by

Tarian di Atas Kanvas

Semula Kuncoro pikir, karyanya hanya ihwal pertukaran warna-warni dengan rupiah.  Hanya perihal mata pencaharian paling memungkinkan setelah ijazahnya tertolak puluhan perusahan.  Tadinya ia sangka lukisannya tak lebih dari urusan perut.  Namun sejak musim penghujan lalu, setiap sapuan kuas, terasa berbeda.

Pagi ini, sebelum jam dinding berdentang enam kali, ia telah terpekur di depan kanvasnya.  Untuk beberapa waktu, kanvas itu dibiarkannya tetap putih.  Tangan kirinya mengambil tube acrylic berwarna merah menyala.   Kini, jemari kanannya menyelipkan kuas.

Detik berikutnya, kuasnya meliuk.  Warna merah membekas membentuk kurva asimetris.  Setelah mengambil jeda, menarik dua kakinya ke belakang, ia maju.  Tubuhnya bergerak mengikuti irama tangannya.

Jarum jam berdetik memutar.  Seiring waktu, Kuncoro tak lagi menganggap kanvas media melukis belaka.  Ia memperlakukannya sebagai ceruk, tempat ia memadamkan ingar bingar kepala dari riuh rendah dunia.  Kadang dianggapnya kanvas sebagai teluk, tempatnya menumpahkan pahit getir kehidupan.

Lain waktu, ia berimajinasi, kanvas laiknya panggung.  Dialah Sang Penari itu.  Kuas, tatapan, pikiran, dan jiwanya meliuk, memutar, meloncat, melenting, manarikan rindu, harapan, cita, dan cintanya.  Dersik angin laiknya iringan musik.  Bisik dedaun yang bergerak lantaran gesekan ibarat denting lagu klasik.

Tak sesuatupun bahkan cicak-cicak mampu menghentikannya.  Mungkin juga badai!  Hingga sebuah suara melengking tepat di telinganya.

“Ayah Kun!” panggil seorang bocah perempuan berusia 6 tahun.  Rambutnya berombak, dikuncir dua dengan ketinggian berbeda.  Matanya sebesar biji kelereng.  Kilat bening tatapan itu yang mampu mengalihkan Kuncoro mengalihkan kesenangannya.

Sebelum kepala Kuncoro menoleh ke sumber suara, kuasnya bergerak secara kasar ke arah yang tak diinginkannya.  Akibatnya, warna biru muda yang menempel pada kuas, menindih warna coklat.

“Hei!” serunya.

Melihat Sekar, berdiri gamang di ambang pintu, ia melunakkan suara.  “Ada apa, Cantik?”

Senyum Sekar perlahan terbit.  Kaki-kaki mungilnya bergerak mendekati Kuncoro.  “Yah, Sekar laper,” gumamnya.

“Mau Ayah buatkan roti bakar?”

Sekar menggelengkan kepala tiga kali.

“Terus?”

“Brokoli, wortel, bakso, sama jamur, dicampur dikasih bumbu.”

Mata Kuncoro membulat.  Sejurus kemudian keningnya berkerut.  Seperti tengah meminta kesempatan untuk menerjemahkan menu yang diinginkan anak perempuan kecil itu. Ia mengacak-acak rambut ikalnya yang panjang seolah tindakkannya dibenarkan sebagai upaya memutar otak.  Tapi tak.

Sekeras apapun ia berpikir, sekeras itu pikiran lain menghantui.  Sebelum jawaban resep sekumpulan sayur yang diharapkan anaknya, ingatannya berlarian ke masa lali.  Bayangan wanita yang telah melahirkan Sekar datang.  Ratih, nama istrinya.

Belum terhapus kenangan ketika suatu senja Kuncoro duduk di beranda.  Dipandanginya serumpun bougenfil warna-warni yang disusun suka-suka oleh istrinya.  Ratih bukan pelukis seperti dirinya.  Ia hanya wanita biasa yang memilih seorang seniman sebagai teman hidup.  Ratih tak paham gradasi warna.  Namun mampu mewarnai hidup Kuncoro.

Kemudian Ratih melahirkan Sekar.  Kini bukan hanya berwarna, hidup mereka lebih bermakna.  Sekar tumbuh cantik seperti bunga.  Beberapa hari berselang setelah ulang tahun ketiga bocah itu, ibunya tiada.

“Yah!” Sekar memanggil Kuncoro dari lamunan.

“Ah, ya.” Nafas Kuncoro tercekat.

“Laper,” rajuk Sekar.

Kuncoro tersenyum menggoda.  “Kita belanja ke pasar, yuk!”

Sekar melonjak-lonjak.  “Emang Ayah bisa bikin?”

“Gampang!” balas Kuncoro seraya menjentikkan jarinya.  “Tanya google.”

Sekar tertawa.  Ia ingat ucapan Kuncoro saat membuka google map.  “Suara penunjuk jalannya merdu ya, Nak.  Pasti canting deh orangnya seperti mama Sekar.”

Sebelum keduanya keluar, Kuncoro memandang sengkarut goresan dan warna di kanvas.  Seperti peta hidupnya.  Kanvas memang panggung hidupnya.  Lembaran putih yang mampu menampung masa lalu, masa kini, entah masa depan.  Nanti akan dilukisnya juga senyum sekar di kanvas hidupnya.

Comment