by

Sudut Pandang Cerita Fiksi

Sudut pandang cerita merupakan posisi tertentu yang dipilih penulis melalui berbagai pertimbangan untuk menuturkan kisahnya agar pesan cerita dapat tersampaikan secara efektif, mendukung plot, mendorong seluruh bangunan cerita serta menarik pembaca.

Pemilihan sudut pandang yang tepat memberi pengaruh terhadap penyajian cerita.  Namun terkadang ini soal selera penulis saja.  Penulis dapat menggunakan sudut pandang apapun sesuai kenyamanan, kebiasaan, dan gaya berceritanya.  Karena pada dasarnya sudut pandang hanya soal sarana yang memiliki fungsi teknis.

 

Mempelajari sudut pandang dari sebuah cerpen

Saya ingin mengajak Anda membaca kembali cerpen klasik karya Ernest Hemingwey https://fiksilotus.com/2012/06/02/balada-hujan/

Penulis menyampaikan sebuah gagasan tentang suami yang kurang peduli kepada istrinya melalui sudut pandang istri.  Yaitu wanita berambut pendek yang menginginkan seekor kucing.  Dari sudut pandang Si Istri, George adalah lelaki yang abai terhadap dirinya.  Mau berambut panjang atau pendek, mau baju baru atau yang lainnya, bahkan ketika ia ingin sekali memelihara kucing.  Suaminya hanya fokus membaca, peduli pada kesenangannya sendiri, berusaha mengalihkan perhatian istrinya pada hal-hal yang tak bisa dijangkaunya.  Menyarankan istrinya untuk membaca seperti driinya padahal mungkin istrinya tak suka membaca.

Ide tentang suami yang tak peduli tersampaikan secara dramatis, gamblang, dan memengaruhi emosi pembaca.  Pembaca ikut greget dengan sikap suami.  Lalu membandingkan George dengan pemilik hotel.  Pemilik hotel yang ramah, mendengar keluhan pelanggannya, serta berusaha memenuhi harapan kecil Nyonya George.  Entah karena kewajibannya sebagai pemilik hotel atau karena ketertarikan pribadi.  Apapun itu, Kedua karakter tersebut digambarkan secara kontras tanpa menyebutkannya.

Bayangkan jika cerita pendek dengan konflik lelaki yang tak peduli lalu dikisahkan melalui sudut pandang George.  Tentu konflik tidak akan berjalan lancar, analisis tidak tajam, bahkan George akan punya seribu penyangkalan sebagai alasan untuk membenarkan sikapnya.  Jika diibaratkan cameramen, pengambilan peristiwa dengan George sebagai angle tidak akan memberikan gambar yang menarik.  Jika diterapkan dalam cerita, bisa jadi analisis akan begitu dangkal.

Jenis-jenis Sudut Pandang

Secara garis besar, sudut pandang ada tiga.  Sudut pandang orang pertama, “aku”, sudut pandang orang ketiga, “dia”.  Dan terakhir, ini jarang dipakai adalah sudut pandang orang kedua, “kamu”.  Ketiga sudut pandang memiliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri.  Ada konsekuensi tertentu terhadap cerita maupun reaksi pembaca.

  1. Sudut pandang orang ketiga, “Dia”

Jika pengarang berada di luar cerita, dan karakter-karakter memerankan bagiannya dengan sebutan nama atau dia, berarti yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga.  Dalam hal ini, pencerita adalah orang yang serba tahu atau sebagai pengamat saja.

Saya akan menunjukkan salah satu cerpen dengan sudut pandang persona orang ketiga.  Potongan cerita ini diambil dari cerita pendek karya Ernest Hemingwey berjudul Kabut Musim Gugur di Michigan.  Anda dapat membaca selengkapnya di: https://fiksilotus.com/2020/03/28/kabut-musim-gugur-di-michigan/

Liz ketakutan, belum ada laki-laki yang berani menyentuhnya selama ini. Tapi kemudian dia berpikir,

“Akhirnya, Jim menghampiriku. Dia benar-benar suka padaku.” ‌

Gadis itu membiarkan tubuhnya kaku saat disentuh Jim, karena dia ketakutan dan tidak tahu harus bagaimana lagi.

Pada cerita tersebut, penulis memosisikan diri sebagai narrator yang serba tahu.  Adapun ketika tokoh melakukan dialog dengan kata-kata, ‘Akhirnya, Jim menghampiriku.  Dia benar-benar suka padaku’, tokoh sedang mengungkapkan dirinya.

  1. Sudut Pandang Orang Pertama: “Aku”

Sudut pandang orang pertama digunakan jika pengarang atau pencerita memerankan diri sebagai tokoh utama atau tokoh tambahan.   Pencerita terlibat dalam cerita.  Berikut saya sampaikan contoh yang saya sambil dari cerpen berjudul Blitz karya Yayuk W.

Perasaan itu jalin menjalin menyatu setiap waktu.  Membuatnya kuat sebagaimana ikatan rotan.  Memberiku keberanian menyampaikan bahwa aku tak bisa hidup tanpa dirinya.  Ia tak berkata apa-apa.  Aku takut sekali karenanya.  Khawatir tiada terkira.  Bagaimana ia akan membenciku setelah itu.  Namun tiba-tiba mawar Dieng itu memelukku erat. 

“Dayu…” hanya kata itu yang menggantung saja di udara.  Aku bersyukur dengan rasa syukur melebihi syukurku ketika bapakku memenangi kontes foto pertamanya.  

  1. Sudut Pandang Orang Kedua: “Kau”

Saya senang menceritakan pada Anda satu contoh cerita dengan sudut pandang orang kedua karya Triskaidekaman pada novel Buku Panduan Matematika.

Kamu merasakan ada yang ganjil dengan dada kiri ibumu ketika ia begitu dekat dengan sisi kanan kepalamu.  Keganjilan yang terlalu kusut antara angka dan kata, sampai tak jelas terpisahkah atau bersatukah mereka.  (Hal: 20)

Pentup

Saya hanya menyampaikan garis besarnya saja.  Secara detail dan mendalam mengenai sudut pandang ini bisa dipelajari dari berbagai sumber.  Pada intinya, efektivitas sudut pandang menuntut kreativitas penulis dalam merancang cerita untuk menyampaikan gagasan, perasaan, serta pesan cerita.  Jika penulis ingin menyampaikan suatu pesan dimana sudut pandang tertentu dirasa lebih menguntungkan, tak jadi soal jika penulis memilih sudut pandang aku sebagai tokoh utama, atau bahkan kamu.

 

Comment