by

Terapi Menulis Atasi Stres Kala Pandemi

 

Kita bisa mencoba meluapkan beban pikiran dan perasaan melalui tulisan dengan terapi menulis. Apalagi saat ini, atasi stres kala pandemi..  Tak perlu pikirkan teknik kepenulisan.  Terapi menulis adalah menulis dengan bebas, jujur apa adanya.  Jika dilakukan secara konsisten, lihat, apa yang terjadi pada Anda.

Banyak manfaat yang didapat.  Terapi menulis mampu mengembalikan keseimbangan hidup dengan cara yang mudah lagi murah.  Sekalipun masalah tetap ada, minimal, kita dapat melihat dari perspektif berbeda.  Dengan mengamati perasaan dan pikiran, kita dapat menemukan makna dari pengalaman hidup melalui tulisan.  Efek lanjutnya adalah masalah teratasi dengan caranya sendiri.

Terapi Menulis

Terapi merupakan upaya penyembuhan dan pemulihan diri melalui kekuatan batin dan rohani.  Caranya beragam.  Konsultasi dengan ahli, meditasi, menyibukkan diri, piknik, dan lainnya.  Anda tentu pernah mencoba salah satunya saat mengalami trauma.

Bagaimana jika, sudah memaafkan tapi belum bisa lupa.  Sudah piknik, kepenatan kerja masih juga terasa.  Habis pergi, duit habis, stres lagi.  Mencoba tersenyum, namun trauma masih menyesak di dada.  Karena seringkali, di balik wajah yang dihiasi senyuman tersimpan kecemasan, ketakutan, dan kepenatan.

Sebagian orang dengan kepribadian tertentu akan lebih cocok melakukan terapi dengan cara-cara kreatif dan bernuansa seni seperti menggambar, menyanyi, menari, serta menulis.  Cara terakhir akan kita bahas lebih lanjut.

Anda tidak perlu menjadi penulis profesional untuk dapat menyembuhkan luka.  Tidak perlu menjadi sastrawan apalagi menjadi pendekar syair berdarah untuk lepas dari trauma.  Cukup meluangkan waktu dengan segenap jiwa untuk menulis ekspresif.  Yaitu menuangkan emosi secara mendalam melalui tulisan secara bebas.

Teknik Terapi Menulis

terapi menulis
terapi menulis

Kita bisa menulis apapun yang kita alami.  Tapi akan percuma jika tulisan kita tidak mampu mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.  Teknik berikut bisa diterapkan dalam menulis agar menulis secara efektif mampu menerapi diri.

 

  1. Luangkan

Luangkan waktu khusus, 15 sampai dengan 20 menit per hari selama 4 hari berturut-turut.  Lihat perubahan yang terjadi.  Anda bisa melakukannya di awal pagi atau ketika menutup hari.  Sepulang bekerja atau menjelang tidur.  Pada saat seperti itu biasanya pikiran kita lebih santai.  Tidak terburu-buru.

Berikutnya, luangkan waktu untuk memilih tempat yang tenang dengan mode senyap.  Jauhkan kebisingan supaya fokus dan mampu mendengar suara hati.  Lebih bisa menggali perasaan secara lebih mendalam, mengeksplorasi pikiran secara terbuka.

  1. Lupakan

Lupakan ejaan, tanda baca, maupun tata bahasa.  Kita tidak sedang belajar menjadi editor.  Kita bukan pula peserta lomba menulis artikel.  Kita hanya sedang mencurahkan isi hati melalui tulisan.  Jadi, jangan terbebani dengan teknik penulisan.

Mungkin susunan kalimatmu terbalik, pilihan kata-katamu tidak menarik, paragraf demi paragraf tidak asyik.  Lupakan saja.  Yang terpenting, apa yang Anda rasakan tersampaikan.  Apa yang membuatmu ingin menelan aspirin karena carut marutnya isi kepala tersalurkan.

  1. Luapkan

Luapkan unek-unek, masalah-masalah, serta segala keresahan yang menekan perasaan.  Tulis sedetail yang Anda ingat.  Tuangkan dengan cepat tanpa jeda.  15 menit sehari selama 4 hari berturut-turut saya rasa cukup untuk mencurahkan segalanya.

Namun bukan hanya menulis berulang-ulang tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi.  Ini seperti kita curhat tentang masalah kita pada orang lain.  Lega sesaat, setelah itu kembali lagi dengan perasaan yang sama.  Seperti orang yang membuang sampah dan balik dengan sampah baru.  Lepas masalah tapi kosong.

Itu kenapa saya sepakat menulis untuk terapi lebih mampu memberi ruang untuk memahami masalah secara jelas.  Menulis sendiri tanpa ada interupsi, sehingga dapat menulis bebas, jujur, tidak terpengaruh pendapat orang lain, tidak terbebani pandangan serta komentar orang lain.

  1. Lepaskan

Setelah meluapkan secara deras, lepaskanlah.  Berusahalah ikhlas dengan kejujuran kita.  Mungkin saat itu ada perasaan tak nyaman lantaran setelah menuliskan banyak hal kita menyadari bahwa kita keliru, pola pikir kita salah, secara kontekstual kita punya andil menambah beban diri.  Itulah gunanya menulis.

Tugas kita adalah menulis, seburuk apapun.  Bukan sedang menuliskan daftar kebaikan.  Jadi, lepaskan angan-angan, harapan, perasaan takut, khawatir tulisan buruk, cemas dengan penilaian orang lain.  Lepaskan ego dan keinginan akan pujian.

  1. Lambatkan

Usai menulis dengan kecepatan tertentu.  Sudah saatnya meletakkan pena, pensil, atau menutup laptop.  Duduk dengan tarikan nafas teratur, hembusan pelan dan sebuah ketenangan.  Perlambatan ini mengantar kita pada perenungan.

Merenungi, masalah terasa begitu berat.  Pandangan orang lain, komentar teman terasa begitu menyakitkan.  Hidup selalu penuh cobaan.  Menulis mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.  Lalu kita menemukan gagasan.  Sebuah solusi untuk lebih terbuka terhadap pandangan orang lain.  Artinya tidak memahami bahwa manusia memang punya mulut untuk berkomentar dan punya kepala berbeda untuk memberi pandangan tak sama.  Maka, kita juga punya hak untuk menjalani hidup dengan cara kita.

Melihat kalimat dengan jelas sehingga dapat menemukan definisi dari permasalahanmu.  Misalnya, selama ini banyak tekanan pekerjaan.  Dengan menuliskan banyaknya masalah itu, kamu menemukan sebuah pola.  Ternyata, kerja kurang efektif karena saya sering begadang untuk lembur pekerjaan diluar sehingga pekerjaan kantor berantakan, bikin marah pimpinan,

  1. Lega

Rupanya menuliskan banyak hal secara jujur membuat kita mampu melihat masalah secara keseluruhan.  Lalu kita mereka-reka dari berbagai sudut pandang.  Merefleksi kembali apa yang kita tuliskan.  Terapi menulis mampu mengurai benang kusut pikiran dan perasan kita.  Bahagia akan terpancar dalam setiap tindakan yang kita lakukan seburuk apapun lingkungan.

 

Kesimpulan

Pada dasarnya menulis untuk terapi adalah upaya penyembuhan dengan cara meluapkan emosi negatif melalui tulisan.  Pada proses itu, terjadi pembebasan kesedihan, trauma, pengalihan perhatian, pemicu stress, dan lainnya secara bebas.  Tanpa memikirkan panjang pendek tulisan, ejaan, tata bahasa, juga tanda baca.  Dengan begitu saat melakukan terapi menulis, kita berfokus mengungkapkan pikiran dan perasaan yang membebani bukan malah terbebani oleh teknik kepenulisan.

Meski bebas, menulis untuk terapi tetap harus terukur.  Kenapa?  Karena kita sedang melakukan terapi.  Jika bebas dan hanya dibiarkan, tulisan akan tergeletak tanpa mampu mengubah apapun.  Yang sedih tetap sedih, yang buntu tanpa solusi, yang tadinya sepi tetap tak mendapat pencerahan.

Mestinya, setelah melepaskan emosi baik melalui tinta maupun deretan huruf di layar monitor terjadi pengosongan diri dari trauma, duka, beban hidup, kesedihan, dan banyak gangguan lainnya.  Setelah mengosongkan diri, siap diisi lagi dengan energi baru yang lebih positif.  Kesadaran kita terbarui.  Kepribadian tumbuh menjadi lebih baik lagi.

Penutup

Menulis menjadi salah satu alat terapi bukanlah teknik yang mutlak.  Kita dapat menyesuaikan dan mengombinasikannya sesuai dengan masalah yang dihadapi.  Sehingga tujuan melegakan hati dan mencari solusi dengan terapi bisa tercapai.

Pandemi belum tahu kapan berakhir.  Yang bisa kita lakukan hanya terus menghadapi dengan segala konsekuensi.  Karenanya kita juga harus cerdik dengan perlindungan dan pertahanan diri untuk meningkatkan imun dan kekuatan hati.

Stres hanya memicu penyakit fisik yang lebih berat lagi.  Teknik menulis untuk terapi bisa dicoba demi tumbuhnya kepribadian yang lebih baik lagi, mengubah pola pikir agar siap menghadapi hari-hari.  Takdir menjadi milik Tuhan.  Manusia hanya berusaha dan menjalani.

 

Comment