Zamrud

Jurnal Bebas152 Views

Kalimaya merasa begitu beruntung memiliki suami seperti Zamrud.  Secara fisik, lelaki itu berpostur tinggi, kulih sawo matang yang ditumbuhi rambut membuatnya tampak seksi, bibir tipis, serta tatapan kharismatik.  Secara keseluruhan Kalimaya menyebut lelaki yang telah sewindu menemaninya itu sebagai makhluk artistik. 

Di lain sisi, Kalimaya merasa cocok dengan pemikiran suaminya.  Pembawaan yang riang, cara bicara yang santai namun memberi kesan mendalam.  Perilaku kekanakan yang kadang ditunjukkan membuatnya tampak lucu namun menyenangkan.  Di waktu lain, lelaki itu tampil sebagai pelindung yang memanjakan Kalimaya.

“Mau teh, Dik?”

Saat itu Maya tengah duduk menjulurkan kedua kakinya di gazebo belakang rumah.  Zam datang dengan secangkir teh di tangannya. 

“Kok satu?  Punya Mas Zam, mana?”

Zam tersenyum.  “Secangkir berdua aja.”    

Maya tersipu.  Bukan hanya hidungnya yang kembang kempis.  Zam dapat melihat binar mata Maya berasal dari hati yang berbunga-bunga.  Suasana jadi hangat sekalipun angin malam di wilayah barat laut Banjarnegara cukup dingin. 

“Hhh, aku rindu suara anak.”  Suara Maya lebih terdengar seperti desahan.

Bukan sekali dua kali Zam mendengar kalimat semacam ini.  Dan dia akan menanggapi dengan jawaban yang sama setiap saat.  “Anak-anakmu kan ratusan di sekolah.”

Maya mendesis.  “Mereka tak terlahir dariku.”

“Sama saja, Dik.  Mereka memberi kebahagiaan buatmu, kan?”

“Tapi tidak buatmu!” sergah Maya dengan mata mulai berkaca-kaca.

Zam tahu obrolan mereka akan berujung seperti ini.  Ia kerap menyiapkan jurus-jurus, strategi, merumuskan cara untuk mengembalikan suasana gembira.  “Kamu alasan kebahagiaanku.  Kalau Adik bahagia, aku bahagia,” ucapnya pelan namun penuh tekanan. 

Lelaki itu buru-buru menambahkan.  “Gimana kabar Adin yang gembul dan lucu itu?  Sudah bisa baca?”

Kalau bisa membuat Maya berkisah, tentu suasananya beda.  Wanita itu suka lupa waktu kalau ngobrol bareng temannya.  Sering lupa mematikan air kalau sudah bercerita sama suaminya.  Ia akan bicara penuh ekpsresi saat menceritakan murid-muridnya di sekolah.  Tangannya ikut bergerak.  Yang mendengar seolah melihat langsung apa yang dikatakan Maya.  Maka, menanyakan Adin adalah bagian dari strategi Zam untuk mengalihkan Maya dari kesedihan karena ia belum memberikan Zam seorang bayipun selama delapan tahun pernikahan.

“Adinn???” Maya mengawali kisahnya.  “Kenapa harus Adin yang ditanyakan.  Huh.  Nyaris saja aku jatuh gara-gara anak itu.  Sudah kuupayakan segala cara.  Duduk bersama, dikasih mainan, dikasih jajan biar bisa duduk tenang.  Kukenalkan huruf-huruf perlahan.  Masih saja tak bisa membedakan b dan d.  Kurang apa aku coba?”

Zam tersenyum.  Ia berhasil.  Diulurkan tangannya menyentuh punggung Maya dengan mesra.  “Teruskan, Dik!”

“Bukannya nurut, berterimakasih sama gurunya, ee malah bikin kesel.  Ada saja tingkahnya hari ini.  Lari-lari berkeliling meja di kelas.  Aku mencoba menahan diri.  Tapi aku juga manusia, Mas.  Bisa dibayangkan.  Siang hari, cuaca panas, melihat bocah itu berlarian tak tentu arah.  Di suruh duduk menolak.  Di suruh diem, abai.  Kulemparlah spidol ke papan sampai bunyi glotak!”  Maya menirukan gaya melemparnya tadi dengan menggebu.  “Akhirnya Adin berhenti sebab terkejut.”

Suaminya menarik tangan yang tadi merangkul Maya.  Dahinya berkenyit.  “Minum dulu, Sayang!”

“Nanti.  Belum selesai.”

“Hmmm.  Sabar,” ucap Zam.  “Kuambilkan kue, ya?”

Maya menahan Zamrud.  “Ini bagian yang paling mengesalkan.  Anak itu menjerit.  Menggerung dan berguling di lantai.  Dipanggilnya mamanya.  Mamanya datang sambil marah.  Adin bangkit berlari kea rah mamanya dan menabrakku sampai aku terpental jatuh dan hampir menubruk meja.”

“Hm.”

“Dasar anak-anak!”

Zamrud memalingkan muka tak menanggapi.  Ia mengarahkan pandangan ke arah pohon jambu dua meter di depan gazebo.  Daun-daunnya bergoyang dan ada suara krosak-krosak.  “Kelelawar mulai beraksi.”  Zam bangkit.  Maya memandangnya kesal.  Dua kelelawar terbang. 

“Pantas jambu kita habis.  Kebagian apa yang menanam,” ucap Maya. 

Zam membalikkan tubuhnya dan tersenyum.  “Namanya juga binatang, Dik.  Seperti halnya anak-anak.  Mereka punya keseruannya sendiri.”  Ia menarik tangan Maya dan mengajaknya ke tepi kolam.  Dengan kesabaran, Zam mulai berceloteh tentang ikan-ikan.  Wanita berambut sebahu dengan mata bulat, alis tebal, hidung mancung, itu menyandarkan kepalanya pada Zam.  Di sana ia benar-benar menemukan kedamaian. 

“Apa yang kita miliki, sudah cukup memberi kebahagiaan,” kata Zam lembut.  “Oiya, dua hari lagi aku mengantar Dino mengikuti lomba design batik di Lombok.  Mau dibelikan apa?”

Zam adalah guru Seni SMK Metamorfosa di Banjarnegara.  Ia diberi tugas oleh Kepala Sekolah mengantar muridnya pada Lomba batik  tingkat Nasional di Lombok. 

“Ah!” seru Maya.  “Mutiara Lombok!”

Dalam waktu sepekan, Zam di Lombok.  Selama itu, sehari tiga kali, ia menghubungi Maya.  Melakukan video call tiga kali sehari itu seperti minum obat rindu, katanya.  Maya sering mengatakan Zamrud tak perlu repot-repot.  Ia baik-baik saja.  Cukup pesan whatsapp.  Tapi bagi Zam, itu tak cukup.  Apa saja diceritakannya.  Tentang lomba, tentang keindahan Lombok dan kenalan-kenalan barunya.  Kadang, Zam hanya berdiam memandang Maya dari jauh.

Hari itu Zam belum menelepon.  Maya bolak-balik melihat notifikasi ponselnya.  Tak ada apapun.  Ia memutuskan menghubungi Dino dan mendapat jawaban yang cukup melegakan.

Kadang Maya sampai malu sendiri.  Namun sebenarnya, ia terlalu bahagia.  Seperti saat menyambut kembalinya Zam dari Lombok.  Hari itu menjadi sangat membahagiakan karena selain bertemu dengan lelaki romantis itu, ia tak sabar dengan mutiara Lombok yang memukau.  Zam memberikan gelang mutiara berwarna merah muda dengan penuh hikmat.  Ini momen wow bagi Maya.

Namun sebenarnya, ada satu momen dalam hidup Kalimaya yang membuatnya merasa seperti Mumtaz Mahal.  Jemari tangan kanan dalam genggaman Zamrud, suaminya.  Berjalan dengan langkah-langkah teratur seraya menyapa orang-orang dengan senyum madu serta tatapan berbinar seterang lampu halogen.  Diperkenalkan dengan bangga kepada teman-temannya sebagai istri tercantik di seantero Banjarnegara.  Momen itu bernama : kondangan.

Hari itu Maya mengenakan gaun broklat warna peach, gelang mutiara merah muda saat memenuhi undangan pernikahan putri kepala sekolah suaminya.  Perhelatan akbar itu diadakan di Gedung Indonesia Power pada hari Minggu.  Sudah bukan rahasia lagi bahwa setiap kehadiran adalah pertaruhan harga diri.  Semua pasangan, seluruh undangan tampak sebagai manusia-manusia beruntung yang bahagia.

“Mau makan apa, Dik?” tawar Zamrud pada Maya. 

“Mmm, aku mau sate tanpa nasi.”  Maka Zamrud menemani istrinya ke stand sate.  Mengambil empat tusuk. Dengan satu piring, mereka makan bersama. 

Ketika teman-teman Zamrud memanggil, ia terpaksa meninggalkan istrinya.  Maya tampak menemukan teman bicara.  Tak lama, Maya beranjak ke belakang.  Keluar dari kamar kecil, Maya merapikan riasannya di wastafel panjang.  Seorang wanita tampak masuk dan memperhatikan Maya.  Maya melihatnya dari cermin di atas wasfatel.  Ia berbalik dengan canggung.  Mereka saling tatap. 

Wanita itu tersenyum dan menyapanya.  “Hai!”

Dari tatapan dan sapaan akrab wanita itu, Maya merasa seolah-olah wanita itu mengenal dirinya. 

“Mba Maya, kan?”  Ah, benar juga.  Wanita itu memanggil namanya.

Maya melihat wanita dengan tunik batik berwarna biru itu heran.  Ia mencoba mengingat-ingat.  Sepertinya pernah melihat wanita itu entah secara langsung maupun tidak.  Tapi entah dimana.  Sebanyak ia menggali ingatannya, ia malah semakin bingung.  Lalu tersenyum kikuk.  Maya hanya merasa heran ketika tatapannya menumbuk tangan wanita itu.  Di pergelengan tangan kirinya melingkar mutiara biru muda.  Mutiara Lombok!  Maya dapat mengenalinya.

Tubuh Maya bergetar hebat.  Ketika bibirnya hendak bergerak, wanita itu buru-buru masuk toilet.  Maya belum juga bisa beranjak.  Tapi rasanya tak pantas menunggu wanita itu keluar.  Di luar ia bertemu kembali dengan teman ngobrol sebelumnya. 

“Eh, ketemu lagi.  Em, lihat Savir nggak?” tanya wanita itu.  “Eh, maksudku wanita dengan tunik batik biru, celana hitam, dan bergelang mutiara seperti punya Mbak, cuma warnanya biru.”

“Oh, iya.  Di dalam.”  Maya berlalu dengan kepala dipenuhi keterkejutan. 

Sekembalinya dari kamar kecil dan menemukan dua fakta.  Savir, gelang mutiara biru dari Lombok.  Saat ia menghubungi Dino karena suaminya belum juga menelepon, Dino sempat mengatakan bahwa pak gurunya membeli dua gelang mutiara.  Lalu saat kembali, Zamrud hanya memberikan satu.  Dan yang tak bisa ia pungkiri, di ponsel suaminya ia pernah foto wanita itu yang telah diedit sehingga tampak tak jelas.  Ada tulisan SAVIR di ujungnya.  Semula ia pikir hanya kerjaan iseng suaminya yang sedang mencoba teknik edit foto.  Ah, ia tak berani berpikir macam-macam tentang lelaki romantis itu. 

“Kemana saja?” Zamrud membuyarkan lamunan Maya.  “Ayo pulang!  Sudah malam.”

Sejenak Kalimaya memandang lelaki di depannya dengan ragu.  Lelaki berbatik coklat hitam itu seperti kehilangan nilai artistiknya.  Maya tak tahu harus berkata apa.  Namun sejak acara kondangan itu, jarang sekali ia bicara, apalagi bercerita dengan ekspresif seperti dulu. 

Comment