpisahan

Kini ia tanpa kabar,

Selapis demi selapis kisahnya memudar

 

 

Kubunuh Berulang Kali, Masih Belum Mati

 

April jatuh di enam belas

Ketika angin sepoi bersulih panas

Ada yang tersulut, tungku di dadaku terbakar

Kubunuh berulang kali, masih belum mati

 

“Asal tak hangus,” katamu

Biarlah reranting kering terberangus

Lalu kau mengangkat tangan

Mencegahku dari upaya terus memadamkannya

 

“Karena kau bukan malaikat,” katamu lagi

Biarlah nyala itu menjadi penanda kemanusiaan

 

April dan hari-hari meranggas

Gelegak di dadaku hingga ujung nafas

Kubunuh berulang kali, masih belum mati

“Jangan mati dulu,” katamu

Sampai kutahu apa gunanya api

Comment