by

Tujuh Sikap Pendidik untuk Menanamkan Growth Mindset pada Anak-anak

 

Aku mempelajari bahwa orang-orang akan melupakan apa yang Anda katakana, orang-orang akan melupakan apa yang Anda lakukan, tetapi orang-orang tidak akan melupakan perasaan yang Anda timbulkan dalam hati mereka_

Maya Angelou

 

Baik sebgai guru maupun orang tua, salah satu peran kita adalah sebagai pendidik bagi anak-anak.  Kita tak harus menjadi manusia sempurna untuk mencetak anak-anak sesuai harapan kita.  Hanya, kita harus terus menerus belajar sebagai bekal mendidik mereka.

Mungkin kita bukan sarjana pendidikan.  Bisa jadi hanya lulusan sekolah menengah atas.  Memiliki pekerjaan bukan di dunia pendidikan.  Apapun kita, siapapun kita, kita adalah pendidik yang minimal memiliki niat terus belajar.

Inilah pola pikir tumbuh atau istilah asingnya adalah Growth mindset.  Sebelum mendidik anak untuk memiliki pola pikir tumbuh, kita mesti mengawalinya.

Arti Growth Mindset

Annie Brock dalam bukunya The Growth Mindset Play Book mengatakan mindset tumbuh adalah keyakinan bahwa dengan latihan, ketekunan, dan ikhtiar, manusia memiliki potensi tidak terbatas untuk belajar dan berkembang.

Kita sering mendengar istilah Impossible Is Nothing bukan?  Begitulah gambarannya.  Mindset tumbuh tidak merujuk pada kesempurnaan.  Seorang pendidik banyak mengalami kendala di lapangan.  Orang tua sering mendapati anaknya rewel, tidak mau menurut, membangkang bahkan memberontak.  Guru kerap berhadapan dengan anak yang tak menyelesaikan tugasnya, alpa, atau terus ribut di kelas.

Growth Mindset tidak berfokus pada kesalahan anak-anak lalu menghukum mereka alih-alih mengenali akar masalahnya.  Pola pikir tumbuh memiliki ciri melihat dan memperlakukan anak-anak sebagai manusia seutuhnya.  Implikasinya, tak hanya menilai dari apa yang kita lihat, namun mendalami penyebab masalah yang dihadapi anak-anak.  Penggalian ini berfungsi memperlakukan anak sebagaimana mestinya.

 Sikap guru atau orang tua yang berpola pikir tumbuh

Sebelum mengajarkan pola pikir tumbuh, kita harus memahami terlebih dahulu sikap seperti apa yang mengidentifikasi sebagai pendidik dengan pola pikir tumbuh.  Bahkan, tanpa ribut dan sibuk dengan pengajaran, jika kita telah menerapkannya, anak-anak dan siswa akan dengan sendirinya menilai serta meneladani sikap kita.

Berikut tujuh sikap yang harus dimiliki orang tua atau guru:

 

  1. Menunda Kesimpulan, meluaskan wawasan.

Selalu ada yang jadi pusat perhatian.  Tak hanya itu, anak yang diam-diam tapi membangkang, atau yang terus bercuit di kelas tanpa menyelesaikan tugas dengan baik adalah sebuah tantangan.  Menghakimi mereka sebagai bengal memiliki konsekuensi sendiri.  Cap itu akan tertanam bukan hanya dalam alam bawah sadar kita, tetapi juga dalam jiwa anak.

Ketika kita menganggap itu benar, bukan kasih sayang yang tumbuh melainkan rasa benci.  Kita akan menganggap anak tersebut sebagai trouble maker di kelas.  Akibatnya kita akan berakhir dengan mengeluarkan ia dari kelas, menghukum dengan berdiri di depan kelas, atau semangat guru yang melorot ketika akan masuk kelas.  Kelas tidak berjalan efektif.  Dan satu hal, apakah anak tersebut akan berubah sesuai harapan?  Saya yakinkan, yang ditimbulkan dari penghakiman dan hukuman tanpa pertimbangan adalah rasa sakit yang berujung dendam.

Apa yang harus seorang guru lakukan?  Jangan dulu menyimpulkan sebelum melakukan penelitian mendalam.  Tunda memberi keputusan sebelum meluaskan wawasan.  Gali lebih dalam permasalahan hingga ketemu akarnya.  Tak mungkin ada asap kalau tak ada api.  Sikap tertentu yang ditampilkan anak selalu punya sebab.

Berdiskusilah dengan guru lain, dengan orang tua, ajak anak ngobrol daripada langsung memberi penilaian.  Anak mungkin melakukan kesalahan, ketimbang langsung merobek kertas ulangannya yang didominasi merah atau bahkan jawabannya ngawur, ajak diskusi mengapa terjadi seperti itu.

 

  1. Memahami bahwa hidup terus berubah

Sudah saya sampaikan di atas, impossible is nothing.  Riset kecil-kecilan dari obrolan sesame teman guru maupun orang tua akan memberi masukan.  Bisa jadi anak memiliki minat lain atau satu permasalahan yang memerlukan perhatian dan penyelesaian.

Ketika kita mengubah sikap, menghormatinya sebagai manusia, memperlakukannya sebagai individu yang merdeka, kita akan menerima penghormatan sama besarnya dari anak tersebut.  Bahkan perasaan kasih sayang terhadap mereka membuat mereka merasa dipahami.  Bukan tak mungkin ia akan menuruti guru atau orang tua.  Kabar baiknya adalah perubahan sikap, peningkatan kepercayaan diri dan nilai akademik.

 

  1. Mengenali emosi, mengenali diri, dan menjalin hubungan bermakna;

Orang tua maupun guru wajib mengenali emosi diri.  Tujuannya untuk memahami dan mengendalikannya dengan baik sesuai kebutuhan.  Marah juga bukan hal buru, kadang emosi tersebut diperlukan, hanya butuh dikendalikan.

Bagaimana caranya?  Hadapi masalah dengan tenang, kenali, renungkan dan refleksikan dalam tulisan.  Jurnal harian akan membantu kita mengeluarkan unek-unek tanpa mengusik siapapun.  Catatan itu akan menjadi pelajaran penting, untuk mengenali pola-pola kejadian.

Ketika emosi guru atau orang tua terkontrol, sikap yang kita tunjukkan ke anak-anak akan stabil.  Ini akan menumbuhkan kepercayaan mereka pada kita sebagai orang dewasa yang dibutuhkan perlindungan dan dukungannya.

Kepercayaan yang tumbuh dengan baik mengembangkan hubungan yang bermakna.  Asal kita jujur.  Kita bukan manusia sempurna.  Ada kalanya orang tua maupun guru melakukan kesalahan.  Menerima, mengakui, meminta maaf dan memberikan satu solusi ketika kesalahan terjadi akan lebih dihargai anak ketimbang bersikukuh kita benar untuk semua hal.

 

  1. Menyukai tantangan, disiplin, mengatasi rintangan

Orang tua yang memiliki pola pikir tumbuh menyukai hal-hal baru.  Mencoba banyak metode ketika mengajar dan menemukan metode terbaik lebih menarik ketimbang memaksakan satu cara yang dianggap benar.  Alih-alih menjadi ahli, kebosanan anak datang. Kejenuhan kita bisa jadi tak terbendung.

Barangkali, permasalahan kita sendiri juga merupakan sebuah rintangan untuk dengan baik, untuk bersikap dengan bebas.  Guru atau orang tua yang baik tak hanya menyalahkan diri atas pengalaman masa lalu atau kesalahan yang telanjur terjadi.  Namun berusaha keras menerima lalu menjadikannya sebagai tantangan untuk berubah.

Demikian juga persoalan yang dihadapi anak-anak, adalah sesuatu yang juga harus kita hadapi.  Terima dulu bahwa tak semuanya akan berjalan mulus.  Terima juga kegagalan dan jangan berputus asa.  Tak perlu terburu menyelesaikan, beri jeda untuk merenungkan, lalu memulai membuat langkah-langkah kecil tapi terarah untuk menyelesaikan setiap masalah.

 

  1. Inspiratif, bukan sekadar pujian

Beri apresiasi untuk usaha sekecil apapun.  Apresiasi bukan sekadar pujian.  Pujian yang asal bahkan bisa menyesatkan.  Guru yang baik tidak asal memuji namun memberi penilaian jujur tanpa menyakiti.  Menyediakan waktu untuk berdialog lebih bagus daripada menuliskan nilai saja pada lembar jawaban tanpa komentar apapun.

Pembahasan soal, berdialog tentang hambatan yang dihadapi anak, mengapa nilainya turun, mengapa anak-anak bersikap berbeda dengan yang lainnya, akan membuka wawasan kita, membuka hati anak, dan akhirnya menemukan solusi terbaik.

 

  1. Kreatif

Ada seribu jalan ke roma.  Ada seribu jalan menuju hati mereka, anak didik kita.  Ada seribu cara untuk menyampaikan pelajaran agar berkesan dan membekas di benak anak.  Tentu bukan cara menjejalkan terus menerus tanpa pendekatan.

Memahami psikologi anak lalu menerapkan cara-cara kreatif berikut mungkin membantu:

  • Pada awal pertemuan, kebosanan pada satu mata pelajaran, atau untuk mencairkan suasana, dapat dilakukan dengan senam ringan;
  • Cara lain, permainan mengenali emosi. Misal, guru meminta anak menuliskan apa yang disukai, apa yang tidak disukai.  Tulis pada kertas tanpa nama.  Tak perlu memikirkan tanda baca karena hanya akan menunda kejujuran.  Ini seperti menulis jurnal harian, atau mengisi buku harian.  Mengungkapkan pikiran melalui tulisan akan memberikan kelegaan dan kesegaran pada otak kita dan anak-anak;
  • Membaca keras. Membacakan cerita keras-keras dan ekspresif, disamping menyenangkan, kita dapat mengampil hikmat dalam cerita.  Pilih buku bagus yang memiliki visi growth mindset.  Guru atau orang tua dapat belajar pada pendongeng atau dubber!  Kenapa dubber?  Lihatlah, mereka bicara ekspresif dengan mimik sesuai emosi film atau kartun yang dibawakan.  Ketika kita melihat kartun misalnya, kita akan merasa seolah-olah karakter bicara langsung.  Tonton saja cara mereka melakukannya.
  • Banyak cara lain tentu saja. Baca atau tontonlah hal-hal yang bermanfaat dan mendorong mindset tumbuh.  Ikuti seminar-seminar baik offline maupun online.  Bergabunglah bersama komunitas yang baik untuk bisa sharing pengalaman-pengalaman.  Jangan hanya diam di tempat, menikmati apa yang sudah ada.

 

  1. Kegembiraan yang menular

Jika kita tersenyum, bunga-bunga akan tersenyum.  Jika kita gembira, anak-anak akan gembira.  Maka buatlah hati kita senantiasa bahagia.  Kita tak perlu berbohong, namun berusahalan mengatasi permasalahan, bersifat profesional untuk tidak membawa masalah pribadi ke kelas, tidak melampiaskan emosi pada orang lain.  Justru, jadikan anak-anak sebagai sumber penghiburan.

Penutup

Menanamkan mindset tumbuh dalam diri perlu usaha keras.  Yang jelas, kita harus open minded, open heart, dan akhirnya open will.  Buka wawasan, buka hati, lalu jalinlah kebersamaan dan tekad kuat untuk bertumbuh bersama anak-anak.

Jangan pernah lupakan bahwa sebanyak dan sekeras apapun upaya kita, Tuhanlah yang memiliki kekuatan dan tempat kita bergantung.  Ketika kita hanya berharap pada anak-anak, berharap pada motivasi orang lain, kita hanya akan terjebak rasa kecewa saat gagal.  Namun Tuhan akan menolong kita ketika kita hanya berharap kepadaNya.  Ingat, bahwa anak-anak adalah amanah Tuhan untuk kita.

Comment